HARD TO LOVE

2.5K 221 5
                                        

Evelyn—Mama Tian—POV

Saat pertama kali kulihat Tian masuk dengan perempuan itu, aku sedikit terkejut.
Tian bukan lelaki yang ramah pada semua gadis. Hanya pada beberapa orang saja, termasuk Stella, yang kukira mereka akan bisa kujodohkan, tetapi aku sadar, Tian hanya melihat Stella sebagai adiknya.

Lalu pandanganku terarah pada seorang bocah laki-laki.

"Dia anak siapa?" tanyaku.

"Anakku, namanya Evan," jawab Tian enteng.

Anak lelaki ini tak ada miripnya sama sekali dengan Tian ataupun perempuan yang Tian bawa. Tapi dia tampan.

Aku mempunyai dua anak lelaki yang berbeda 360⁰ sifatnya. Gabriel adalah anak pertamaku, Kakak Tian. Walau lebih tua, sikapnya jauh lebih arogan dan mudah marah. Menunjuknya sebagai pewaris Aditama sama dengan bunuh diri, tetapi menunjuk Tian sebagai pewaris juga akan menyebabkan perang dunia.

Christian, anak keduaku yang jauh lebih dewasa, mandiri, bijaksana dari kakaknya.
Dia menyerahkan semua untuk Gabriel dan memulai usahanya sendiri. Tapi Gabriel tak melihat itu, yang dilihat adalah kami berusaha melindungi aset Tian dengan mendirikan perusahaan untuknya.

Maka dari itu mereka tak pernah akur. Gabriel 36 tahun sekarang, aku tak mengharapkan dia menikah, karena kasihan istrinya kelak. Sedangkan Christian 32 tahun, aku mengharapkan cucu darinya dan dia datang dengan calon mantu dan calon cucu.

Aku menghela napas. "Hentikan! Kita di sini untuk makan siang keluarga. Duduklah Tian!" perintahku.

"Terima kasih Ma," jawab Tian sembari mengantar Evan duduk.

Aku mengamati seluruh gerak-gerik Tian pada keluarga kecilnya. Anakku sudah tumbuh sebagai lelaki dewasa.

Di tengah-tengah makan, aku tak melepaskan kesempatan ini untuk bertanya. "Maria, berapa umurmu?" tanyaku.

"Dua puluh satu tahun, Tante," jawabnya.

"Umur Evan?" lanjutku.

"Lima tahun."

Uhuuuuk uhukk

Suamiku tersedak. "Ada apa denganmu?" kataku sambil mengusap punggungnya.

'Jangan bilang kau percaya Evan ini anak mereka,' batinku.

"Ehm. Maaf, lalu apa pekerjaanmu?" Sekarang suamiku yang bertanya.

"Aku membantu mengelola florist." jawab Maria.

"Florist?" tanyaku.

"Satu-satunya florist yang mempunyai daffodil," kata Tian.

"Ah, I see," ucapku sambil tersenyum.

"Lalu, anak tampan ini sudah sekolah?" tanyaku lagi.

Evan sedikit terkejut meletakkan sendoknya, menelan pelan makanannya, lalu menjawab dengan sopan.

"Sudah, kelas TK Besar," sambil tersenyum.

Fix. He is my grandson!

"Aww, manisnya, bisa membaca dan berhitung?" tanya suamiku.

Evan mengangguk, "Bisa membaca dan berhitung sampai 100," jawabnya bangga.

"Kau anak pintar," pujiku.

Kuputuskan untuk menikahkan mereka. Apalagi? sudah terlalu banyak cinta yang mereka tunjukan.

Setelah selesai makan siang, Tian pun berpamitan dan memelukku. "I love you so much," katanya.

Fat Concubine [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang