Bag.8 Sepaket boneka(2)

112 61 33
                                        

Arya menyipitkan matanya, memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar Syana.

Dan benar saja, itu Syana. Terlihat sangat kerepotan membawa dua kantong besar yang sudah dipastikan berisi boneka.

"Gila tu anak, borong boneka gak main-main!" Takjubnya.

Arya segera berlari mendekati gadis itu,

"Sya," Panggil Arya.

Syana yang merasa namanya terpanggil menoleh ke sumber suara,

"iiih ... Arya lama banget sih, susah tau bawa nya!" Omel Syana tiba tiba.

Kenapa gadis ini tiba-tiba mengomel padanya? Arya sangat tak habis pikir, berhadapan dengan makhluk ciptaan tuhan yang di sebut cewek ternyata akan semerepotkan ini.

"Lo kira gue babu lo!" Desis Arya, tetapi tangannya bergerak mengambil salah satu kantong yang di bawa Syana.

Syana hanya menyengir tanpa dosa, menampilakan deretan giginya, "maksudnya, bantuin gue aja gitu. Jangan marah, nanti cepet tua, Arya."

Arya hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya sembari berjalan mengikuti Syana.

"Lo borong boneka apa aja sih? Udah kaya orang mau pindahan aja. Atau, lo punya bisnis jualan boneka, dirumah?" Tanya Arya beruntun.

"Ck ... ini tuh cuma sepaket, dan gak bakal di-ju-al. Ini boneka pisang, limited edition!" jawab Syana mendecak kesal.

Dan, jawaban Syana itu lah yang membuat Arya melongo seolah tak percaya.

"Bentar," Arya menggantung kalimatnya.

"Lo bilang, ini boneka pisang?" Lanjut Arya bertanya dengan wajah tak percaya.

"Iya."

"Sesuka itu, lo sama pisang?" Tanya Arya lagi memastikan.

"Emang kenapa?"

"Lo udah ngalahin kedudukan pisang raja tau gak, Sya," ucap Arya masih tak percaya. Arya merasa takjub dengan gadis ini.

Sefanatik apa gadis itu dengan buah pisang? Mamahnya dulu ngidam monyet?

"Biarin. Mereka lucu tau!"

"Mau gue tunjukin?" Tawar Syana dengan antusias.

Syana berhenti sejenak untuk mengeluarkan salah satu boneka pisang dari wadahnya. Membuat Arya ikut berhenti.

"Nih, lucu kan."

Tunjuk Syana kepada Arya, menunjukan boneka pisang dengan ekspresi yang menurut Syana menggemaskan tetapi terlihat aneh oleh Arya.

"Sejak kapan, pisang punya mata sama gigi kaya kelinci?" Pikir Arya.

Kepala Arya dipenuhi dengan tanda tanya tanda tanya yang berhubungan dengan boneka pisang tersebut. Sangat tak habis pikir, siapakah yang menciptakannya?

"Mereka, kawin silang?" Pikiran Arya seketika dongkol.

Menatap sekantong besar boneka ditangannya, dengan perasaan bergidik.

"Dah yuk, pulang," ajak Syana senang.

Dengan pikiran yang masih berkecamuk perihal boneka pisang, Arya memutuskan berjalan saja mengikuti gadis itu.

Baru beberapa langkah, Arya berhenti. Ia tersadar satu hal.

"Sya," panggil Arya masih berdiri di tempat.

Syana menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Apa?" Tanya Syana menatap Arya.

"Kita nggak bisa bawa semuanya."

Player BUCIN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang