"Hey, gue boleh gabung?"
Semuanya menoleh ke sumber suara, itu Rian. Memasang wajah bersalah dan penuh harap.
Untuk seperkian detik semuanya hening, tidak ada yang menjawab ataupun mempersilahkan untuk duduk.
Syana hanya memutar bola matanya malas melihat kedatangan Rian, tujuan datang ke kantin untuk makan hilang seketika. Ia kehilangan nafsu makan.
Adi menyadarinya, sepertinya ada yang ingin di sampaikan oleh sahabatnya itu. Adi menyenggol lengan Arya yang ada di sebelahnya, memberikan kode anggukan kecil tanda memperbolehkan Rian untuk bergabung.
Arya mengangguk kecil mengiyakan, kemudian menatap Rian kembali, "eh Yan, boleh. Gabung aja sini," Arya menyambutnya dengan ramah.
Wajah Rian terlihat melega, ia tersenyum kecil dan segera mengambil duduk di antara mereka.
Syana yang melihat itu melototkan matanya, ia berdecak "Ck. Ngapain sih, lo bolehin dia duduk sini?!" Tanya Syana kesal setengah berbisik.
Arya menatap Syana, gadis ini masih sangat marah pada Rian rupanya, "udah tenang aja. Kalo dia cari masalah lagi, ntar nggak bakal gue didik lagi, tapi gue ganti bidik dia pake AWM. Gimana?"
Syana memutar bola matanya malas, "Kaya bisa pake AWM aja," cibir Syana. Ia beralih memainkan ponselnya.
Dan Arya hanya memberikan gelengan serta kekehan kecil sebagai respon, setelahnya ia ikut berkutat dengan ponselnya seperti yang lain.
Rian terlihat gelisah, keadaan disini sangat canggung karena perbuatannya. Rian memberanikan diri, ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Eum ... Na, gu ... Gue mau minta maaf sama lo," ucap Rian ragu. Suaranya terdengar lirih.
Arya mendongak, melihat ke temannya yang lain dan tidak ada yang merespon suara barusan.
Sepertinya hanya ia yang mendengarnya, kemudian Arya menoleh ke arah Rian yang duduk disebelahnya.
Arya mendekatkan kepalanya, "Psst ... Lo ngomong sama siapa sih?" Tanya Arya berbisik. Ia bingung, siapa yang di panggil Na oleh sahabatnya ini?
"Gue ngomong sama cewek di depan lo," jawab Rian setengah berbisik, tapi dapat di dengar oleh Syana.
Syana yang sadar akan posisinya yang duduk di depan Arya, mendongak. Sebenarnya ia mendengar samar-samar suara Rian tadi, tapi ia ragu bahwa itu ditujukan untuknya.
Syana meletakkan ponselnya, menatap Rian dengan tatapan tak suka, "makanya, kalo manggil nama orang, jangan di ubah-ubah!"
"Gue yang punya nama, gue sendiri yang bingung jadinya," kesal Syana menyuarakan isi kepalanya.
"Gue cari yang enak buat di sebut aja," jawab Rian merasa tak enak.
Syana memutar bola matanya malas, ia berusaha bersabar, "yaudah, mau ngomong apa?"
Rian menatap Syana sekilas, kemudian menunduk, "Jadi, gu ... Gue mau minta maaf sama lo, Na. Gue sadar gue salah. Nggak seharusnya gue cari pelampiasan dan ngejelek-jelekin sahabat serta pacarnya. Pikiran gu ... Gue terlalu kacau dan dangkal, hati gue terlalu sakit."
Rian berhenti sejenak, nafasnya sedikit tercekat untuk mengakui kesalahannya.
Rian menarik napas panjang, membuangnya perlahan dan bersiap untuk melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.
"Gue akui gue bodoh. Gue nggak bakal ngulangin lagi, dan gue nggak mau di benci sama sahabat gue, apalagi temen yang baru aja gue kenal," ucap Rian mencurahkan seluruh isi hatinya, ia tulus mengucapkan itu semua. Jujur, ia menyesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Player BUCIN
Novela JuvenilPara bucin mendekat! Yang bucin tambah bucin. Yang nggak bucin banyak tutorial bucin. Cowok ngejar cewek? Sudah normal. Cewek ngejar cowok? Oke, sudah banyak. Tapi, bagaimana ceritanya jika sama-sama suka, tapi nggak berani ngungkapin? Dan parahnya...
