Warning
Typo
Selamat membaca***
Apa kau pernah mendengan sebuah ucapan dimana ia mengatakan 'akan indah pada waktunya' awalnya Jimin tidak pernah denial. Tapi setelah yang dialaminya hari ini ia tidak yakin.
Surai itu terbang diterpa angin, namun tidak dengan air matanya yang tetap terjatuh. Menghiasi pipi merahnya namun tidak semerah dulu, ia lebih terlihat tirus dan pucat. Jangan lupakan mata sayu sarat akan kesakitan.
Kehidupan yang harmonis dan membahagiakan saat dulu membuatnya tak pernah memikirkan kehidupan yang menyedihkan seperti saat ini. Ia menyesal tidak mengantisipasinya sejak dulu, dirinya benar benar tidak siap.
Jimin dapat melihat pantulan Seokjin yang tengah terlelap, air matanya kembali mengucur mengingat baru saja ia menyaksikan Seokjin yang meraung menangis, menuduh Jimin sebagai pembunuh dan mencakarnya di bagian tangan. Namun yang ia sakitkan adalah Seokjin yang tiba tiba terjatuh, memeluknya dengan derai air mata dan mengatakan ia akan bertahan untuk anaknya.
Jimin tidak sanggup jika harus lebih lama lagi melihat Seokjin yang tersiksa, Seokjin yang menangis karena ulahnya.
Belum lagi dirinya yang harus menahan sakit setiap pelecehan yang ia terima, dan sampai saat ini ia tidak mengetahui siapa pelakunya. Tidak ada bukti melainkan rasa sakit yang ia tinggalkan.
Surainya kembali melambai, menambah keindahan sang malaikat dengan air mata berkilau dari ujung bulu matanya.
"kau kembali membuatnya menangis hyung, sampai kapan terus seperti ini."
Pria pucat itu menatap nanar kearah sang kakak, ia tidak mengerti jalan fikiran seorang Kim Taehyung.
"sampai dia menerima jika dirinya hanyalah milikku."
"kau terlalu egois, biarkan dia bebas hyung."
"tau apa kau tentang dia, sudah diam dan jangan ikut campur. Lagipula percuma meminta belas kasih terhadap iblis, itu hanyalah pekerjaan yang sia sia."
Yoongi mengalihkan pandangannya kearah langit, menutup mata saat pendengarannya kembali menangkap isakan dan raungan kesakitan dari sana. Sampai kapan kakaknya akan tega menyakiti sang malaikat, jika saja dia memiliki sedikit kekuatan yang melebihi sang kakak, maka ia tidak akan segan menebas leher angsa angkuh tersebut.
'harapanku satu satunya hanyalah pangeran dari bangsa putih, kuharap dia bisa merebut Jimin dari tangan Kim Taehyung'
~~~
Jungkook menutup matanya perlahan, ia menhembuskan nafas beriringan dengan maniknya yang terbuka dan menatap cahaya senja.
"apa aku mampu, atau aku akan kembali gagal."
Flashback
Mata bulat itu tak hentinya mengeluarkan air mata, ia menjerit kala melihat sang adik tengah meregang nyawa dibalik kemudi. Darah mengalir segar dari pelipisnya, pemuda itu tidak mempedulikan apapun dan berlari kearah Jeon Jimin sang adik.
"hyung, k-kau menangis"
Tangan mungil itu mengusap pipi sang kakak yang semakin terisak. Diusia dua belas tahun Jungkook belum mengetahui tindakan apa yang harus ia lakukan saat itu, apalagi dua orang yang berperan sebagai kedua orang tuanya juga sama sama sekarat.
"tidak Jimin ah, jangan tinggalkan aku."
"j-jimin tidak akan kemana mana hyung."
Jimin tersenyum dan mengusap surai sang kakak, matanya berubah sayu meski senyuman manis tersampir di bibir tebalnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
NIGHTMARE (BlackSwan)[END]
FanfictionVMin Story [COMPLETED] "malam ini aku akan menjemputmu, angsa hitamku yang nakal" bagaikan sebuah mimpi buruk, ia dihadapkan dengan sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Jimin, pria mungil itu harus menerima resiko yang sudah diambil oleh kedu...