Warning
Typo
Happy Reading
***
Ada sebuah penyesalan mengganjal dihati seorang Park Jimin. Ia yang selalu terlambat menyadari kenyataan sehingga berakibat pada orang orang tersayangnya yang kini telah tiada. Sejak dulu Jimin selalu bersusah payah membangun keinginan untuk terlahir kembali kedunia, harapan untuk melihat setiap senyuman dari orang terdekat kembali pupus saat disadarkan dengan takdir.
Takdir yang mengikatkan pada seorang iblis tanpa hati, tanpa belas kasih dan penuh amarah. Jimin pernah mencoba menerima takdir itu dengan lapang dada, ia menguatkan hati kala tubuhnya dikoyak dengan keji, menjatuhkannya kedunia gelap, menegak cairan dosa dan menikmati setiap sentuhan penuh nafsu.
Ia pernah menjadi seorang pendosa karena sejatinya darah iblis mengalir pekat didalam tubuhnya, menciptakan dendam dan amarah yang memenuhi sorot matanya.
Tapi tahukah saat ia terjatuh dan menyesali perbuatannya, memandang kasihan pada orang orang yang berstatus sebagai korban. Perasaan bersalah memenuhi ruang kosong dikepalanya. Jika ia ditakdirkan untuk seorang iblis lalu mengapa ia punya perasaan simpati.
Sorot mata yang terpancar penuh kasih sayang melemahkan sisi gelapnya dan membiarkan sosok itu tertidur. Menjadikan warna biru terang terpancar indah dari sorot mata Park Jimin.
Sebenarnya Jimin itu apa?
Kenapa ada dua sisi yang berlainan yang tampak saling membenci namun enggan untuk saling menjauh. Kepalanya sakit sungguh.
Gelas kelima telah ditegak habis, minuman beraroma pekat itu tidak mengganggu si mungil yang nampak melempar pandangan kosong. Surai yang menutupi dahi ia biarkan, tampak kacau akibat kegiatan para jalang yang dengan kurang ajar menariknya, mencumbunya dan berakhir dengan ia yang mendorong jauh jalang itu.
Bagaimanapun Jimin laki laki, kenapa para kauh hawa itu malah mendominasi dan berkesan seperti ingin memperkosanya.
"aku terlambat sialan, kenapa iblis itu selalu mempermainkanku. Hiik."
Jimin berjalan dengan sempoyongan, keluar dari bar dengan tujuan mobilnya. Bagaimanapun juga ia harus memastikan keadaan sang ibu, ia tidak ingin terjadi hal mengerikan menimpanya.
Sepanjang perjalanan bayangan mimpi itu selalu menghantuinya, pantas saja ia tidak merasa asing dengan sentuhan itu. Suara bariton yang mengganggu gendang telinga ia yakini berasal dari pangeran hitam.
"Kim Taehyung sialan."
~~~
"tuan tampaknya Jimin sudah menyadarinya, apa tindakanmu selanjutnya."
"bukankah itu bagus Hoseok ah, aku akan mendapatkan pelayanan erotis setelah ini."
Taehyung melangkahkan kakinya keloteng, ia memandang langit yang tampak menyembunyikan para bintang. Ia tersenyum puas, sepertinya langit mengerti isi hatinya. Ia begitu menyukai sesuatu yang polos tanpa pengganggu sedikitpun.
Sedangkan Jeon Jungkook ditempat lain tengah terpatung memandang langit, sepertinya pangeran putih itu benar benar bersedih. Apakah dirinya akan turun tangan langsung, mengingat kegagalan yang selalu diperbuatnya.
"Jungkook?"
Suara lembut mengalun menyapa gendang telinga, pemuda kelinci itu berbalik dan tersenyum kala mendapati si mungil tengah memandangnya heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIGHTMARE (BlackSwan)[END]
FanfictionVMin Story [COMPLETED] "malam ini aku akan menjemputmu, angsa hitamku yang nakal" bagaikan sebuah mimpi buruk, ia dihadapkan dengan sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Jimin, pria mungil itu harus menerima resiko yang sudah diambil oleh kedu...
![NIGHTMARE (BlackSwan)[END]](https://img.wattpad.com/cover/215515547-64-k965823.jpg)