Jeon Jungkook si angsa putih

2.1K 211 19
                                        

   warn   ⚠️
Typo

Kalimat membingungkan. 😋




  "enggh ahh, hikss.."

Jimin terus menangis dan meronta seakan ia tenggelam dan kesakitan. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya, namun ia benar benar tak bisa membuka mata. Sungguh rasanya sangat sakit dan perih, tubuhnya seakan dikoyak dan terbelah menjadi dua. Entahlah, ia benar benar tak tau apa yang tengah terjadi.

"Jimin ah sayang, bangun sayang. Ada Eomma, gwenchana"

Jimin membuka mata dan mendapati Seokjin yang tengah memeluknya dengan raut khawatir, ia terus mengusap punggung Jimin agar lebih tenang.

"Hikss Eomma, s-sakit hikss..rasanya sakit sekali"

Jimin memeluk erat dan tak mau melepaskan pelukannya, ia terus menangis dan mengeluh sakit. Seokjin yang tak tahu apa yang baru saja menimpa anaknya hanya bisa membisikan kata kata penenang dan terus memeluknya erat.

Jam menunjuk pukul sepuluh siang, seseorang menekan bel yang ternyata ia adalah Jeon Jungkook yang membawa beberapa kantong makanan dan buah buahan.

"halo Seokjin eomma, apa Jiminnya ada? Kudengar dia tidak masuk kerja karena sakit."

"oh Jungkook, ayo masuk nak. Sepertinya anak itu kelelahan. Mau minum apa, nanti eomma buatkan."

Jungkook mengibaskan tangannya.

"tak perlu repot eomma, aku hanya ingin bertemu dengan Jimin hyung."

"baiklah"

Seokjin mengantarkan Jungkook kekamar anaknya. Jimin masih tertidur dan bergelung dengan selimutnya, dengan wajah penuh peluh dan ekspresi menahan sakit.

Seokjin meninggalkan mereka berdua. Jungkook menghampiri Jimin dan duduk ditepian ranjang, merasa tersiksa saat melihat orang yang ia sayangi tengah menahan rasa sakit. Ia mendekatkan dirinya dan mengusap Jimin, membisikan sesuatu untuk menenangkan si mungil yang tampak gelisah.

"Jimin hyung, tenang aku ada disini."

Ia merengkuh si mungil, mengusap punggung dan mengecup pucuk kepalanya. Biarkan ia seperti ini sebentar saja, dia sangat merindukan Jimin hyungnya. Meski mereka sering bertemu, entahlah perasaan rindu itu justru semakin membuncah. Rasa tak ingin kehilangan mendominasi hingga butiran bening mengalir dikedua pipinya, tak apa disebut cengeng. Jelasnya ia sangat menyayangi Jimin.

Si mungil perlahan membuka mata, ia menyunggingkan senyum meski dengan susah payah. Tubuhnya terasa remuk, bergerak saja sangat menyakitkan.

"J-Jungkookieh, kau disini?"

Jungkook mendongak, tangannya perlahan mengusap pipi Jimin yang terasa sangat lembut.

"ne hyung. Aku akan menemanimu."

Jimin menduselkan wajahnya dipelukan Jungkook, entahlah biasanya ia selalu menolak perlakuan seperti ini. Karena ia selalu beranggapan jika dirinya bukanlah anak kecil. Namun sekarang ini, dirasanya ia sangat membutuhkannya. Rasanya begitu aman dan nyaman.

Tak terasa ia menangis, entahlah ia sangat rindu adik kecilnya. Ia sangat menrindukan Jungkookienya, padahal dia selalu bertemu dan bersama. Tapi rasanya begitu jauh, atau rasanya akan menjauh.

     Jungkook yang merasakan punggung hyungnya yang bergetar segera mengeratkan pelukannya. Ia terus membisikan kata kata penenang, sepertinya ia juga ingin menangis. Tapi ia tak mau terlihat lemah dihadapan hyung tercintanya.

Satu jam berlalu mereka terus berpelukan, sampai Jimin akhirnya dapat tertidur dengan tenang. Nafasnya kini berhembus secara teratur, jejak air mata dipipinya diusap pelan oleh Jungkook yang kini terfokus memandang wajah hyungnya yang sangat manis. Ia sedikit berdehem karena terlalu fokus, matanya ditutup sejenak. Menarik nafas dalam dalam hingga pandangannya terjatuh pada bibir Jimin yang nampak kemerahan.

NIGHTMARE (BlackSwan)[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang