Warning!!!!
Cerita ini diperuntukan Jikook shipper. Buat kalian yang vmin dan gak kuat buat baca skip aja karena tidak terlalu berpengaruh pada cerita inti.
Ini hanya sedikit drabel untuk Jikook stan yang tersakiti, Terima Kasih..
____________
Jungkook merasakan pergerakan labium tebal itu, hatinya berkecamuk antara perasaan senang dan sedih bersamaan. Jimin seperti mengalirkan kesedihannya secara penuh, mengiris hati sang pangeran dengan keji saat melihat air mata mengalir dari pelupuk si mungil. Ia merasakan tubuh ringkih itu bergerak dengan pelan, merengkuh pundak sang pangeran dengan perasaan tak ingin kehilangan. Menarik ciuman agar lebih dalam, saling mengecap saliva bahkan meski rasanya asin karena bercampur air mata.
Bahu sempit itu bergetar, begitupun bibir yang mencebik menyebabkan pertautan itu lepas begitu saja.
"apa pangeran tidak merindukanku?"
Kembali liquid bening mengalir dengan erotis, menciptakan cahaya saat ia mengalir dipipi gembil itu karena tertimpa cahaya yang mengintip dari arah dapur.
Benar lampu diruangan itu mati entah apa sebabnya, pandangan Jimin hanya menangkap siluet pria dengan sayap yang tiba tiba mengembang. Tapi dirinya tidak asing dengan sentuhan pria itu, sangat lembut dan nyaman.
Dirasakannya kembali usapan dari pria itu, pipinya merona samar. Hal itu dapat diterka dari wajahnya yang terasa memanas. Ia merasakan usapan itu merambat kearah punggungnya, sentuhan kupu kupu. Membuatnya begitu geli dan menggeliat tidak nyaman.
"Jiminie, aku juga merindukanmu."
Bisikan lembut dengan nafas hangat menerpa cuping telinga Jimin, ia meremang saat dirasa nafas pria itu mendekat kearah leher.
Jimin benar benar tercekat saat merasakan hisapan lembut ditelinga kirinya, nafasnya tiba tiba tersenggal begitu saja.
Dia mabuk akan perlakuan manis dari pria dihadapannya. Setelah beberapa hisapan ditelinga, pria itu mengalihkan ciumannya kearah leher dengan penuh kehati hatian. Ia memperlakukan Jimin seperti benda yang paling rapuh dan patut dilindungi.
"kau benar benar pangeran Jungkook bukan?"
Jungkook menegang dengan ucapan pria mungil dihadapannya, ia seperti terhipnotis dan mengingatkannya pada masa masa dulu. Dimana Jimin yang selalu tersenyum menunggu kedatangannya dengan eksperimen rasa teh yang bermacam macam. Dibalut hanbok yang tampak begitu manis.
Jungkook kembali memandang Jimin yang tengah menatapnya sayu, Jimin tidak pernah berubah. Jimin adalah kesayangannya yang dulu.
Pangeran angsa itu kembali mengecap bibir yang ia yakin berperisa cherry karena terasa begitu manis. Tangannya dengan segera membuka kameja si mungil, perlahan namun pasti.
Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher si mungil saat pagutannya terlepas. Feromon yang begitu menenangkan menusuk indra penciumannya, menimbulkan eufhoria yang berbeda dihatinya.
"Jimin bolehkah?"
Jimin mengangguk lemah, ia memperhatikan pria yang mengukungnya tengah menghisap tonjolan yang sedari tadi menegang. Penuh kelembutan namun begitu memabukan.
"ahh."
Si mungil meremat rambut bagian belakang Jungkook, ia seperti menyalurkan perasaan nikmat dan semakin menekan kepala itu agar lebih dalam.
Kepalanya mendongak menikmati setiap sentuhan.
Kameja dipundaknya melorot, mengekspos bahu mulus yang tampak begitu indah. Jungkook menghirup bahu itu dalam.
Jimin yang sedikit tersadar segera menarik kain putih yang membalut sang pangeran. Membukanya dengan brutal sebelum tangan bantetnya ditahan.
"biar aku saja Jiminie."
KAMU SEDANG MEMBACA
NIGHTMARE (BlackSwan)[END]
FanfictionVMin Story [COMPLETED] "malam ini aku akan menjemputmu, angsa hitamku yang nakal" bagaikan sebuah mimpi buruk, ia dihadapkan dengan sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Jimin, pria mungil itu harus menerima resiko yang sudah diambil oleh kedu...
![NIGHTMARE (BlackSwan)[END]](https://img.wattpad.com/cover/215515547-64-k965823.jpg)