Warning
Typo
Happy Reading***
Min Yoongi kembali terheran heran saat melihat sang kakak yang terus saja memegangi dadanya. Ia dapat melihat kerutan didahi yang menunjukan jika kakaknya itu tengah menahan rasa sakit.
"Kim Taehyung. Ada apa denganmu?"
Taehyung tidak menggubris pertanyaan bocah itu, ia mengepalkan tangan dan kembali mengeram saat dirasa panas menjalar disekitar tubuhnya.
Ia sedikit berfikir apakah ini efek dari sifat keras kepalanya yang menginginkan telur cantik itu menetas.Ia mengakui ada sedikit ketakutan yang dirasakan sosok didalamnya, ia seperti terbelenggu sesuatu. Hal seperti itu justru membuat Taehyung penasaran dan membujuk sosok itu untuk keluar melihat dunia. Taehyung menyadari jika perbuatannya telah menguras habis energi yang dimilikinya.
Namun setelah melihat sosok itu ia justru merasa puas dan senang.Hanya saja kesenangan itu hanya sementara, ia mengeratkan giginya mengingat bagaimana belahan jiwa yang baru saja ia tandai justru dibawa pergi oleh orang asing. Saat itu keadaan dirinya teramat begitu lemah sehingga tidak mampu melakukan perlawanan.
Namun saat ini ia merasa sangat siap untuk kembali menjemput sosok itu, dengan tekad yang bulat dan berbekal kekuatan yang sudah meningkat ia memutuskan pergi ke negri angsa putih dan sedikit membuat keributan disana.
Taehyung tidak mempedulikan rengekan Min Yoongi yang menawarkan bantuan, ia tahu maksud terselubung dari sang adik yang begitu memuja pangeran di sebrang sana. Pangeran angsa yang menurutnya lebih mirip seperti seekor kelinci.
Perlahan Taehyung membuat keributan di desa desa kecil, ia menunggu respon dari kerajaan dan bermaksud mengecoh mereka. Dengan ogah ogahan ia mengambil beberapa bahan makanan dan merusak lumbung padi disana. Hingga senyum kotaknya terlihat saat dirasa salah satu warga berlari hendak melapor keadaan didesanya.
Taehyung dapat melihat seseorang yang tidak asing dengan jubah hitam lusuh menutupi tubuhnya, ia fikir kelinci itu terlalu baik sehingga memutuskan turun tangan langsung hanya untuk mengurus rakyat kecil. Atau mungkin tepatnya terlalu bodoh karena meninggalkan sosok istimewa di sebuah bilik dekat istana tanpa adanya pengawasan.
Ia tampak cantik dengan hanbok yang menutupi tubuh putihnya, Taehyung takjub saat melihat manik biru cerah itu menampakan binar kala melihat bulu hitam terjatuh dari atap rumahnya.
Sial, itu bukan murni keinginan Taehyung. Ia hanya tidak sengaja menjatuhkan bulunya karena entah mengapa akhir akhir ini rontok. Padahal usianya saat ini masih sangat muda.
Jimin membawa bulu itu masuk kedalam bilik kayu sederhana itu, ia menyimpan bulu di atas meja dan berlari kedapur untuk mengambil cangkir dan teko berisi teh hangat.
Dapat dilihat senyum manis itu selalu tersungging di bibir tebalnya. Taehyung sedikit menahan nafas kala melihat pria mungil itu mengigit bibir bawahnya hingga berubah kemerahan."Jungkookie pasti senang jika aku menyiapkan ini saat dia pulang."
Tidak denial, Taehyung dapat mendengar jelas gumaman belahan jiwanya. Jujur saja hatinya terasa ditusuk duri merah yang selalu menghalangi langkah orang orang saat melintasi jalan berumput. Hanya saja ia tidak merasakan gatal setelahnya.
Ia mengeritkan giginya geram, bagaimana sang pangeran angsa putih yang terkenal berbudi baik justru dengan lancangnya mengambil hak orang lain. Bahkan dia sudah menginfansi isi hati dari pria mungil itu untuk dirinya sendiri.
Taehyung turun dari tempat persembunyiannya. Ia tidak ingin merelakan begitu saja yang sudah menjadi miliknya, ia bahkan menjadi orang pertama yang menandai sosok itu. Bukankah dia lebih berhak?
Dengan langkah mantap Taehyung mendekati Park Jimin, tangan besar itu hendak meraih pundak sosok manis itu sebelum ia dikejutkan dengan senyuman yang dilempar pemuda itu yang tiba tiba membalik tubuhnya.
"Kookie kau sudah pulang? Kemarilah aku membuatkan teh untukmu."
Jimin memperhatikan pemuda dihadapannya yang tengah menyeruput seduhan daun beserta remasan lemon disana. Ia menatap penuh binar dan menunggu respon darinya. Namun hal yang pertama ia dengar tidak sesuai dengan perkiraanya.
"ini enak sayang, terima kasih."
Pemuda mungil itu mengerutkan dahinya, selain harapan saat pangeran itu bertanya tentang rasa baru dari teh buatannya adalah panggilan sayang yang secara tiba tiba.
Seketika rona dipipinya menjalar hingga ketelinga, ia menundukan kepala dan tersenyum malu.Taehyung tidak dapat menahan hasratnya, dengan dirinya berwujud orang itu. Bukankah sudah cukup untuk tidak membuat si mungil itu terkejut dan kecewa. Kenapa perasaanya begitu sakit dan melow. Tidak Taehyung sama sekali.
"Jimin ah, bolehkan aku bicara sesuatu denganmu?"
Jimin mendongakan kepala dan mengangguk patuh, ia mengikuti pemuda dihadapannya menuju ranjang kayu dipojok ruangan tersebut.
Jangan heran Taehyung mengetahui nama pemuda mungil itu, bukankah semenjak dulu ia terus memantau belahan jiwanya.
"kau tahu jika aku adalah putra seorang raja?"
Jimin mengangguk.
"lalu kau adalah seseorang yang harus selalu patuh terhadap titah dari keluarga raja, bukan begitu Jimin ah?"
Jimin kembali mengangguk, ia sedikit meremat ujung hanbok yang dipakainya.
"kalau begitu layani aku."
Jimin terkesiap, ia tidak bodoh dengan maksud dari kata kata pangeran itu. Ia pernah mencuri dengar dari selir raja tentang bagaimana ia melayani sang raja untuk melahirkan telur telur generasi kerajaan.
Mereka membicarakan bagaimana sang raja dengan gagah memperlakukan mereka diatas ranjang.Seketika pipi Jimin merona dengan hebat beriringan dengan bibirnya yang bergetar.
Ia mencoba mengigit bibir bawahnya dengan harapan dapat mengurangi rasa gugup yang menggerayangi seluruh tubuhnya.Jimin dapat merasakan sentuhan kupu kupu di area punggungnya, namun sentuhan itu tak ayal membuatnya merasa geli dan menggeliat tidak nyaman. Dapat ia lihat kabut nafsu dari manik kelam sang pangeran.
Namun Jimin sedikit termenung saat melihat sorot berbeda dari manik itu, ia hanya dapat melihat sorot nafsu, amarah dan rasa benci terselubung disana. Sorot tulus yang biasa ia lihat hilang entah kemana.
Jimin terpaku di tempat, sedikit mencerna apa yang tengah terjadi. Namun ia kembali tenggelam karena sentuhan sensual diarena dadanya. Seketika kaki kaki yang menjadi tumpuannya terasa lemas. Dapat ia rasakan tubuhnya yang diangkat dan ditempatkan dipangkuan yang lebih besar. Membiarkan sang dominan terus mengecap labium tebalnya dan menjelajahi rongga mulutnya.
Ada sesuatu yang mencoba muncul kepermukaan, dimana rasa ingin disentuh terus menerus. Manik biru cerah itu perlahan berubah merah berkilat.
Jimin menangkup rahang sang dominan dan membalas ciumannya. Ia mengendus leher sang pangeran dan menghembuskan nafas hangat disana. Hingga tiba dimana ciumannya berada dibawah telinga sang pangeran. Jimin menyesap, mengigit dan berakhir dengan jilatan sebelum tangannya dicekal dan dijauhkan dari tubuh sang pangeran.
Taehyung dapat melihat kilatan nafsu dari pemuda dihadapannya, ia menunjukan smirk dan membanting si mungil keatas dipan dengan tangan yang terus berusaha membuka kain pembungkus tubuh itu.
"kau mulai nakal Jiminie."
Jimin memekik saat dirasa Taehyung menyesap dan menggigit tonjolan diatas dadanya yang baru saja mencuat. Ia memejamkan matanya dengan erat, menikmati sensasi terbaru yang ia rasakan.
Sendangkan kedua orang itu tidak menyadari kalung yang terpampang apik dileher si mungil mengeluarkan cahaya yang begitu ketara.
'garis takdir telah ditentukan'
Tbc
A/N
Huaa sebenarnya saya paling tidak bisa menceritakan tentang kerajaan. Jadi tolong terima seadanya ya. Kalau ada yang tidak masuk akal mohon dimaklumi.
Gatel banget pengen ngepublish
Sekian
Love u all
Alien

KAMU SEDANG MEMBACA
NIGHTMARE (BlackSwan)[END]
FanfictionVMin Story [COMPLETED] "malam ini aku akan menjemputmu, angsa hitamku yang nakal" bagaikan sebuah mimpi buruk, ia dihadapkan dengan sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Jimin, pria mungil itu harus menerima resiko yang sudah diambil oleh kedu...