Warning 🔞
Typo
Selamat membaca***
Tangan mungil itu masih setia menyuapkan bubur pada sang ibu yang menatap kosong dari arah balkon. Benar mereka sudah ada dirumah setelah dokter mengijinkan sang ibu untuk pulang dengan syarat jangan terlalu membebani fikirannya.
Sesekali Jimin mengusap air mata yang mengalir begitu saja, merasa sangat sakit saat sang ibu menyadari kehadirannya dan meneriakinya sebagai seorang pembunuh.
Sampai kapan ia harus melihat sang ibu seperti ini, hatinya teriris saat melihat satu satunya orang yang ia miliki begitu menderita. Apa kesalahan yang pernah ia perbuat hingga orang orang terdekatnya harus merasakan hal yang mengerikan.
Mengapa harus menimpa orang lain, mengapa tidak dirinya sendiri.
"Jimin ah kau juga harus segera makan sayang."
Jimin dapat merasakan sebuah tangan melingkar dipinggang rampingnya. Ia menghembuskan nafas perlahan dan menolehkan kepalanya, mendapati pahatan sempurna dengan mata legam yang tampak begitu kelam.
"apa kau juga sudah makan Taehyung ah?"
Taehyung mengangguk pelan, ia mengeratkan pelukannya dan mencium ceruk leher si mungil.
"apa Jungkook sudah pulang?"
"sudah sayang, katanya ada beberapa tugas yang harus ia tuntaskan."
Jimin mengangguk faham, ia melepas pelukan itu dan memapah Seokjin keatas ranjang. Menyelimutinya dan mengecup dalam dahi sang ibu.
"segeralah sembuh eomma, Jimin merindukanmu."
Tidak ada respon melainkan hanya matanya yang menatap tajam kearah Taehyung. Sayangnya Jimin tidak menyadari itu dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Seketika bulu bulu hitam beterbangan, Seokjin tampak panik dan menarik rambutnya prustasi. Mencakar apa saja yang bisa ia raih.
"seharusnya kau tidak perlu mendengarkan pak tua itu. Tenang Jimin akan aman bersamaku."
Taehyung menutup ruangan itu hati hati, ia mengekori Jimin dari belakang.
"apa semua ini kau yang masak?"
Taehyung menggeleng pelan.
"Jungkook yang masak semua ini."
"ah sudah kuduga, dia memang pemuda yang mengagumkan. Meskipun usianya masih sangat muda tapi dia multitalenta."
Ekspresi wajah itu mengeras, ia tidak suka saat miliknya justru memuji orang lain. Bibirnya tampak menyunggingkan seringai, lihatlah apa yang akan ia lakukan nanti malam. Tentu saja akan sangat menyakitkan.
Jungkook mengedarkan pandangannya kearah sekeliling kafe, ia menyantap kue red velvet beserta beberapa macaron disana. Tidak lupa ice americano yang menjadi pavoritnya saat ini.
Tangan lainnya sibuk dengan buku yang ia bolak balik sedari tadi, keningnya berkerut karena tidak faham dengan isi buku tersebut.
Jika karena penjelasan yang sulit itu sangat tidak tepat, melainkan tulisan asing yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Bahkan ia sempat mencari di internet jenis tulisan apa itu, namun hasilnya nihil.Hatinya terus bimbang dan bertanya tanya, sebenarnya dari mana pria asing itu berasal. Mengapa rasanya tidak asing baginya, dimana ia pernah menemukan orang itu.
Omong omong Jungkook menemukan buku itu terjatuh dari tas Taehyung, ia segera menyembunyikannya karena buku itu terlihat mencurigakan. Tapi saat ini ia bingung karena tidak mengerti sama sekali isi dari buku itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
NIGHTMARE (BlackSwan)[END]
FanficVMin Story [COMPLETED] "malam ini aku akan menjemputmu, angsa hitamku yang nakal" bagaikan sebuah mimpi buruk, ia dihadapkan dengan sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Jimin, pria mungil itu harus menerima resiko yang sudah diambil oleh kedu...