Dua Puluh

35 3 1
                                        

selamat membaca:)
jangan lupa vote dan komennya ya✨
Biar makin semangat nulisnya:)❤️

....

Bulan menampakkan dirinya memberi penerangan untuk alam. Kini aku berada di balkon kamarku duduk bersandar di sebuah bangku sambil menikmati cerahnya langit dan isinya. Dengan pikiran yang entah sedang memikirkan apa, tapi rasanya sangat berat untuk di pikirkan. Satu persatu maslah mulai mengusik masuk ke dalam pikiranku. Mulai dari Reza yang semakin hari semakin hilang kabar dan juga Rizki yang kondisinya semakin melemah.

"Anak ibu sedang melamuni apa sih?" ujar ibuku yang sudah berada di sampingku. Karna terlalu serius pada pikiranku sendiri, bahkan aku sampai tidak sadar kalau ada yang masuk ke kamarku.

"Tidak apa Bu," jawabku singkat.

"Bagaimana dengan kondisinya Rizki, Zii? Apa makin membaik?"

Aku tertunduk lesu mendengar pertanyaan Ibu. "Makin melemah bu, bahkan kemoteraphy tidak bisa membantu menghilangkan sel kankernya, sudah terlanjur ganas," jelasku dengan lirih.

"Bu, bagaimana kalau Rizki pergi? Bagaimana kalau dia..." aku tidak sanggup melanjutkan kemungkinan terburuk yang berada di dalam pikiranku.

"Zii, kamu tidak boleh berfikiran seperti itu. Kamu harus yakin kalau dia bisa sembuh, di sini cuman kamu dan juga bundanya yang dia jadikan sebagai sumber kekuatannya untuk bertahan melawan penyakit yang dia derita. Kalau kamu saja lemah, bagaimana bisa kamu menjadikan dia kuat?" tutur Ibuku.

"Kamu harus yakin kalau dia bisa, kamu harus bantu dia untuk kembali bangkit menjadi dia yang seperti dulu. Ibu yakin kalau kamu merindukannya, maka dari itu kamu harus menjadi sumber tenaga buat dia semangat supaya bisa melewati semuanya," lanjut ibuku.

Benar juga apa yang dikatakan ibu. Kalau aku saja lemah, bagaimana bisa aku menjadikan dia untuk kembali kuat menghadapi semuanya. Harusnya aku tidak seperti ini, harusnya aku bisa berfikir positif tentang hal yang akan terjadi pada dirinya.

Aku berdiri dan dengan cepat aku memeluk ibuku. Aku menumpahkan segala tangisku di sana, lega sekali rasaya ketika menangis di dalam dekapan seorang ibu. "Tumpahkan saja di sini Zii, jangan sesekali kamu menumpahkan di hadapannya, sebab itu yang akan membuatnya merasa lemah karna telah membuatmu menangis," pungkas Ibuku.

Setelah tangisku mereda, aku melepaskan pelukannya secara perlahan. Ibu menghapus kedua air mata yang tersisa di pipiku dengan kedua ibu jarinya. "Terima kasih Bu," ucapku.

"Sama-sama Zii, jangan sungkan untuk cerita ke ibu apapun masalah kamu. Siapa tau ibu bisa membantumu."

Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Satu masalah sudah teringankan, tetapi masih saja terasa ada yang mengganjal.

"Bu, Zii mau cerita satu hal lagi," gumamku pelan.

"Bahkan kamu mau cerita seribu hal pun akan ibu dengarkan sayang," sahutnya.

Aku menghela nafas berat bingung mau memulai cerita ini dari mana. "Soal Reza Bu, dia cemburu akan kedekatan Zii sama Rizki." Aku memberi jeda sedikit di setiap agrumenku, "Ibu tau kan sedekat apa aku sama Rizki?" ungkapku.

"Pernah suatu ketika Reza ngajak Zii ketemu, tapi di situ Zii tolak karna jadwalnya bertabrakan dengan jadwal kemoteraphy nya Rizki. Di situ Zii bohong ke Reza bilang kalau Zii ada acara sama anak sekolahan. Terus kemaren Reza marah sama Zii karna dia tau Zii bohong sola itu," lanjutku lagi.

"Lalu? Apa kamu sudah menjelaskan kenapa kamu berbohong ke dia?" tanya ibu.

"Zii udah berusaha jelasin Bu, tapi Reza gak mau dengar sampai akhirnya dia bilang dia gak mau bahas soal itu lagi dan dia percaya sama Zii. Tapi setelah itu, sifat Reza ke Zii berubah. Bahkan Reza lebih sering marah ke Zii," tuturku.

"Kamu jelasin secepatnya ke dia, kamu harus bisa bikin dia ngerti kalau emang kamu mah pertahanin hubungan kamu sama dia. jangan sampai, cuman karna kesalahpahaman ini, hubungan kamu jadi berantakan. Dia pasti paham kok kalau dia udah tau yang sebenarnya," jelas Ibu.

Aku diam tak bergeming, kalau dia paham, kalau tidak bagaimana? Ujungnya pasti akan berdebat untuk yang kesekian kalinya.

"Zii, ibu mau tanya sama kamu."

"Tanya apa Bu?"

"Kamu lebih sayang sama Rizki atau Reza?" tanya Ibu.

Aku menghela nafas pelan, pertanyaan ibu tidak jauh berbeda dengan pertanyaan Reza empo hari itu. Hanya beda penyampaiannya saja.

"Salah gak bu kalau Zii sayang sama keduanya?" gumamku pelan. "Zii sayang sama Rizki sebagai sahabat Zii Bu, tidak lebih dari itu. Tapi kalau sama Reza, Zii sayang ke dia sebagai kekasih Zii," jelasku.

"Mungkin kamu memang sayang sama dia sebagai sahabat. Tapi apa kamu tau perasaan dia ke kamu sebagai apa?"

"Terakhir kali yang Zii dengar dari dia, cuman sebagai teman, tidak lebih," jawabku yakin.

Ibu hanya tersenyum mendengar jawabanku. Senyum yang entah mengartikan apa, aku juga tidak paham. "Kamu akan tau kejelasannya setelah dia menjelaskan yang sebenarnya," katanya.

Belum sempat aku menanyakan maksudnya, ibu terlebih dulu menyelesaikan obrolan denganku.

"Ya sudah, ibu sudah ngantuk. Kamu jangan tidur terlalu larut. Selamat malam," pamit Ibu.

"Selamat malam juga Bu, terima kasih sudah menjadi pendengar untuk cerita Zii," ucapku. Ibu hanya tersenyum mengelus bahuku dan langsung melangkahkan kakinya keluar kamarku.

Sepeninggalan ibuku, aku masih enggan untuk meninggalkan balkon kamarku. Rasanya masih tetap ingin disini mencairkan segala hal yang terdapat dalam pikiranku ini.

BIBBIB

Ponselku bergetar menandakan pesan masuk. Aku membuka ponselku dan melihat pesan dari siapa yang masuk. Harapanku sih dari Reza, tapi ternyata harapan itu pupus begitu saja ketika aku melihat pesan itu dari Naya.

Naynay

Zii, lo masih sama Reza kan?

Aku mengerutkan dahiku bingung membaca pesan dari Naya. Atas dasar apa dia menanyakan pertanyaan semacam itu?

Zii

Masih kok Nay, kenapa nanya gitu?

BIBBIB

Pesan itu masuk lagi ke dalam ponselku.

Naynay

Syukurdeh kalau emang masih sama Reza.

Gapapa sih, cuman td gue liat instastory nya Rezanya lagi jalan sama cewe. Tapi, paling juga cuman temennya kali, guenya aja yang terlalu over thinking.

Send a pict.

Aku melihat sebuah screenshot-an yang dikirim kan Naya, terlihat disana sebuah fotonya dengan seorang perempuan yang sangat asing sekali menurutku. Aku tak mau ambil pusing dengan foto yang kulihat itu. Ah, paling juga teman sekolahnya, batinku.

Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun mataku sama sekali tak menunjukkan pertanda bahwa ia ingin tertidur. Aku sudah berpindah tempat kali ini. Yang tadi di balkon kamar, tapi sekarang berada di dalam kamar. Tepatnya sedang duduk terdiam di sudut ranjang.

Oh iya, ngomong-ngomong soal ibuku, dia sudah tau soal hubunganku dengan Reza. Bahkan beliau mendukung kalau aku berpacaran dengannya salahkan itu semua tidak menganggu konsentrasi dalam belajarku, itu saja.

...

Pendek banget yaa? gapapa deh next chapter semoga panjang.

salam dariku buat kalian yang sengaja ataupun tidak sengaja membaca ceritaku✨❤️

REZAZIITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang