Enam

107 44 41
                                        

Selamatt siang☀️ Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya🙏🏻
Jangan lupa vote dan komen biar lebih semangat nulis ceritanya❤️

selamat membaca✨

***

Tak lama, pesanan kami datang. Sambil memakan pesanan yang telah dipesan, kami bercerita ria bernostalgia masa kecil kami. Bagaimana dulu kami kenal, mengapa kami bisa berteman bahkan sampai bersahabat akrab seperti sekarang. Rasanya lucu sekali.

"Gue masih inget jamannya gue masih suka surat-suratan," kata Anis.

"Lo mah kelewat bucin dari SD Nis, masih anak bau kencur udah ngerasain sakit hati," cetus Naya yang disambut dengan tawa.

"Ya namanya juga masih cinta monyet, sakit hati gue yang dulu gak ada apa-apanya dibanding sakit hati gue yang sekarang," bela Anis.

"Yar, lo ga merasa kesindir?" tanya Bima.

"Gue? Kesindir? Sorry-sorry aja nih ya, dia bisa sembuh dari sakit hari aja karna gue," jawab Iyar sombong.

"Oh, jadi lo ga ikhlas nih nyembuhin luka di hati gue? Oke gapapa."

"AKU SUKA KERIBUTAN," seru Gara.

"Bisa dilanjut, aku sangat mendukung kalau kalian pu..."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Intan malah mendapatkan jitakan dari Iyar. "Sembarangan lo kalo ngomong, mulut gak pernah disaring."

"Inget Ntan, omongan Doa," Ketus Anis.

Kami hanya tertawa saja melihat keributan yang mereka ciptakan. Hiburan sekali rasanya. Tiba-tiba, Bima membuka suara. "Eh, gue masih inget loh, waktu Reza jatoh dari sepeda, terus ngeliat obat merah langsung ngejerit nangis," terang Bima.

"AHHHH IYA GUE INGET BANGET MASA ITU." Intan langsung terbahak kala mengingat kejadian itu. Bukan hanya Intan saja, tapi kita semua. Bahkan aku pun sama.

Kalau seingatku, itu kejadian waktu kelas lima masa kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku tahu cerita itu dari salah satu teman kelasku, hanya tau saja. Tapi mendengarkan cerita itu dan membayangkannya saja sudah membuatku tertawa. Apalagi kalau melihatnya, lucu sekali.

"Lo sekarang masih takut sama obat merah Za?" sindir Naya.

Terlihat Reza hanya diam. "Diam mengartikan IYA!" cetus Bima. Seketika kami semua terbahak membully Reza. Reza hanya diam pasrah, bukan karna Reza sakit hati karna candaan kami yang membullynya. Namun, Reza memang seperti itu jika dirinya yang di jadikan sebagai bahan tertawaan Iyar dan yang lainnya. Katanya sih "Gapapa asal mereka bahagia dan tidak kelewatan saja."

Tak terasa waktu sudah semakin sore, café pun semakin ramai pengunjung. Kami memang seperti ini, lebih menyukai tempat yang sepi. Karna menurut Intan, tempay yang lebih sepi justru malah lebih enak dan leluasa untuk tertawa lepas. Dan ternyata benar, kami bisa tertawa tanpa harus memperdulikan orang lain.

"Cabut nih?" Tanya Reza.

"Iya nih, udah mulai rame." Kata Gara. Yang lain pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju.

"Zii, lo balik naik apa?" tanya Anis.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Anis, Reza lebih dulu menyela dan menjawabnya, "Zii, biar pulang sama gue."

Aku sedikit melebarkan mataku terkejut, ingin menolak lagi-lagi suaranya membuat aku menutup mulutku kembali. "Udah, lo gue anter pulang biar aman."

"Udah Zii, terima aja. Gue jadi lo sih hemat pengeluaran." Sergah Intan.

"Lo mah mana pernah modal?" sinis Gara.

"Selagi ada kesempatan ya harus pergunakan," tandas Intan, "benar ga ladys?" ujarnya lagi yang langsung di balas anggukan oleh Naya dan Anis. Aku? Seperti biasa, hanya diam saja memperhatikan mereka.

REZAZIITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang