"HEI KAU?!" Aku menoleh kaget, dan melihat siluet seseorang di mulut gang. Tapi siapa? Apa aku ketahuan lagi??
Perlahan siluet itu melangkah kearahku. Jantungku berdegub kencang sekali. Aku menutup kepalaku dengan kupluk hoodieku, jangan sampai orang ini melihat wajahku.
Orang itu mulai menyenteriku. Mataku yang sipit dibuat lebih sipit olehnya. Aku tidak bisa kabur, ini gang buntu. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membunuh orang didepanku. Tapi aku tidak siap, peralatan yang kubawa hanya untuk orang yang lemah seperti yeoja yang sudah mati ini. Sedangkan didepanku bukan seorang yeoja lemah, melainkan namja.
Dia terus terusan menyenteriku, sekilas wajahku terkena cahaya.
"Yoongi? Hey, itu kau?"
Hah? Dia mengenalku? Aku tidak mengenali suaranya karena gema di gang ini. Tapi siapa dia?
"Ya, Yoongi, ini aku Jimin," bisiknya. Lalu ia mendekat dan berdiri di depanku. Aku berdiri, menyamakan posisinya.
"Kau sedang berburu eoh?" Jimin melongok ke belakang, ke mayat yeoja itu. Percuma, gelap dan tidak kelihatan.
"Kenapa kesini?" Ucapku bingung. Tiba-tiba sekali dia kesini, disaat yang tepat pula. Saat-saat partner harus bekerja.
"Oh, aku mau menjemput kenalanku, katanya dia menunggu disekitar sini? Tapi aku tidak menemukannya sama sekali," Jimin menggaruk kepalanya, lalu mulai bicara lagi.
"Yeoja, namanya Yein. Dia agak mabuk saat menelepon, jadi mungkin salah menyebutkan nama jalan? Ah molla, aku akan mencarinya nanti," aku membelalakkan mataku. Yeoja yang mabuk dari tadi hanya yeoja yang dibelakangku. Berarti aku sudah membunuh kenalannya Jimin? Uh, aku tidak peduli sih.
"Kau sedang mengerjakan sesuatu?" Jimin menyenteri mayat di belakangku. Lalu menyenteri wajah yeoja itu.
"Ini.." tubuhnya sedikit bergetar ketika menyenteri wajah yeoja itu.
"...Yein, kau membunuhnya?" Pandangannya tetap pada wajah Yein.
"Ne, kau bisa mengurusnya? Umm...partner?" Ucapku. Tidak kusangka aku bisa mengatakan kata-kata itu.
Hening.
Tidak ada rasa bersalah yang kurasakan sama sekali. Itulah yang harus pembunuh rasakan. Pembunuh dengan perasaan? He'll never make it. Begitu juga seorang partner. Sangat diharuskan untuk tidak punya ikatan yang erat dengan orang lain, karena ketika orang lain bahaya atau terbunuh oleh partnermu sendiri, kau akan terbelit dengan perasaan yang tidak ada gunanya.
"Jimin?" Panggilku.
"Ya ya aku- aku akan mengurusnya, tenang saja," barusan kulihat ia menyeka wajahnya. Kurasa ia sedikit menangis.
"Apa yang bisa kulakukan?" Tanyanya. Sekarang Jimin membalikkan tubuhnya menghadapku. Aku bisa melihat wajahnya sedikit, matanya agak sembab.
"Potong tubuhnya, kau harus memotongnya jadi enam bagian. Kepala, tangan, badan, kaki." Suruhku. Lalu ia mulai menarik ingus lagi. Ya, sepertinya ia menangis lagi.
"Berhentilah menangis. Jika kau partner seorang pembunuh, harusnya kau tau resikonya." Aku melepas sarung tanganku, lalu memberikannya ke Jimin. Ia memakainya sambil sedikit terisak. Aku lalu menyodorkan pisau daging kecil yang kubawa.
Jimin mulai bersimpuh di depan mayat Yein. Sambil terisak, Jimin memotong-motong Yein jadi beberapa bagian. Aku melihatnya dari jarak dua meter, sambil menyenderkan punggungku ke tembok.
Dakk!! Dak!!! Dak!!
Jimin mulai memotong tulang. Isakannya sudah tidak terdengar, dan itu cukup membuatku puas. Aku jadi tidak capek-capek mengurus mayat. Potong memotong yang Jimin lakukan berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Cukup cepat untuk pemula.
"Tumpuk saja mayatnya disitu, lalu tutup dengan terpal," suruhku. Ia melakukan apa yang kusuruh. Terpal yang diletakkan sembarangan dijadikan tempat persembunyian mayat. Orang-orang mungkin tidak tau jika ada mayat disini, karena tempatnya cukup berantakan.
"Sudah, kau boleh pulang. Oh, sarung tangannya aku saja yang membawanya," ucapku. Aku melihat wajahnya yang tidak puas sambil ia melepaskan sarung tangannya.
"Kau melakukan pekerjaan pertamamu dengan baik, tapi kau tidak boleh membawa perasaan bersalah ke sini," ucapku sambil meninggalkan Jimin di gang sendiri.
.
.
.
Hohoho
Pekerjaan pertama Jimin is memutilasi kenalannya sendiri ._.
Nyesek ga tuh ._.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Winter
Mystery / ThrillerMin Yoongi. Tidak ada perasaan yang bisa membuatnya tergoyah untuk tidak menghabisi seseorang. Sudah berapa yang sudah ia habisi? Entahlah, bahkan si pembunuh juga tidak bisa menghitungnya. Min Yoongi, ia tidak akan pernah lepas dari rasa bersalah...
