-17

227 28 4
                                        

Sowom SMP
Itaewon, South Korea

Hari ini begitu melelahkan, Sowon pusing karena nilainya tiba tiba anjlok. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan pada ayahnya. Ayahnya begitu keras dengannya, padahal Eunwoo dibiarkan melakukan apa yang ia inginkan. Sowon merasa ia seperti di penjara, selalu di atur, selalu di hukum jika salah, tak boleh berbuat kesalahan kecil. Lama lama Sowon merasa muak, ia bahkan bingung kenapa orang tua angkat nya mau mengadopsi dia. Sowon berjalan dengan tatapan kosong, biasanya ia di jemput oleh sopir, tapi kata pak sopir ia tak boleh naik mobil lagi sebelum memberikan hasil ujiannya.

Brruukk

Sowon menabrak seorang laki laki dengan postur tubuh yang lumayan tinggi, laki laki itu menggunakan kacamata, nampak seperti laki laki yang culun, Sowon memutar bola matanya malas. Moodnya sudah rusak, dan sekarang harus menabrak orang di jalan.

"Eh, sorry. Lu ga papa?"

"Hmm"-Sowon

"Sorry ya, gw buru buru soalnya."

"Gw ga papa."-Sowon

"Loh, lu anak SMP sebelah? Ko baru pulang, ini kan udah sore."

"Iya, lagi ada urusan aja di sana. Gw duluan ya."-Sowon

Sowon kesal sekali, kenapa laki laki yang berseragam SMA itu sangat ingin tahu tentangnya. Mereka baru pertama bertemu, tapi dia sudah bertanya banyak hal padanya. "Tapi jika di pikir pikir laki laki itu lumayan juga." Batin Sowon

Ketika sampai di rumah, Sowon sudah melihat Eunwoo dan ayahnya makan bersama, sedangkan ibunya hanya tersenyum memerhatikan mereka dari jauh, dan kadang ikut berbicara tentang masa depan Eunwoo. Sowon hanya menatap mereka, ia tak berani mendekat, ia tahu bagaimana reaksi kedua orang tua angkatnya jika tahu nilainya turun.

"Sowon, kenapa di situ, sini. Biar bunda liat nilai kamu"-mama Sowon

"E-eh i-iya, Sowon kesana." Jawab Sowon dengan gugup, ia takut jika harus di hukum lagi oleh ayahnya.

Akhirnya setelah melihat hasil ujian Sowon, apa yang di takutkan Sowon pun terjadi. Ia di seret ke dalam ruang kerja ayahnya. Sedangkan Eunwoo yang melihatnya langsung meraih kaki ayahnya memohon ampun untuk Sowon, Eunwoo berteriak, menangis, menyatukan kedua tangannya dan memohon sungguh sungguh. Namun ayahnya seperti orang kerasukan, ia tak menghiraukan Eunwoo dan menendangnya hingga terbentur meja makan.






Braakk

Pintu ruang kerja itu di tutup dengan begitu kasar. Sowon yang berada di dalam sudah mulai keringat dingin, matanya sudah mulai memanas dan ingin menangis. Ayahnya semakin mendekat sambil membawa sebuah tongkat kayu.

Sowon terjatuh, ia berlutut di depan ayahnya yang seperti orang kerasukan itu. Sowon memohon mohon agar di maafkan.

"Aku tak akan mengulanginya lagi. Ku mohon, ku mohon ayah. Ayah aku berjanji, tidak maksutku aku bersumpah, aku akan selalu mendapatkan nilai diatas 9. Ku mohon."-Sowon

"Letakkan tangan mu di meja."-Ayah Sowon

"Ayah ku mohon. Aku benar benar minta maaf, ini salah ku."-Sowon

"Letakkan tangan mu di meja!" Titah ayah Sowon dengan begitu tegas.

Sowon hanya bisa menurut dan meletakkan tangannya di atas meja kerja ayahnya dengan penuh ketakutan. Tangannya bergetar, air matanya yang deras membasahi wajah cantiknya.

Ctak "kau ini tidak tahu di untung ya."

Ctak "semua sudah kami berikan padamu."

Ctak "kau hanya perlu mendapat nilai bagus."

Ctak ''tapi kau tidak bisa?!"

Ctak "kau ini hanya parasit bagi kami dan Eunwoo"

Ctak "lebih baik kau tidak menyusahkan kami."

Ctak "sekali ku ampuni, kau akan mengulanginya lagi kan."

Ayah Sowon mengangkat tongkat kayu itu sangat tinggi, bersiap memukul Sowon dengan keras. Namun ia hentikan. Sowon sudah menangis tersedu-sedu matanya sudah basah oleh air mata, tangannya berdarah, mukanya sangat merah karena tangis dan rasa marahnya mencampur jadi satu. Lalu ayah Sowon berjalan keluar, meninggalkan Sowon dengan keadaan yang sangat menyediakan. Ketika pintu di buka, terlihat Eunwoo yang bersimpuh di depan pintu dan menangis.

Lalu ayah Sowon memberi isyarat mata pada Eunwoo untuk masuk dan membawa Sowon pergi dari sana. Eunwoo menurut dan membawanya keluar. Tapi Sowon berontak, ia berlari keluar rumah tanpa alas kaki dan entah lari kemana, Eunwoo yang hendak mengejarnya di tahan oleh tangan ibunya.

Sowon berlari tanpa arah ia hanya berlari, matanya bahkan kini tak bisa untuk melihat dengan jelas, matanya buram. Ia masih menangis, ia tak menghiraukan orang orang yang melihatnya berlarian di jalan tanpa alas kaki dan tangan yang bersimbah darah, ia hanya ingin lari. Ia ingin bebas dari ayah iblisnya itu. Sowon terengah-engah nafasnya tak teratur, air matanya bercampur dengan keringat.

Deg!

Sowon terkejut, ia tak tahu sekarang ia dimana, ia tak kenal daerah ini. Sepertinya ia tersesat, ia merogoh sakunya berusaha mencari ponsel. Ketika ia berusaha menghidupkan ponselnya tiba tiba ada seorang laki laki dengan seragam SMA yang berantakan dan sebotol alkohol di tangannya berjalan sempoyongan ke arahnya.

Brukk

Anak SMA itu terjatuh dan menabrak Sowon. Sowon pun membantunya berdiri.

"Permisi, kau tidak boleh mabuk, kau masih di bawah umur."-Sowon

"Sial, peduli amat, urusi aja urusan lo!"-Anak SMA

Sowon merebut botol yang berisi air haram itu dan melemparkannya ke dinding.

Praannkkkk

"Sialan! Gw beli itu pake uang gw sendiri! Dan lo asal banting aja! Sini lo ikut gw."-Anak SMA

"Mau kemana?! Berhenti!! AW sakit, tangan gw sakit!!!!"-Sowon

"Ini hukuman buat elo, biar jadi pelajaran buat lo, jangan urusi urusan orang lain."-Anak SMA

"Mau kemana?! Di sini gelap sekali!!! Hei apa yang kau lakukan?!!!!"

Sowon berteriak ketika anak SMA tadi mulai melucuti pakaiannya. Sowon menutup matanya dan berusaha kabur namun dengan cepat anak SMA tadi mendekap Sowon di pelukannya. Sowon ketakutan ia berteriak dan meminta tolong. Ketika anak SMA itu sedang sibuk melepaskan celananya, Sowon berlari berusaha keluar dari gang kecil dan sempit itu, ia berlari meminta tolong namun sialnya anak SMA tadi sudah di belakangnya dan menampar Sowon dengan keras ia pun menyeret tubuh Sowon.

Namun mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Matanya yang tajam itu menatap mereka seolah ingin membunuh mereka, namun lama lama tatapan itu berubah menjadi sendu. Dan sang pemilik mata tajam itu hanya meninggalkan mereka seolah tak ingin terseret oleh masalah yang terjadi.

Sweet Night [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang