[The prince]
Dahyun melihat ke arah jam di handphonenya, pukul 12 malam, tapi Hyunjin tidak juga pulang. Mungkin Hyunjin tengah melakukan sesuatu, pikirnya. Entah itu hal baik atau hal buruk Dahyun masih cukup sakit hati tentang tadi pagi.
Direbahkanlah tubuhnya di atas kasur milik Hyunjin, benar, sebaiknya dia tidur saja. Masih ada hari esok, dan masih ada misi-misi yang harus dia lakukan. Termasuk keluar dari perangkap Hyunjin.
Sementara itu Hyunjin tengah minum dengan Soobin disalah satu tempat minum yang cukup terkenal dengan kemewahan dan banyaknya artis disana, jangan lupa juga dengan perempuan cantiknya. Sayangnya, Hyunjin tidak mencari para wanita berparas cantik disana, "Tumben sekali kau memintaku untuk minum bersama, aku kira kau sudah tidak menyayangiku lagi." Kata Soobin sedikit terkekeh dengan kalimatnya sendiri.
Hyunjin tidak menjawabnya, dia masih mencoba tersadar dengan sepuluh kali tegukan alkhohol kadar tinggi itu. "Soobin, ada seorang prajurit yang mempunyai misi rahasia. Yaitu mencuri kastil sang ratu, ratu itu mempunyai putri yang sangat cantik. Sang prajurit sudah mencoba berbagai cara agar dia mendapatkan kastilnya melalui sang putri."
"Menurutmu apa yang salah dari rencana besarnya?" Tanya Hyunjin kepada Soobin setelah bercerita panjang lebar sembari menyusun gelas dan mengambil gelas paling atas.
Soobin yang tidak memaksakan dirinya sendiri untuk minum mengerti maksud dari Hyunjin. "Ada syarat tertentu bagi prajurit agar tidak menghancurkan rencananya sendiri." Kata Soobin kemudian mengambil gelas yang ada ditangan Hyunjin.
"Sang pencuri tahta tidak boleh jatuh cinta kepada sang putri." Kemudian gelas tersebut dibawanya ke arah menara gelas kosong susunan Hyunjin tadi.
"Kenapa?" Tanya Hyunjin dengan nada sedikit kebingungan dan teler.
"Karena dia akan mengikuti perkataan sang putri." Jawab Soobin atas pertanyaan Hyunjin tersebut.
***
Suara berisik membuat Dahyun terbangun, dia melihat apa yang menimbulkan suara tersebut. Kakinya melangkah menuju sebuah ruang tamu yang dimana Hyunjin berada disana dengan mata mengantuk melihat ke arah tv.
Aroma alkhohol yang menyengat membuat Dahyun merasa ingin menyumbat hidungnya saja. Dilihatnya sebuah kertas yang bertanda Soobin disana. Di kertas tersebut dituliskan sebuah kalimat peringatan jika Hyunjin sedang dalam masa sensitifnya dan tidak perlu diganggu.
Dahyun menghela nafas dan tidak menghiraukan peringatan tersebut, dia mengambil segelas air putih dan memberikannya ke meja kaca dengan Hyunjin. "Minumlah, kau terlihat berantakan." Kata Dahyun kemudian duduk disamping Hyunjin untuk melihat tv pada pukul lima pagi itu.
"Jangan ganggu aku." Kata Hyunjin bergumam. Dahyun yang merasa tidak menganggu dan melakukan apapun itu hanya terdiam dan masih mengamati tv.
"Kau benar-benar keras kepala." Kata Hyunjin merasa kepalanya sangat berat hingga menyangga dahinya dengan tangan kanannya. "Ah! Kau... Kau pasti ingin tahu kenapa aku ingin perusahaannya?!" Kata Hyunjin berceloteh.
Jujur saja Dahyun merasa kasihan kepada pria tersebut karena memiliki watak yang ternyata seperti ini, namun dia lebih baik mendengarkan saja. "Ya, ya kenapa?" Tanya Dahyun menjawab seenaknya.
"Ibu tirimu... Si Wanita Jalang itu! Membunuh keluargaku.. heheh." Dahyun terdiam sejenak, dia kebingungan apakah yang dikatakan oleh Hyunjin itu benar adanya? Atau hany halusinasi belaka.
"Ayahku yang pekerja keras... Ibuku yang malang... Kakakku sayang... Semua... " Suara Hyunjin naik turun tak terkendali, hingga serak sendiri dibuatnya.
"Sebenarnya, apa dosaku? Hah?! Keluargaku...adalah keluarga baik. Siapa dia sebenarnya berani masuk dan membunuh mereka semua?!" Hyunjin mulai membuat Dahyun takut karena berteriak didepannya sembari melempar air putih tadi ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Kemudian tubuh Hyunjin melemas dan jatuh dipelukan Dahyun. "Karena itu... Pergilah. Aku tidak ingin.. menyakitimu." Gumam Hyunjin yang kemudian memeluk Dahyun erat.
Dahyun termenung, jika dia pergi dia akan kehilangan seluruh keinginannya selama ini. "Tidak mau." Kata Dahyun.
"Perusahaan itu dibentuk bersama oleh ibuku dan ibu Tiriku. Aku tidak mau nyerahkannya." Hyunjin menghela nafas, tangannya mengepal karena dia kesal dengan keegoisan Dahyun. "Baik. Jangan pernah mengharap bantuanku."
"Hyunjin-". "DIAM!" Suara Hyunjin bergema diruangan itu, Dahyun merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, dan rasa terkejut serta takut tidak kunjung melemah meskipun Hyunjin sudah pergi dari sana.
"Haahhh.. sialan!" Kata Hyunjin menendang sebuah benda dikamarnya. Jujur saja, misi mereka berdua sama hanya saja terdapat perbedaan tipis diantaranya, Hyunjin ingin menghancurkan perusahaan itu dan kehidupan Lee Boyoung. Sementara Dahyun ingin menempati perusahaan itu tanpa adanya Lee Boyoung dihidupnya.
Ego didalam diri mereka sama.
Seperti batu yang dibalas dengan batu, kilat dibalas dengan kilat. Tidak ada yang berakhir hingga salah satu dari mereka menyerah untuk satu sama lain.
***
Paginya mata Hyunjin terasa sangat berat untuk dibuka kepalanya sangat pusing hingga ingin pecah. Dilihatnya benda yang menjadi sumber suara yang membuat telinganya berdengung sejak tadi.
Lee Boyoung.
"Halo sayang, aku sudah berada di bandara hari ini. Memang lebih cepat dari yang diperkirakan, apa kau bisa menjemputku?" Tanya Boyoung yang membuat Hyunjin tersadar, dia melihat keberadaan Dahyun dikamarnya dan beberapa benda Dahyun. Namun hilang tidak ada jejak.
Dia pergi.
"Maafkan aku, aku baru saja selesai bekerja. Aku pikir aku tidak dapat menjemputmu." Jawab Hyunjin yang sepertinya kecewa terhadap pilihan yang Dahyun buat.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menunggumu di rumah." Kata Boyoung yang diiyakan oleh Hyunjin, lalu setelah beberapa panggilan sayang yang Hyunjin tidak mengerti apa gunanya mereka pun sama-sama mematikan alat komunikasi jarak jauh itu.
"Baiklah, ini pilihanmu. Aku juga tidak boleh goyah." Kata Hyunjin mengusap wajahnya kasar.
TBC
Comment! Like! And! Follow!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Castle
Hayran KurguPada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan. Dikerajaan itu ada seorang prajurit yang ingin mengambil tahta dan kastil kerajaan itu. Namun dengan syarat: "Seorang pencuri tahta tidak boleh jatuh cinta kepada putri raja." Soobin menaikkan gelas...
