Undangan Pesta [13]

40 2 0
                                        

“Papah pergi aja, Gwen baik-baik aja kok kalau Papah tinggalin Gwen ke luar negeri. Lagi pula di rumahkan ada bi Sumi, jadi Papah tenang aja ok,” ujar Gwen menjelaskan.

“Tapi kan kamu...”

“Pah, Gwen sudah besar. Gwen bisa jaga diri Gwen sendiri kok. Sekarang mending Papah fokus sama pekerjaan Papah,” ujar Gwen memotong.

Hari menghela napasnya menatap Gwen. “Kalau ada apa-apa kamu langsung telepon Papah ya,” ujar Hari mengingatkan. “Iya Pah. Kalau ada apa-apa Gwen bakal telepon Papah, Alex sama bi Sumi supaya Papah tenang,” ujar Gwen membuat Hari tersenyum.

“Kamu mirip sama mamah kamu,” ujar Hari memegangi pipi Gwen. “Kalau begitu sepulang Papah dari Kanada kita pergi ke taman buat piknik,” usul Gwen. Hari pun mengangguk sambil tersenyum, “Ya. Nanti kita ke taman untuk piknik.”

Tak terasa air mata Hari mulai menetes. Gwen mengelap air mata Hari sambil tersenyum. “Gwen akan berusaha tetap hidup. Jadi Papah jangan menangis ya,” ujar Gwen sambil menahan tangisnya.

“Ya, Papah tau itu. Papah tau kamu kuat, sama seperti mamah kamu,” ujar Hari lalu menghela napasnya.

“Ya udah kalau begitu gimana kalau Gwen bantu Papah packing baju. Papah kan pergi lumayan lama jadi Papah butuh baju yang cukup banyak,” ujar Gwen bersemangat. Hari pun tersenyum lalu mengangguk.

☁️☁️☁️

Gwen berjalan sepanjang koridor dengan wajah yang sangat ceria. Cuaca hari ini memanglah cerah mendukung mereka untuk melaksanakan upacara bendera.

“Gwen!” Teriak Risha langsung memeluk Gwen senang. “Gue kangen banget tau nggak sama lo. Batu satu hari study tour tapi lo udah harus pulang aja. Gue kan jadi kesepian,” ujar Risha mengeluh.

“Bohong tuh, dia senang-senang aja kok sama yang lain. Malah gue yang dikacangin terus sama si Risha. Coba ada lo gue pasti ada teman mengobrol,” ujar Iqbal ikut mengeluh. Gwen tersenyum mendengar keluhan keduanya lalu merangkul bahu keduanya.

“Gue juga kangen sama kalian. Gue dirawat di rumah sakit selama dua hari, terus sisanya gue cuma diboleh in di dalam rumah sama papah,” ujar Gwen ikut mengeluh. “Kalau begitu gimana kalau nanti pulangnya kita main?”

“Boleh tuh, udah lama juga kan kita nggak main bareng,” ujar Iqbal menyetujui. “Em... boleh juga, tapi nanti gue izin dulu ya sama papah gue,” ujar Gwen. Tak terasa bel pun berdering menandakan seluruh siswa harus berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara.

“Eh, ayo ke lapang,” ajak Iqbal. Mereka pun mengangguk lalu berlari menuju lapangan.

☁️☁️☁️

Seluruh sekolah tiba-tiba saja ricuh karena seluruh angkatan kelas 12 mendapatkan undangan untuk merayakan pesta ulang tahun Nathan. “Bal, ini nggak salah kan. Nathan undang gue ke pesta ulang tahunnya!” Teriak Risha begitu senangnya.

“Iya Ris, iya. Tapi suara lo kontrol sedikit dong. Telinga gue sakit nih,” ujar Iqbal sambil mengelus-elus telinganya. “Bal tangkap gue. Sebentar lagi gue pasti bakal pingsan,” ujar Risha sambil mengipas-kipaskan tangannya.

“Eh, eh, Ris. Ya elah, bangun kenapa. Ris,” panggil Iqbal menepuk-nepuk pipi Risha.

“Bal, Risa kenapa? Dia kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Gwen yang baru saja datang. “Serangan jantung,” ujar Iqbal sambil mengipasi Risha yang terduduk di kursi.

“Serangan jantung?”

Iqbal pun mengangguk. “Lo lihat aja grup kelas. Nanti lo mengerti sendiri deh,” titah Iqbal. Gwen pun menurut membuka grup kelas mereka. “Nathan undang satu angkatan ke acara ulang tahunnya?!”

A Secret [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang