Pagi ini Fanny tampak murung. Bukan karena takut akan bullyan dari teman-temannya, melainkan karena alasan lain dan salah satunya adalah Sheza.
Jam istirahat pertama telah selesai namun ia masih saja tak mendapati kehadiran Sheza di sekolah. Bahkan saat ia tanya Fathur pun Fathur hanya mengatakan Sheza izin sakit padahal seingatnya Sheza tak akan meminta izin jika memang sakit tidak terlalu parah.
Yang membuatnya semakin tak percaya dengan ucapan Fathur adalah bukan hanya Sheza saja yang izin tapi juga Nathan, Ethan dan Alex pun ikut izin hari ini membuat Fanny semakin curiga dengan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Fathur darinya.
“Gila!” Teriak Risha tiba-tiba membuat seisi kelas langsung memandangnya. Untungnya saat itu guru mata pelajaran kimia sedang izin karena sakit membuat mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Ris bisa nggak sih lo kalau ngomong nggak usah teriak-teriak, pengang tau kuping gue!” Teriak Iqbal balik karena kesal. “Buta lo! Lo juga teriak kali,” ujar Risha kesal.
“Kalian bisa nggak sih nggak berantem sehari, pusing gue jadinya,” ujar Gwen ikut kesal. “Ini nih, si Risha bikin gue kesal aja,” ujar Iqbal menjelaskan.
“Loh kok gue sih? Kan gue cuma teriak gara-gara kaget,” balas Risha kesal. “Memang lo kaget kenapa sih?” Tanya Iqbal tak habis pikir.
Risha pun berdecak lalu memperlihatkan ponselnya pada Iqbal. “Hah! Nggak salah tuh!” Teriak Iqbal membuat Risha kesal. “Lo juga kaget kan bambang,” ujar Risha kesal.
“Tapi mana mungkin sih. Ini pasti hoax. Masa iya sih Sheza itu anaknya om Frans, sudah jelas mereka aja beda agamanya,” ujar Iqbal membuat seluruh siswa langsung membuka ponselnya dan melihat berita terbaru yang ada.
“Ya kan. Ini pasti hoax, sudah jelas-jelas Nathan itu anak semata wayang om Frans,” ujar Risha tak terima.
Seketika saja kelas benar-benar ribut karena masalah berita Sheza. Bagaimana tidak, semua orang tau jika Nathan lah pewaris tunggal kekayaan keluarga Frans, bahkan nama belakangnya pun Frans.
Gwen yang juga tak percaya hanya bisa terdiam, namun ia teringat dengan seseorang yang pasti tau kebenaran semua ini. Ia mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sedang duduk tenang tak ingin ikut campur dengan semua ini.
Fathur kok biasa aja sih. Padahal kan ini berita tentang Sheza, adiknya sendiri. Atau dia udah tau tentang ini, batin Gwen heran. Fanny yang ikut terkejut pun hanya bisa diam. Ia sangat ingin menanyakan itu semua pada Fathur, tapi tampaknya Fathur tak akan menjawab.
“Fathur, lo kan kakaknya si Sheza! Masa iya sikap lo biasa aja dengar berita tentang adik lo,” ujar Juna tiba-tiba berteriak. Seketika saja para siswi perempuan mendekati Fathur penuh tanda tanya.
“Lo tau sesuatu kan?” Tanya Dinda penasaran. “Ini hoax kan?” Tanya Sonya yang juga ikut penasaran. Fathur yang merasa tak nyaman pun langsung berdiri. “Aku nggak tau apa-apa,” ujar Fathur lalu meninggalkan kelas.
Ia lebih memilih menjauh dari teman-temannya untuk saat ini karena pasti mereka akan selalu mendekatinya untuk menanyakan kebenaran yang ada. Jika diingat Fathur memang kurang suka berkomunikasi atau bersosialisasi dengan perempuan kecuali memang ada kepentingan tertentu.
“Kok pergi sih!” Teriak Yura kecewa karena belum mendapatkan jawaban sama sekali. Pasti ada yang Fathur sembunyikan, batin Fanny. Tiba-tiba saja Fanny berdiri dan pergi keluar kelas menyusul Fathur.
“Fathur!” Teriak Fanny sambil berlari mengejarnya dari belakang. Fathur pun berhenti karena panggilan tersebut hingga akhirnya Fanny berdiri tepat di hadapannya. “Kamu pasti tau sesuatu kan. Kamu tau tentang kebenaran berita itu kan,” ujar Fanny meminta penjelasan dari Fathur.
☁️☁️☁️
Malam sudah larut, Sheza sudah bersiap untuk tidur setelah menyiapkan buku dan baju sekolahnya besok. “Sheza, ada Ethan di depan,” ujar Wardah dari balik pintu kamar. Sheza menatapi jam dindingnya, pukul sembilan malam.
Kenapa dia datang selarut ini? Batin Sheza. Sheza pun akhirnya keluar kamar tak lupa menggunakan hijabnya terlebih dahulu. “Kamu ngapain ke sini malam-malam kaya begini?” Tanya Sheza saat mendapati Ethan yang menunggunya di ruang tamu.
“Gue dapat kabar dari Nathan kalau om Frans sekarang di rawat. Dia bilang kondisi om Frans semakin memburuk,” ujar Ethan membuat Sheza terkejut. “Terus sekarang aku harus gimana?” Tanya Sheza panik.
“Ikut gue ke rumah sakit,” titah Ethan. “Nggak mungkin. Aku nggak mungkin ke sana sedangkan aku sendiri nggak ada hubungan apa-apa sama mereka,” ujar Sheza berusaha menolak. “Lo punya hubungan Za. Om Fran itu bokap lo, sekarang dia butuh lo di sampingnya.”
“Nggak Tan. Dia nggak butuh aku. Yang dia butuhin cuma istri sama anak laki-lakinya,” ujar Sheza menolak. “Za, lo memangnya mau lihat bokap lo semakin sakit? Dia kangen sama lo Za. Gue tau itu. Gue ingat waktu itu dia berusaha bilang ke gue tentang lo, Maria.”
“Tapi nanti kalau...”
“Nggak ada kalau Za. Bokap lo kangen sama lo. Lo harus ada di sampingnya sekarang, atau lo akan menyesal kalau terjadi sesuatu sama dia,” potong Ethan. Sheza tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak lalu mengangguk.
“Aku pamit dulu sama bunda,” ujar Sheza yang langsung diangguki oleh Ethan.
Untunglah malam ini jalan tak terlalu ramai. Ethan dan Sheza sudah sampai di rumah dan langsung pergi menuju ruangan Frans. “Sheza?” Tanya Nathan saat mendapati Ethan yang datang bersama Sheza.
“Gimana keadaan papah?” Tanya Sheza to the point. Nathan tak mengerti maksud pertanyaan Sheza begitu pun Alex yang sedari tadi menemani Nathan karena Dewi yang sedang keluar negeri karena urusan pekerjaan.
“Maksud lo?” Tanya Nathan. Sheza menghela napasnya. “Gimana keadaan papah Nathan Myron Mahendra!” Teriak Sheza membuat semuanya terkejut begitu pun Nathan. Pasalnya tak ada yang pernah tau nama asli Nathan kecuali keluarganya.
“Maksud lo apa sih? Nama gue Nathan Myron Frans! Bukan Mahendra,” ujar Nathan tak terima. Sheza menghela napasnya kesal lalu menatap Nathan. “Sekali lagi aku tanya gimana keadaan papah Nathan!” Teriak Sheza kesal.
Ia pun tak tau mengapa ia begitu emosi. Mungkin karena ia teringat perilaku Nathan pada ayahnya saat acara ulang tahun kemarin. Belum sempat menjawab dokter yang menangani Frans pun keluar dari ruangan.
“Sekarang pak Frans sudah siuman. Namun kondisinya belum terlalu stabil. Sebaiknya kalian jangan membuat beliau sampai stres atau kondisinya akan semakin memburuk,” ujar dokter tersebut lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
“Papah,” ujar Sheza lirih masuk ke dalam ruangan. Nathan sempat ingin menyusulnya namun dicegah oleh Ethan. “Lo kenapa halangi gue sih?” Tanya Nathan kesal. “Kasih mereka waktu lima menit. Sesudahnya baru kita masuk,” pinta Ethan yang entah mengapa Nathan turuti begitu saja.
“Pah. Papah, ini Maria Pah. Maria ada di sini. Maafin Maria ya Pah selama ini nggak pernah jenguk Papah, bahkan Maria nggak pernah cari tau kondisi Papah kaya gimana,” ujar Sheza menyesal dengan sebuah tangisan.
Frans yang tak bisa berkata apa pun hanya menangis dengan tangan yang semakin kuat menggenggam tangan Sheza. “Maafin Maria udah jadi anak yang durhaka. Maafin Maria,” ujar Sheza lagi.
Keduanya terdiam tak berkata. Hanya menangisi penyesalan yang ada. “Ma... ria...,” ujar Frans tiba-tiba membuat Sheza langsung mengangkat kepalanya menatap mata Frans. “Maria,” ujar Frans kembali.
Sheza pun tersenyum lalu memeluk Frans senang. “Iya Pah, ini Maria. Maria anak Papah,” ujar Sheza begitu senang.
Nathan dan Alex yang baru saja masuk pun terheran menatap Sheza yang memeluk Frans dengan sebuah tangisan. Ethan tak heran, malah ia senang karena akhirnya mereka bisa saling melepas rindu.
“Maria,” ujar Frans lagi masih menangis. “Maria?” Tanya Nathan tak mengerti. Dan lagi ayahnya mengatakan dengan begitu jelas padahal selama ini semenjak sakit ia sangat susah untuk mengatakan satu kata pun.
“Maafin Maria Pah. Maafin Maria. Maria nggak akan tinggalin Papah lagi. Maria akan selalu ada buat Papah,” ujar Sheza mencium tangan Frans. Bukan hanya Nathan yang bingung melainkan juga Alex. Sosok yang sangat cuek tersebut sekarang malah penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau kalian mau tau sesuatu nanti gue jelaskan. Tapi buat sekarang jangan tanya apa pun dulu,” ujar Ethan mengerti raut wajah kedua sahabatnya itu.
Akhirnya Ethan pun mengajak keduanya menuju kantin rumah sakit. Di sana Ethan menceritakan semuanya tentang Sheza yang sebenarnya. Alex yang memang baru tau jika Nathan hanya anak tiri pun ikut terkejut saat tau kebenarannya.
“Maksud lo Sheza itu Maria? Anak kandung om Frans?” Tanya Alex benar-benar tak bisa menahan lagi untuk bertanya. “Ya. Itu faktanya,” ujar Ethan membenarkan.
Nathan hanya terdiam tak merespons. Selama ini ia pikir Maria mungkin telah tiada karena ia tiba-tiba saja hilang saat mereka sedang berlibur. Dan ibunya pun bilang jika polisi tak bisa menemukan Maria dan kemungkinan besar dia sudah tiada mengingat sudah dua bulan Maria hilang.
“Lo nggak mengarang ceritakan? Dan lo tau dari mana kalau Sheza memang Maria? Bisa aja dia bohong,” ujar Nathan tak sepenuhnya percaya.
“Dia Maria sahabat kecil gue. Walaupun dia berubah tapi gue tau kalau dia sahabat kecil gue. Belum lagi kalung pemberian tante Wenda yang Sheza simpan. Gue tau persis kalung itu karena di belakangnya ada nama Maria,” ujar Ethan menjelaskan.
Jadi selama ini gue suka sama saudara tiri gue sendiri? Batin Nathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Secret [SELESAI]
Fiksi RemajaSetiap orang memiliki kisah hidupnya masing-masing. Begitu pun dengan Gwen dan teman-temannya. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya karena semua itu adalah rahasia yang akan Tuhan perlihatkan saat waktunya tiba.
![A Secret [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/218906305-64-k522092.jpg)