Satu

352 41 22
                                        

"When did you lose your happiness?I'm here alone inside of this broken home

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"When did you lose your happiness?
I'm here alone inside of this broken home."
-Broken Home, 5sos

-

Keluarga adalah tempat untuk kita berpulang. Setelah lelah seharian bercengkerama dengan orang lain, seulas senyum dari orang rumah akan menjadi penenang. Tapi, itu semua belum sepenuhnya Yoongi dapatkan di rumah. Keluarga yang diharapkan harmonis dan selalu mencurahkan kasih sayang pun hanya sebatas imaji. Ingin rasanya Yoongi dihujani kepedulian dari Ayah atau Ibunya.

Ah, Ibu.

Sejak dalam kandungan sampai umur 5 tahun, Ibunya masih bisa memasang raut kebahagiaan di wajah. Namun, setelah Ayah menghilang dan ditemukan sedang bersama wanita lain, Ibu berpamit dengan air mata bercucuran. Tidak sanggup lagi untuk tinggal di rumah, katanya. Lalu perempuan dengan kulit porselen itu hilang ditelan bumi. Lantas Yoongi balita kebingungan, ia seperti kehilangan sesuatu. Tapi, apa?

Tatkala rasa sedih datang dan menangis adalah jalan keluar, Ayah datang menemani. Lelaki tua itu membawa sebotol susu sapi segar bersama dengan anak sulungnya, Min Seokjin.

Yoongi yang saat itu gembira dengan kedatangan Ayah bersama susu di tangan, seolah terkejut. Ia baru mengingat kalau sebenarnya dirinya memiliki kakak laki-laki.

"Hai, Min kecil!" Seokjin yang berumur 10 tahun itu menyerbu badan mungil Yoongi, lantas menggendongnya. "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, adikku sayang!"

Tak lama, Yoongi merasakan sosok yang hilang terganti dengan adanya Seokjin di hidupnya. Dekapan dan hujan kecupan sangat hangat. Yoongi kecil sayang Kak Seokjin. Sangat.

Kebahagiaan itu berhasil menutupi presensi Ibu yang seharusnya ada justru tidak ada. Sampai Yoongi menginjak usia 20 tahun, ia masih berpikir siapa itu Ibu? Mengapa dirinya tak memiliki Ibu seperti orang-orang di luar sana?

Sewaktu Tuan Min pulang dari dinas di luar kota, Yoongi yang baru masuk SD pun akhirnya membuka pertanyaan mengenai Ibu. Lantas, ayahnya bungkam. Ada senyum dipaksakan di sana yang kemudian Seokjin datang untuk mengalihkan pembahasan itu.

Kini untuk memenuhi penasaran, Yoongi berusaha mencari tanpa berkoar. Diam-diam ia mencari titik peristiwa yang terjadi pada keluarganya. Nihil. Rupanya Ayah begitu lihai menutupi semuanya, sampai hal terkecil.

Tapi, tidak dengan selembar surat yang sudah terselip di bawah bantalnya.

"Yoongi, Ayah tahu apa yang kau cari." Seolah penantian panjang berakhir, apakah ini jawaban dari semuanya? "Bersamaan dengan usiamu yang menginjak 20, rasanya sudah cukup untuk kamu tahu mengenai ibumu."

Ibu.

Akhirnya.

Sendok yang berisi suapan terakhir di sarapan paginya, akhirnya Yoongi urungkan untuk melahapnya. Ia terlanjur terkejut dan lebih menarik diri untuk mendengar saksama ucapan sang Ayah.

Apalagi dilihatnya, Seokjin yang mengangguk setuju kalau waktunya sudah pas. Raut wajah kakaknya itu seraya tersenyum sambil mengusap lembut tengkuk Yoongi.

Manik matanya seolah berkata, sudah saatnya kau tahu, adikku sayang.

Tuan Min bercerita mengenai kepergian istrinya yang mendadak pergi karena merasa kecewa terhadap dirinya, kesalahpahaman yang menjadikan Ibu Yoongi dan Seokjin pergi tanpa pamit. Meninggalkan kedua anak serta suaminya.

Yoongi sebenarnya tidak tidak terlalu terkejut dengan penjelasan itu, sebab ia tahu kalau Ibu pergi kabur. Semua tertulis dalam surat itu, Ayah meniduri wanita lain. Dan Kak Seokjin yang dulunya menetap di Daegu, rumah kakek nenek akhirnya kembali pulang ke rumah.

"Ayah, apakah aku akan seperti Ibu?" Beberapa waktu terdiam, Yoongi akhirnya melempar pertanyaan.

"Maksudmu apa Yoon?"

"Apakah aku akan segera melihat semuanya?" Manik matanya mengedarkan pandangan ke seisi ruang makan. "Seperti yang dilihat Ibu?"

Untuk beberapa saat Ayah berhenti melanjutkan makannya, ia melemparkan pandangan ke arah Seokjin hingga keduanya saling pandang. Wajah pucat menyembul di sisi wajah Ayah dan kakaknya.

"Memang apa yang dilihat Ibu?" Putra Sulung dari Tuan Min mencoba bertanya.

"Arwah."

***

Sekelebat memori 2 tahun lalu berjatuhan di kepala Yoongi, tatkala sinar mentari pagi membuatnya tersadar.

Tepat 2 tahun lalu, kali terakhir Ayah tersenyum. Kali terakhir ia makan bersama di meja makan. Sebab, setelah Yoongi mencoba bertanya perihal kebenaran dari sebuah surat yang ia dapat sedari kecil, justru membuat keluarganya hancur berkeping. Sikap Ayah yang lembut mendadak menjadi kasar dan dingin padanya, sosok yang dikagumi sudah menghilang dalam sekejap. Apalagi kakaknya yang sudah diberi batasan untuk bertemu dengannya.

Kini Yoongi hanya diberi kesempatan untuk bertemu keduanya satu kali dalam seminggu, ia di tempatkan di sebuah rumah kecil yang sengaja dibangun dua tahun lalu. Tepatnya di belakang rumah, bersama kebun stoberi yang mengelilinginya.

Di rumah kecil itu, Yoongi hanya ditemani tumpukan kanvas serta peralatan lukis. Perihal sekolah, selepas lulus SMA ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke jurusan seni rupa. Walaupun sang Ayah masih memberikan kebebasan dan kesempatan untuknya melanjutkan pendidikan. Tapi, Yoongi rasa ini bukan waktu yang tepat.

Pemuda itu masih ingin beradaptasi dengan kelebihannya yang diturunkan dari Ibunya.

"Kalau kamu ingin kembali menetap di rumah ini, kamu harus penuhi keinginanku!" Begitu ucapan Ayah tatkala Yoongi sudah bisa menggunakan indera keenamnya, ia dipindahkan ke rumah kecil dan menetap seorang diri. Merasakan ketakutan dengan sekelilingnya.

Bagi mata normal, tidak akan mampu melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Tapi, bagi Yoongi itu adalah kesempatan emas. Di mana ia bisa merasakan apa yang ibunya rasakan. Ada rasa senang di sana, walaupun kuantitasnya tidak sebanyak rasa takutnya. Tapi, percayalah dengan itu Yoongi bisa bertemu dengan sang Ibu.

"Yoongi, Sayang." Suara khas itu terdengar di balik pintu, membuat Yoongi beranjak dari ranjangnya. "Kakak?" Lantas ia membuka pintu dan menyambut Seokjin dengan pelukan erat.

"Kau baik-baik saja?" Gelengan kecil menyusul. "Aku membawakan makanan kesukaanmu."

"Kak, tak bisa kah kakak memohon pada Ayah?" Pemuda itu menyuguhkan potongan kue pada adiknya. "Makanlah."

"Kak aku takut, mereka menggangguku." Yoongi memandang sang kakak dengan memelas. Terlihat kedua pasang matanya kuyu, ada lingkaran hitam di bawah mata. "Sudah berapa malam kau terjaga, Yoon?"

Yoongi bungkam, rasanya ia ingin mati saja hidup seperti penjara. Dengan aktifnya kemampuan itu, mengapa Ayah seolah membuangnya? Padahal Yoongi sangat membutuhkan kehadiran keluarga untuk menemaninya, untuk sekadar mengalihkannya dengan makhluk-makhluk ini.

"Kau harus turuti perkataan Ayah, Yoon."

Tidak. Tidak. Ia tidak mungkin menuruti permintaan Ayah dengan mengangkat kedua bola matanya dan menyudahi huru-hara ini. Bagaimana bisa Yoongi hidup tanpa melihat warna?

Yoongi memandang Seokjin dengan tatapan seolah tak percaya. Alih-alih merespon kakaknya dengan anggukan setuju atau gelengan untuk menolak, justru Yoongi mengedarkan pandangan ke sisi ranjang. Lalu tersenyum. "Sudah ada Ibu di sini, mereka tidak lagi menggangguku."

Sementara Seokjin terkesiap, tangannya gemetar. "Ibu?"

Yoongi mengangguk, "Ibu sudah datang. Dan aku tidak lagi merasa ketakutan, Kak."

-
Selamat membaca dan menikmati.
Sampai jumpa di bab berikutnya.
💜💜💜
Salam,
Nocholatte.

ʟᴀᴄʜʀʏᴍᴏꜱᴇ [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang