"Dimanapun kalau ada kamunya, tempat yang membosankan bagiku sekalipun berubah menjadi menyenangkan." - Liana Arabella Syandana.
*********
Bibir tipis itu tidak henti-hentinya menyenandungkan lagu favoritnya. Sesekali ia tersenyum ramah ketika ada murid yang menyapa. Dengan ceria Liana melangkahkan kakinya menuju kelas.
Hari ini suasana hatinya sangat bagus. Karena insiden saat ditangga kemarin, Liana tidak bisa berhenti tersenyum. Bayangan-banyangan kejadian itu selalu berputar diotaknya dan masih sangat mampu membuat jantung Liana berdebar-debar dengan pipi yang memanas.
Liana berbelok kekiri memasuki kelas yang mulai ramai karena bel masuk akan berbunyi sebentar lagi. Ya, Liana memang selalu ngaret datang kesekolah, mepet-mepet dengan bel masuk berbunyi. Hanya saat ada PR Mtk atau Fisika saja gadis itu akan datang paling pagi.
"ASSALAMUALAIKUM YAA AKHI YA UGHTEA," teriak Liana bernada membuat sebagian murid IPA 3 menoleh kearahnya.
"Waalaikumsalam ughtea. Udah ngerjain biologi belom ughtea?" tanya Alvan-teman sekelasnya-menghampiri Liana dengan senyuman manis dan suara yang dilembut-lembutkan.
Tentu saja ada maunya!
Liana mengibaskan rambutnya, pede. "Lo nanya sama anak rajin nan teladan kayak gue gini? Yaa jelas udah dong." ujar Liana dengan muka tengilnya.
Seketika wajah Alvan berubah datar mendengar kecongkakan seorang Liana. "Helehh rajin nan teladan. Lupa anda mtk NYONTEKnya sama saya!" kata Alvan menekan kata 'nyontek'.
"Hehe santai atuh Mamang," Liana menyengir lebar. "Nih ambil ditas," Liana berdiri membelakangi Alvan membiarkan cowok itu membuka tasnya untuk mengambil buku biologi.
"Dahh nih, tengkyuu bebihh." Alvan berjalan menuju tempat duduknya untuk menyalin PR biologi Liana.
"Ehh Li gue nyontek juga ye," ujar Beni duduk disamping Alvan.
"GUE JUGA MAU WOI GESER!" sahut Julian.
"Liiii gue juga liatt!!"
"Akuu pun,"
Beginilah rutinitas pagi sebelum bel berbunyi dikelas IPA 3, menyalin PR teman. Liana memang pintar dalam mata pelajaran biologi, tak heran teman sekelasnya selalu menyalin PRnya, Liana pun tidak masalah dengan hal itu, karena jika dipelajaran hitungan gantian Liana yang akan mencontek kepada mereka. Semacam simbiosis mutualisme.
Liana berjalan ke tempat duduknya yang kebetulan sudah ada Aubrey disana, sedang memainkan ponsel sambil senyum-senyum. Sekali melihat pun Liana langsung tahu apa yang sedang dilakukan cewek itu.
Tentu saja chat dengan Kak Risky sang ketos.
"DOORR!"
"AYAM EH AYAM!" pekik Aubrey terkejut.
Liana tertawa puas melihat Aubrey. "Dih latahan kek emak-emak." ujar Liana seraya duduk disamping Aubrey, tepatnya di kursi ketiga barisan pojok.
"Pikirin aja bego! lo teriak dikuping gue, gimana gue nggak kaget coba." kesal Aubrey kemudian kembali fokus pada ponselnya lagi.
"Chat sama siapa sihh, Brehh?? Haaa sama siapa siii, sama yang ketoss ituu yaa?"
Aubrey mendelik garang pada Liana, ada perasaan menyesal memberitahu teman gacornya itu. "Ehh berisik njing ntar ada yang denger!"
"Yaa biarin sii orang pada punya kuping,"
"Woiii Bu Gita dateng woiii balik ke bangku masing-masing gece!!!" Teriak Rafa-ketua kelas IPA 3-dengan wajah paniknya didepan pintu sambil menyembulkan kepalanya sedikit kearah luar mengawasi guru biologi yang sangat killer itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHOOSE OR LOSE
Ficção AdolescenteSeandainya kamu tahu. Satu saja perlakuan manis yang kamu berikan kepadaku, menumpuk begitu banyak harapan besar dihatiku. -Liana Arabella Syandana Kailendra Alderio, laki-laki tampan yang setahun belakangan ini memenuhi hati seorang gadis remaja be...
