Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu
Sungguh ku tak menahan bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku selamanya...
Rio Febrian- Bukan Untukku.
*****
Waktu masih menunjukkan siang hari, tapi Liana sudah sibuk memilih-milih baju yang akan dia kenakan untuk menemui Kai nanti sore.
Sungguh, sebenarnya baju Liana itu banyak. Tapi kenapa disaat seperti ini, Liana merasa tidak punya baju bagus sama sekali?
Kalau Aubrey ada disini, mungkin cewek itu akan mengejek dirinya terlalu lebay. Tapi, entahlah Liana hanya merasa ingin tampil sempurna dihadapan Kai. Apalagi mengingat tujuan utamanya menemui Kai adalah untuk menyatakan perasaan, maka dari itu Liana harus tampil maksimal.
Apa hanya Liana yang seperti ini?
"Buset, ini kamar atau tempat penampungan baju bekas?" Seru Revan dari ambang pintu, membuat Liana mendelik sebal kearahnya.
"Apasih bang, Sana, ah!"
"Mau ngapain sih bongkar lemari? Ada tikus?" Tanya Revan seraya berjalan memasuki kamar Liana. Melewati baju-baju yang kini sudah berserakan di kasur dan juga lantai kamar cewek itu.
"Enggak."
Revan mengernyit, bingung. "Lah, terus?"
"Eng... Iseng doang." Jawab Liana asal.
Mendengarnya, Revan langsung menyentil dahi Liana dengan kencang membuat cewek mungil itu mengaduh kesakitan. "Gue bilangin bunda lu," Ancam Revan.
"Dih, kayak anak SD aja sukanya ngadu."
"Ngapa? Masbuloh? Masalah buat lo?" Ujar Revan dengan tampang nyolotnya. "Serius gue mah, dek. Gue bilangin bunda." Revan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Hal itu membuat Liana panik seketika. Dengan gerakan cepat Liana mencoba merebut ponsel Revan, tapi cowok itu dengan cepat menghindar. Lalu senyum tengil terbit diwajah Revan.
"Jangan gitu napa, bang..." Ucap Liana dengan wajah memelas.
"Oke," Balas Revan sambil mengangguk. "Tapi masakin gue mie dulu." Lanjut dengan cengiran lebar.
"Dih, ogah! Masak aja sana sendiri." Tolak Liana. Dia kan lagi sibuk mencari baju yang terbaik untuk nanti sore.
"Ohhh gituuu," Revan kembali membuka ponselnya. "Telpon bunda, ahh,"
Melihat Revan yang sepertinya serius dengan ancamannya, buru-buru Liana menghampiri cowok itu. "Iya, iya! Nyebelin banget sih, lo jadi abang!"
"Nah gitu kek dari tadi. Gue udah lapar." Revan tersenyum puas, kemudian melangkah keluar dari kamar Liana. Namun, saat kakinya tiba diambang pintu, Revan berhenti sejenak. "Oh iya dek, jangan lupa pake telor." Setelah itu, Revan kembali berjalan, mengabaikan Liana yang sedang mati-matian menahan diri agar tidak melempar cowok itu dengan kursi.
Dengan sangat terpaksa Liana beranjak dari kamarnya menuju dapur. Memasak mie dengan perasaan dongkol. Bibirnya tidak berhenti mengumpati abang laknatnya itu. Tidak pengertian sekali, padahal adiknya sedang ingin memperjuangkan cintanya. Bukannya didukung malah disuruh masak mie.
"LI, DISAMPER FANO NIH!" Teriak Revan dari arah ruang tengah.
Liana mengernyit, tumben sekali Fano datang kerumahnya di hari libur seperti ini. Biasanya cowok itu selalu kelayapan sampai malam bersama teman-temannya. Tidak berapa lama suara langkah kaki terdengar memasuki dapur. Liana menoleh, dengan tangan yang masih sibuk mengaduk mie.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHOOSE OR LOSE
Fiksi RemajaSeandainya kamu tahu. Satu saja perlakuan manis yang kamu berikan kepadaku, menumpuk begitu banyak harapan besar dihatiku. -Liana Arabella Syandana Kailendra Alderio, laki-laki tampan yang setahun belakangan ini memenuhi hati seorang gadis remaja be...
