satu

67 8 17
                                        

Tau bucin? Itu aku!!!






Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta yang ....

"Haduh duh ... sakit tau! Siapa sih yang tarik rambut gue!" sengit Niken.

Nyanyiannya jadi berhenti karena rambutnya ditarik seseorang dari belakang. Tadi adalah suara Niken yang paling bagus setelah uji coba berkali-kali menyanyi di kamar mandi dan semua harus gagal karena perbuatan seseorang yang sangat tidak diinginkan Niken untuk disapa.

Benar saja, belum menoleh, Sivel sudah menarik kursi di sebelahnya. Cemberut dengan wajah ditekuk dan bibir maju sampai gerbang sekolah, harusnya adegan itu bagian Niken kan? Kenapa terbalik? Bikin kesal saja. Padahal tadi intonasi Niken sudah pas, tapi Sivel merusaknya.

"Lo sih, bikin polusi. Udara pagi kan jadi tercemar karena suara cempreng lo itu." Tanpa dosa Sivel langsung duduk di bangku samping Niken. Beruntung belum ada yang duduk di sana. Andai dia telat, pasti akan diisi dengan cowok lain. Menghela napas lega sekaligus bahagia. Alasan pertama Sivel datang pagi adalah tidak ingin bangku disebelah Niken ada yang mengisi selain dirinya. Takut Niken menaruh hati dan malah sulit peka terhadap perasaannya.

"Paan! Suara sebagus Rihanna gini kok dibilang cempreng, gue ceburin ke laut, baru tau rasa lo," kesal Niken.

Sadar posisi Sivel yang duduk di sebelahnya, sontak Niken melotot lalu mendorong tubuh Sivel supaya menjauh dan menyuruhnya mencari kursi lain. Bahkan kakinya ikut bergerak mendorong kaki bangku itu supaya bergerak. Namun, bukan Sivel kalau penurut dia malah tak bergerak. "Eh, eh, gue nggak mau ya, duduk sebelahan sama lo. Sana, sana ... cari duduk lain. Ishh."

Sudah dikatakan bukan kalau Sivel bukan penurut, dia malah meletakkan kepalanya di meja, memejamkan mata pura-pura tidur. "Sivel! Gue nggak mau duduk di sebelah lo."

"Kenapa lo nggak ikut temen-temen ke rumah gue pas liburan kemarin?"

"Cieleh, kangen ya?" tanya Niken dengan senyum menggelikan dan kedua alis yang naik turun. Moodnya sudah kembali baik.

Sivel mengetuk kening Niken. "Ditanya itu dijawab, bukan malah balik nanya."

"Sakit tau. Udah dua kali lo kdrt ke gue pagi ini. Ketiga kalinya gue goreng lo di wajan emak gue," ucap Niken sambil menggosok keningnya yang tadi di ketuk Sivel. Menggembungkan pipi yang menandakan dia kesal. "Ya lo tau kan, warung emak gue kalo liburan rame. Jadi, mana sempet gue keluyuran nggak jelas. Mending bantuin emak! Dompet, perut dan surga yang dirindukan banyak orang terisi karena sikap sholehah gue." Tawa riang keluar dari mulut mungilnya.

Sivel mendengus menanggapi ucapan Niken, tapi tak lama kemudian ia tersenyum mendengar ucapan cewek di sampingnya. Hampir satu bulan mereka tak bertemu, Sivel akui dirinya sangat merindukan cewek di depannya ini. Alasan kedua Sivel datang pagi sekali hari ini adalah sosok disampingnya ini. Sebulan tak bertemu rasanya ada yang kurang. Hari-harinya hambar, seperti masakan yang kurang penyedap rasanya.

Niken, cewek yang tak pernah peka akan perasaannya, tapi peduli pada sekitarnya. Jarang mementingkan dirinya sendiri karena orang lain nomor satu. Cewek yang membuatnya rajin masuk sekolah dan selalu berisik di sampingnya. Baik, cerewet dan kadang bar-bar. Penyayang tapi kadang judes. Kalo ngomong pedes, tapi Sivel suka.

Kelas masih sepi saat keduanya asik adu mulut. Hari-hari mereka tak pernah absen dengan adu mulut. Meski kenyataannya debat itu selalu dimenangkan Niken, Sivel tak ambil pusing. Tujuannya hanya satu yaitu membuat Niken selalu bahagia. Meski harus menghabiskan beberapa botol minuman karena kehausan setelah debat tidak penting itu.

Nyanyian RinduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang