Halu!*lambai tanganGak tahu gak mau tahu aku bingung mau bikin cerita ini kea gimana lagi.
Angkat kepalanya, dilepas juga gak papa️😆
Meski kurang feel tetep koment ya.
Saran sangat dibutuhkan agar aku dapat ide kedepannya meski dah ada.
Enjoy ❤️
Ini hari ketiga semenjak kedatangan Mario ke Jogjakarta untuk menyusul istrinya. Dan entah di hari ke berapa pula ia menghabiskan waktunya tidak bersama Ify. Ah, ia jadi menyesal mengambil waktu cuti lama. Sebenarnya bisa saja Mario berangkat ke kantor. Namun, ia tak cukup tega membiarkan Ido berada di apartemen sendirian. Surat pindah sekolah Ido baru kemarin diurusnya, dan putra kesayangan baru akan bersekolah hari senin esok.
"Ido, makan siang di luar aja, yuk , ajak bunda," Ido yang masih bermain di karpet segera beranjak ke arahnya, Mario menutup tabletnya memusatkan perhatian pada sang putra.
"Ayok, Ayah, tapi Ido mau mandi, Ayah, gerah."
"Gak usah mandi, ganti baju aja. Nanti meriang."
Dengan cekatan Mario membawa Ido menuju kamarnya, mengganti pakaian sang putra dengan kain yang nyaman jika dipakai saat siang hari.
Lepas itu, mereka menaiki mobil menuju kantor wanita yang tengah dilanda kesibukan.
Raut kecewa nampak sekali di wajah kedua lelaki berbeda generasi tersebut. Ify sedang meeting di luar bersama kliennya. Kemungkinan juga mereka akan makan siang setelahnya.
"Kita makan di rumah aja, ya," Mario menawarkan tempat yang akan mereka tinggali minggu depan. Ify memilih untuk tinggal di mansion keluarga Mario yang berada di Jogja itu, daripada harus membeli rumah baru. Lagian rumah itu kosong, karena hanya akan ditempati jika orang tua Mario berkunjung ke Jogjakarta.
Ido kembali mengangguk, memilih untuk mengangkat kedua tangannya meminta Mario menggendong. Dengan senang hati, Mario membawa tubuh kecil anaknya, sebelum melangkah ia menyempatkan diri memberi ciuman singkat di pipi Ido. Hal itu tak luput dari pandangan karyawan yang berlalu lalang di kantor istrinya.
Malam menjelang, Mario sudah tiba di depan pintu ruangan kerja Ify. Jam di tangannya menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Namun, istrinya itu belum juga tiba di rumah, membuat rasa khawatirnya muncul. Selepas menitipkan Ido pada asistennya, ia beranjak menuju kantor wanita yang sekarang tengah terkejut melihat dirinya sudah berada di depan mata.
"Kakak, ngapain ke sini?"
"Susul istri yang nggak pulang-pulang. Seakan lupa dengan suami dan anaknya di rumah."
Ify menggeleng tak percaya, ia masih ada beberapa pekerjaan memeriksa berkas. Tadi baru saja ia tiba bertemu dengan salah satu kliennya, berlanjut menyelesaikan tugas hingga malam ini. Ia sangat dikejar deadline hingga hanya beristirahat untuk sholat dan makan.
"Aku ada kerjaan, Kak. Harus diselesaikan secepatnya."
"Untuk apa bawahan kamu jika masih numpuk banyak ini pekerjaan."
"Kak ...." Ify mulai akan memberikan suara.
"Bawa pekerjaan kamu ke rumah, nanti aku bantu selesaikan," putus Mario final. Akhirnya mau tidak mau Ify membereskan map-map yang menumpuk di meja kerjanya. Bukan Ify tak mau diambil alih oleh para bawahannya. Hanya saja ia masih proses belajar, jika suatu saat memegang kendali Hariawan group di pusat, tentu pekerjaannya akan lebih banyak dari ini. Maka dari itu Ify akan membiasakan diri.

KAMU SEDANG MEMBACA
Biologi's Father
RomantikMASA PERALIHAN SUDUT PANDANG. JADI JANGAN HERAN KALO POVNYA ACAKADUL. BACA SILAHKAN! YANG GAK MAU BACA YOWESS TIDAK MEMAKSA. Lima tahun Ify hadapi penderitaannya seorang diri. Hingga kemudian, seseorang pembawa penderitaan baginya hadir tanpa meras...