"Keguguran?" Mario yang duduk di depan dokter mengenai kondisi sang istri merasakan shock di tempat.
Jadi, Ify hamil? Ia tidak kaget mengenai hal itu. Ido saja sekali, langsung jadi.
Nasibnya malang sekali, kala bayi tiga minggu tersebut harus keluar dari rahim ibunya. Bahkan dia hadir tidak diketahui oleh orang tuanya.
"Secepatnya kita akan melakukan kuretase, Pak."
Mengangguk, dia belum membuka suara, "lakukan yang terbaik, Dok."
Lepas dari ruangan dokter, ia disambut oleh Alvin yang masih setia menemaninya. Mereka berdua beranjak dari sana dan menuju ruang rawat Ido.
Sementara ini, Ify dan Ido belum ada yang sadarkan diri. Keduanya masih enggan untuk membuka mata, entah sampai kapan.
Setidaknya Mario masih bersyukur akan hal itu. Dia belum memiliki jawaban yang tepat jika Ify mengajukan pertanyaan. Dia belum tega melihat Ido menangis karena badannya kesakitan. Apalagi tulang kakinya mengalami keretakan.
Sebagai ayah dan suami, jujur dia merasa gagal. Melihat anggota keluarganya seperti ini, siapa yang kuat hati? Mau menangis, ah, Mario sudah lelah menangis sia-sia. Tangisannya tak akan mengubah mereka ke bentuk semula.
Di depan ruang rawat Ido, Mario dapat melihat Shilla , Cakka, dan juga Sivia. Mata kakak iparnya memandang ia tajam. Mario paham maksud tatapan itu. Hal tersebut semakin dipertegas dengan ucapan Shilla ketika ia mendekat.
"Baru sebulan, dan ini yang mereka hadapi. Aku gak tahu kalau setahun atau beberapa tahun kemudian." Cakka merangkul bahu istrinya, memberi ketenangan.
"Ido kecelakaan, dan Ify entah kenapa ia bisa berada di ruang perawatan?!"
"Ify keguguran ...," lirihnya seraya menunduk. Shilla menganga tidak percaya.
"Kamu memang tidak bisa dikasih kepercayaan, Mario."
"Shill udah, sabar." Cakka masih setia merangkul bahunya. Menyandarkan Shilla yang mulai terisak di dadanya yang bidang.
"Adik aku sudah cukup menderita, lalu dia hadir, entah siapa yang memberikan ia kesempatan untuk membahagiakan Ify? Lalu sekarang, Ify kembali kesakitan."
Mario semakin menundukkan kepalanya. Entah kemana kepercayaan diri yang selalu ia tunjukkan saat ini. Kepercayaan diri kala ia bersama keluarganya. Kata-kata godaan yang ia luncurkan saat bersama Ify.
"Kenapa diam? Ayo jawab! Mana kebahagiaan yang kamu katakan untuk adik dan anak aku. Ayo jawab! Jangan diam saja."
Shilla naik pitam. Nada suaranya meningkat beberapa oktaf. Wajahnya memerah, manatap marah ke arah sang adik ipar.
"Maaf."
Pelan, pelan sekali ucapannya. Tetes demi tetes air mata meluncur, membayangkan janji yang ia ucapkan beberapa bulan yang lalu kala meminta Ify untuk hidup bersamanya.
Alvin mengambil alih keadaan. Membawa sang sepupu untuk duduk di kursi tunggu ruang Ido. Mario menolak, ia memilih pergi ke ruang rawat Ify.
"Keterlaluan kamu, Shill. Mario juga terpukul akan hal ini. Bukan hanya kamu."
"Diam. Kamu gak tahu apa yang aku rasakan. Lima tahun dia menderita, aku yang berada di sampingnya. Aku menemani kesakitan Ify, saat dia dihina, dicaci, dijauhi orang-orang. Ify tidak pernah bilang bahwa ia diperkosa, ia takut itu menjadi beban untuk Ido. Bagaimana seorang anak mendengar, jika ia anak hasil pemerkosaan? Ify diam. Dia menerima cacian dan hukuman para orang di luar sana. Dan itu tidak mudah, Vin."
Shilla masih meracau. Mencengkram kemeja Cakka erat.
Sementara Alvin yang tadi bersuara diam, selain tak pandai membalas kata-kata Shilla, isyarat dari sang istri yang menyuruhnya diam membuat Alvin tak bisa berkutik.
****
"Honey, bangun."
Di dalam ruang rawat Ify, Mario menggenggam tangan milik orang terkasih. Mencium, dan menatap Ify penuh cinta.
Ia menyayangi Ify, lebih dari yang kalian tahu. Enam tahun berlalu tanpa Ify di sampingnya amatlah berat. Ia sekuat tenaga menahan. Memandang anak dan gadisnya dari kejauhan.
Penderitaan yang Ify alami, cara Ify melindunginya dari amukan sang ayah, juga dari jalur hukum. Ify membersihkan nama Mario. Mungkin kala Ify mengadu ke polisi, sudah pasti penjara akan menantinya saat itu.
"Aku butuh kamu, Sayang. Maaf aku suami dan ayah yang buruk. Ido kecelakaan, kamu keguguran, adek pergi. Aku buruk banget, ya? Padahal kita nikah baru sebulan. Benar kata Shilla, nyesel aku mendekat, padahal hidup kamu sudah bahagia tanpa aku."
"Makasih udah ngertiin aku, rela berhenti dari pekerjaan kamu. Padahal kalau kamu senang dengan itu, aku gak masalah kamu tinggal. Aku gak masalah kamu sering sibuk. Dengan baik, kamu menghilangkan keegoisanmu. Demi aku yang bodoh ini."
"Jangan tidur lama-lama, aku butuh kamu. Love you, Yang."
Monolog Mario masih berlanjut. Matanya enggan berkedip saat menatap wajah Ify. Membelai dahi wanitanya penuh kelembutan.
Namun, semua itu harus berhenti karena dokter bersama seorang perawat masuk, Mario memberikan tempat pada orang-orang tersebut untuk menangani istrinya. Mengikuti langkah mereka yang membawa istrinya ke ruang operasi untuk dilakukan kuretase rahim.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biologi's Father
RomanceMASA PERALIHAN SUDUT PANDANG. JADI JANGAN HERAN KALO POVNYA ACAKADUL. BACA SILAHKAN! YANG GAK MAU BACA YOWESS TIDAK MEMAKSA. Lima tahun Ify hadapi penderitaannya seorang diri. Hingga kemudian, seseorang pembawa penderitaan baginya hadir tanpa meras...
