Sivia sudah cantik dengan gaun navy yang membungkus indah tubuhnya. Sedikit perutnya membuncit di usia kandungan 3 bulan. Begitupun dengan Ify gaun merah marun mengembang selutut sangat enak dipandang mata. Wajahnya yang ayu dengan polesan make up sederhana siap menemani mereka ke acara ulang tahun perusahaan kerabat Alvin. Harusnya Sivia datang bersama suaminya. Namun, Alvin sangat sibuk dan tidak bisa menjemput akhirnya, ia berangkat bersama Ify. Lagian wanita itu juga diundang.
Dengan mobil yang dikendarai oleh sopir kantor mereka tiba di sebuah rumah mewah bak istana keluarga Sanjaya. Ya acaranya sengaja di adakan di rumah bukan hotel seperti kebanyakan. Ingin lebih privat saja.
Keluarga Sanjaya adalah salah satu sepupu Alvin, ntah berapa sepupu suaminya itu, Sivia tidak peduli. Apalagi di Jogjakarta, mengingat dia hanya kenal keluarga Alvin yang berada di Jakarta saja. Itupun hanya nenek dan kakeknya dari pihak Mama. Papa Alvin berasal dari Jogjakarta makanya, Alvin dimutasi ke sini untuk mengurus perusahaan keluarga sang ayah.
Yang jelas dia istri Alvin saja sudah cukup.
"Mana nih si es?" Sivia mengedarkan pandangannya mencari sosok sang suami. Alvin yang cuek memang menjadi hal menjengkelkan baginya. Tapi, jika sudah manis, gula saja kalah dengan suaminya itu.
"Nanti juga nongol, Vi. Kak Alvin kan memang sedang sibuk."
Sivia masih saja ngedumel. Sampai kedatangan seseorang membuat omelannya berhenti. Berganti menghela wajah lesu.
Ify berjengit kaget tatkala ada tangan yang merangkul pinggangnya.
"Sayang, aku kangen." Dia menyentak tangan Rio yang berada di pinggangnya. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan pria ini. Sudah begitu muak Ify merasa. Sampai kapan ia harus berurusan dengan Mario.
"Jangan ganggu kami lagi, Mr. Ku rasa kamu tidak tuli kemarin." Kini Sivia angkat suara, agaknya dia juga begitu jengah dengan keberadaan pria itu. Tak henti-hentinya mengganggu sang bos.
"Aku tahu suamimu. Mau kuhancurkan perusahaan miliknya?"
Sivia menatap matanya memicing. Sepertinya pria ini punya dendam padanya setelah kemaren ia panggilkan security untuk mengusirnya dari perusahaan Ify.
Jiwa matrenya keluar, dia tak mau perusahaan Alvin bangkrut. Dia tak mau hidup susah, apalagi sedang hamil gini.
"Kamu itu jahat sekali, saya sedang hamil. Kamu mau membuat anak saya menderita dengan hidup susah. Kenapa kamu tidak punya nurani?"
"Nurani punya Iqbal. Apakah kamu tidak tahu? Dasar kudet."
Rahang Sivia hampir saja jatuh dari tempatnya. Kenapa ia harus dipertemukan dengan orang seperti Mario. Ternyata ada yang lebih menyakitkan daripada cueknya sang suami. Matanya berkaca-kaca, semenjak hamil dia sensitive sekali. Sampai akhirnya suara Alvin menginterupsi mereka.
"Kamu apakan istriku, heh?" Pria itu menatap Mario datar. Kemudian mengusap kepala Sivia.
"Tidak aku apa-apakan. Dia saja yang cengeng."
"Dia mau menghancurkan perusahaanmu, Vin." Sivia mengadu. Alvin mengelus kepalanya seraya tersenyum menenangkan.
"Biarkan saja. Dia belum pernah dipenggal kepalanya sama kakek. Lagian kalau aku bangkrut aku masih punya bisnis yang lain. Tenang, Sayang, suamimu ini kaya."
Mario berdecih, sepertinya sepupunya ini sudah terkena virus bucin, sama sepertinya.
Ify masih terdiam, menyimak apa yang sedang terjadi.
"Aku mau makan oreo merah itu loh, Vin, yang mahal." Mario menatap remeh ke arah pasangan itu.
"Kamu mau juga, Sayang? Aku beliin sekardus," tawarnya pada Ify. Wanita itu memilih menggenggam tangan Sivia. Aduh, padahal Mario sudah sangat ingin Ify menggenggam tangannya, pasti begitu halus terasa.
"Songong banget." Sivia baru tahu kalo Mario merupakan salah satu sepupu Alvin dari pihak mamanya, yang merupakan adik ibu Mario karena saat pernikahannya satu tahun yang lalu, Mario dan sekeluarga masih berada di Amerika.
"Kita makan, yuk. Kamu laparkan?"
"Ify?"
"Ada si Mario, mereka kan sedang kerja sama pasti sudah saling kenal," jawabnya santai, Alvin memang tidak mengetahui perihal Mario dan bos adiknya.
Sementara anak Hariawan masih terdiam saat Alvin dan Sivia pergi meninggalkannya. Mereka pamit untuk mengisi perut. Sekarang ia menjadi bingung ingin melakukan apa. Mau pulang, dia yang tidak enak.
"Ada yang mau bertemu kamu."
"Siapa?" Ify akhirnya menatap Mario, tangan itu terulur untuk mengusap puncak kepalanya. Lalu beralih melingkari pinggangnya.
"Ayo ikut aku," ajaknya, mau tidak mau Ify mengikuti kemauan pria itu.
Ify tiba di sebuah gazebo yang menghubungkan dengan taman bunga. Di sana dapat ia lihat sepasang wanita dan pria yang memasuki usia senja. Sedang makan, si wanita menyuapi pria yang terduduk lemah di atas kursi roda. Penyakit stroke menyerangnya, dia jadi teringat sang Ayah.
Mario menunjuk mereka, mengajaknya untuk mendekat.
"Ma ... Pa ...." Ify sempat terdiam sejenak, mencerna beberapa kata yang baru saja ia terima. Apakah ini orang tua Mario, semakin mendekat, semakin ia tahu bahwa mereka adalah sepasang suami-istri dengan kelas berada. Meskipun sudah sedikit renta, tapi nyonya Alexander masih terlihat cantik efek dari perawatan mahal.
"Apa dia?" Mario mengangguk, membuat ibunya tersenyum senang. Dia menatap Ify penuh binar kebahagiaan.
"Kamu Ify, Nak. Puji tuhan."
"Pa, ini Ify."
Berbeda dengan ayahnya, ternyata papa Mario masih bisa berbicara meskipun tidak jelas.
"Papa terkena serangan jantung saat aku mengaku memperkosamu dan membuatmu hamil. Waktu itu, papa melarangku untuk tidak lebih dulu menemuimu karena, pasti tidak akan diterima. Hingga aku pergi ke Amerika. Berusaha membangun perusahaan hingga seperti sekarang. Dan memintamu kembali."
"Ify," Panggilan itu terasa tidak jelas namun Ify dapat menangkap maksud dari Tuan Alexander.
"Apa kamu membawa cucuku?"
Mata itu menatapnya sendu, membuatnya semakin tidak tega.
"Ido berada di Jakarta, saya tidak bisa membawanya."
"Apakah kami bisa bertemu dengannya, Nak. Kami sangat ingin bertemu dengan cucu kami," Kini giliran nyonya Alexander yang buka suara.
"Maaf, Tante. Tapi, keluarga saya melarang itu. Saya tidak ingin membuat mereka kecewa."
"Ify katakan, bagaimana agar Rio bisa mendapatkan maaf dan bertanggung jawab atasmu. Kalaupun untuk menjadi mualaf dia sudah melakukannya 5 tahun yang lalu. Tolong terima Mario, Nak."
Ify kembali terkejut dengan pernyataan yang baru saja diterimanya. Mario? Mualaf? Dua kata yang tak bisa lagi ia pikirkan. Apa deminya. Mario rela melakukan semua.
"Kami rela jika Mario memilih itu semua. Demi Tuhan. Jikapun kamu meminta kami untuk menjadi seorang muslim kami lakukan, Ify."
"Saya belum tahu, Om Tante. Maaf saya belum bisa melakukan semuanya. Karena bagi saya, kebahagiaan keluarga itu yang terpenting. Saya permisi. Terima kasih."
Ify berlari, meninggalkan Mario bersama kedua orang tuanya. Kenapa harus runyam seperti ini? Kenyataan baru saja menamparnya. Sedikit menyusup bunga-bunga bahagia tatkala mendengar Mario telah satu keyakinan dengannya. Namun, di sisi lain dia bingung, dia bimbang dengan semua ini. Ayah, bantu Ify, yah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biologi's Father
RomanceMASA PERALIHAN SUDUT PANDANG. JADI JANGAN HERAN KALO POVNYA ACAKADUL. BACA SILAHKAN! YANG GAK MAU BACA YOWESS TIDAK MEMAKSA. Lima tahun Ify hadapi penderitaannya seorang diri. Hingga kemudian, seseorang pembawa penderitaan baginya hadir tanpa meras...
