Pagi-pagi
saat burung gereja, kutilangan dan merak belum merdu berkicau, bapak-bapak tukang antar koran sudah duluan mengayuh sepeda.
Dalam pikirannya, kabar-kabar dalam koran itu harus duluan sampai dibanding kabar burung pagi hari. Diantara ibu-ibu dan penjual sayur. Diantara penjual ikan dan penjual daging sapi.
Dikayuhnya sepeda tua itu menelusuri dingin yang tidak hujan dan tidak ber gua.
Dilemparnya satu persatu koran itu kedalam pekarangan rumah. Termasuk rumahku.
Matahari mulai berjalan. Aku mengambil koran. Kudapati koran itu kosong tanpa kata-kata. Aku heran.
Apakah kata-kata dan kabar dari koran itu sudah duluan di curi seekor burung? Atau jangan-jangan, bapak tukang koran sudah korupsi?
Atau jangan-jangan cinta sudah memenggal kata-kata. Memutilasi kabar di dalam koran. Lalu, ia berikan pada burung. Hingga burungpun pandai membuat kabar. Kabar burung.
Kasihan bapak pengantar koran itu. Sudah susah payah tapi kata-katanya malah di curi dan dia tidak sadar. Cinta memang gila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jika Kau Tidak Keberatan
Acakisinya tentang kamu saja. kamu yang terlewati. kamu yang sedang bersamaku. dan kita kedepannya.
