"Bahkan yang aku genggam sekuat tenaga bisa pergi dan jutaan harapan yang aku ikhtiarkan bisa pupus. Allah yang membuat skenario hidup bagi tiap-tiap hamba-Nya dan Allah juga yang akan mengatur alurnya. Tugasku hanya meyakini bahwa ketetapan Allah adalah yang paling terbaik sekalipun di sandingkan dengan jutaan harapanku."
Silvia
🍁🍁🍁
Suara adzan subuh berkumandang membangunkan setiap mukmin untuk memenuhi panggilan Allah. Sementara itu Zulaikha sudah siap dengan mukenanya dan berjalan menuju kamar adiknya untuk mengajak Silvia shalat berjamaah. Ternyata adiknya baru bangun.
"Eh kakak." Ucap Silvia masih mengucek matanya sembari mengumpulkan nyawanya.
"Kita shalat berjamaah ya, kamu ambil wudhu dulu." Ucap Zulaikha sambil tersenyum.
"Iya kak, aku ke kamar mandi dulu." Tanpa banyak membuang waktu Silvia langsung melesat ke kamar mandi.
Setelah rapi dan memakai mukena mereka pun shalat subuh berjamaah di kamar Zulaikha. Mereka menumpahkan segala kegelisahannya di sujud terakhir mereka, mengharap ketenangan hati dari segala bentuk gundah yang mereka rasakan.
Setelah selesai, Silvia mencium punggung tangan kakaknya.
"Kamu sakit dek?" Tanya Zulaikha dengan raut wajah cemas sambil menyentuh jidat Silvia.
"Tidak kok kak, aku baik-baik saja." Ucap Silvia sambil tersenyum.
"Tapi kenapa kayak lemes gitu mukanya, itu juga mata kenapa sembab gitu. Semalam kamu habis nangis?" Tanya Zulaikha.
Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari kakaknya, Silvia hanya tersenyum lebar mencoba menutupi kesedihannya.
"Tidak kok kak, aku sehat, happy juga." Jawabnya dengan menampilkan senyuman khas iklan pasta gigi.
"Alhamdulillah kalau kamu tidak apa-apa." Ucap Zulaikha sambil mengusap puncak kepala adiknya.
"Ohiya kak, aku ke kamar dulu ya." Ucap Silvia, yang dibalas anggukan dari kakaknya.
Zulaikha mulai mengambil mushaf dan murojaah hafalannya QS. Al-Baqarah. Suara yang begitu merdu membuat siapapun yang mendengar firman Allah akan hanyut di dalamnya. Menenangkan bagi setiap hati yang sepi, menyegarkan jiwa yang gersang. Suara Zulaikha pun terdengar sampai ke kamar Silvia. Silvia yang mendengarkan sangatlah takjub, walaupun tak semua arti dari ayat itu dia ketahui.
Sampai pada ayat 216 dari surah tersebut terdengar
وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).
Mendengar itu, air mata Silvia runtuh tak bisa di tahan lagi. Pergejolakan hati saat mendengar perkataan ayahnya kini mulai terjawab. Dia pun menuju kamar kakaknya.
Zulaikha kaget karena tiba-tiba ada yang memeluknya sambil menangis.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Zulaikha cemas.
"Tidak apa-apa kok kak, aku cuma terharu aja denger suara kakak. Ma syaa Allah banget." Ucap Silvia sambil mengusap air matanya karena tidak ingin membuat kakaknya khawatir.
"Bagaimana dengan keputusan kakak tentang pertanyaan ayah?"Lanjut Silvia.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan, termasuk perasaan. Aku tidak mau keputusanku membuat orang terluka dek." Jawab Zulaikha sambil memandang ke arah lain dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Silvia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dalam Dekapan Islam
SpiritualJika Islam dapat memuliakanmu, maka mulialah dengan Islam
