Kecocokan itu penting dalam sebuah hubungan, seperti bongkahan puzzel yang hanya bisa diisi hanya dengan yang seharusnya.
🍁🍁🍁
Nampak di ruang tamu sudah duduk Ayah Zulaikha yang kini sedang berbincang dengan seorang pemuda yang nampak rapi. Keduanya hanya membahas tentang bagaimana kehidupan pemuda itu diperantauan.
Sebelum mereka membahas mengenai maksud dan tujuan pemuda itu datang.
"Sekarang kamu sudah banyak berubah ya nak." Ucap Ayah Zulaikha tersenyum.
"Tidak juga kok pak." Jawab pemuda itu sopan. Meskipun ia merasa agak gugup, tetap saja ekspresi wajahnya harus dibuat setenang mungkin.
Tidak lama kemudian Ibu Zulaikha datang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan sepiring kue lalu menyajikannya diatas meja.
"Silakan diminum dulu nak tehnya mumpung masih anget, ibu kedapur dulu." Ucap wanita paru baya tersebut lalu kemudian berjalan menuju dapur.
"Ekheem..." Ayah Zulaikha berdehem untuk memecah keheningan.
"Minum dulu nak." Ucapnya.
"Iya pak, terima kasih." Ucap pemuda tersebut sambil menyeruput teh tersebut.
"Begini pak, maksud kedatangan saya kesini untuk mendengar jawaban dari Zulaikha terkait dengan niat baik saya ingin melamar anak bapak." Ucap pemuda tersebut.
"Saya benar-benar serius ingin menjadikan putri bapak sebagai istri saya yang akan selalu saya bahagiakan." Sambungnya lagi mencoba meyakinkan.
"Dengar nak Budi, saya tau kamu anak yang baik dan bertanggungjawab. Saya juga bangga karena kamu berani menyampaikan langsung niat baik kamu ingin melamar anak saya tanpa berani mendekati dan mengajak anak saya pacaran terlebih dahulu." Ucap Ayah Zulaikha sambil tersenyum.
"Sudah seharusnya seperti itu pak." Ucap Budi sopan.
"Tapi semua keputusan ada ditangan Zulaikha nak, biarkan kamu mendengar jawabannya sendiri." Ucap Ayah Zulaikha.
"Zulaikha, kemari nak."
Merasa namanya dipanggil, Zulaikha keluar kamar dan segera mendekati ayahnya.
"Sini duduk nak." Ucap Ayah Zulaikha sambil menepuk sofa yang ada disampingnya seolah menginstruksikan anak gadisnya untuk duduk disana.
"Baik pak." Ucap Zulaikha sopan, lalu duduk di samping Ayahnya.
"Begini nak, masuk kedatangan Budi kesini untuk mengetahui jawaban kamu mengenai keinginannya untuk menikahimu." Ucap Ayah Zulaikha serius sambil menatap anaknya.
Zulaikha terus mencoba menenangkan hatinya. Sebenarnya ia tak tega menolak lamaran sahabatnya itu, ia sangat tau kalau Budi orang yang sangat baik, pemahaman agamanya bagus dan sudah mapan. Hanya saja ia tak pernah memiliki perasaan lebih kepada pemuda itu. Hanya ada perasaan sayang sebagai adik dan kakak, tidak lebih. Zulaikha juga tak menyangka kalau Budi memiliki perasaan lebih terhadapnya. Namun, Zulaikha harus mengambil langkah yang benar karena ini menyangkut pernikahan yaitu ikatan suci yang tidak boleh putus hanya karena hawa nafsu semata.
"Sebelumnya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Mas Budi karena saya tidak bisa menerima lamaran ini." Ucap Zulaikha sambil menunduk.
Deg
Jawaban Zulaikha membuat Budi mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk untuk melihat manik mata gadis yang ia harapkan saat ini.
"Saya hanya menganggap mas Budi sebagai Abang ku saja, tidak lebih. Saya tidak ingin memaksakan perasaan karena sesuatu yang dipaksa itu tidaklah baik, terlebih ini mengenai pernikahan. Kuharap Mas mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari pada saya, sekali lagi saya mohon maaf mas." Ucap Zulaikha lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Memang ini yang seharusnya Zulaikha lakukan, tidak memberikan harapan lebih ketika dirinya memang tidak memiliki perasaan yang sama kepada mas Budi.
"Terima kasih atas jawabannya. Saya kesini sudah menyiapkan hati untuk menerima jawaban apapun yang kamu berikan, kuharap kita bisa terus menjadi sahabat." Ucap Budi tersenyum membuat Zulaikha dan Ayahnya lega karena pemuda di depannya ini sangatlah dewasa untuk menganggapi sesuatu. Meskipun dilubuk hati Budi yang paling dalam ada rasa kekecewaan karena wanita yang dicintainya tidak merasakan hal yang sama. Tapi semuanya atas kehendak Allah, Budi ikhlas.
....
Setelah Budi pamit, Zulikha ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada Ayah, Ibu dan Adiknya.
"Begini Ayah, Zulaikha dapat email dari pihak penyelenggara beasiswa di Turki. Alhamdulillah... Zulaikah dinyatakan lulus." Ucap Zulaikha dengan mata yang berbinar.
"Alhamdulillah ya Allah..." Ucap ketiga orang yang ada di samping Zulaikha, sambil memeluk gadi itu.
"Ayah bangga sama kamu nak." Ucap Ayah Zulikha.
"Jadi anak cantik ibu akan lanjut kuliah di luar negeri ya.." Ucap ibu Zulikha sambil mengelus puncak kepala anaknya.
"Cie cie....ada yang mau ke Turki nih." Ucap Silvia sambil melompat kegirangan seperti anak kecil yang diberi perpen.
"Ini semua berkat doa ayah, ibu dan silvia." Ucap Zulaikha tulus.
"Ohiyaa, kapan kamu berangkatnya nak?" Tanya ayah Zulaikha.
"In syaa Allah pekan depan pak." Jawab Zulaikha.
"Pokoknya kamu disana harus jaga diri nak, makan yang teratur dan shalatnya dijaga." Ucap Ayah Zulaikha kemudian diangguki oleh anak gadisnya itu.
"Sering-sering nelfon ya kak." Pinta Silvia.
"Ibu bakal rindu sekali sama kamu nak." Ucap ibu Zulaikha sambil memeluk anak sulungnya dan tak kuasa menahan tangis. Melihat hal itu Silvi juga itu memeluk keduanya.
"Ya Allah...kutitipkan keluargaku." Batin Zulaikha penuh harap. Sambil menyeka air matanya.
...
Hari keberangkatan Zulikha ke Turki pun tiba, saat ini gadis itu sudah ada di bandara. Setelah berpamitan dengan keluarganya yang penuh haru, dia segera bergegas karena sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. Tiba-tiba....
Bruk...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dalam Dekapan Islam
SpiritualJika Islam dapat memuliakanmu, maka mulialah dengan Islam
