•••
Jika kalian bertanya pada Jina, apa yang paling berbahaya di dunia ini?! Maka dengan lantang Jina akan menjawab, hal yang paling berbahaya di dunia adalah ruas jari panjang Jungkook.
Bayangkan, bagaimana Jina harus menahan jiwanya yang seakan dibawa melayang menembus langit ketujuh, hanya dengan dua ruas jari saja yang bergerak memutar hingga menusuk tepat pada bagian terdalam pusat tubuhnya.
Ruas jari kaki Jina tertekuk saat merasakan bagaimana rasanya terhempas dan terjatuh saat seseorang membuatmu melayang keatas awan saat pusat tubuhnya terasa kembali kosong ketika jari-jari nakal itu ditarik keluar dengan pelan diiringi sebuah aliran kecil yang berasal dari dalam tubuh Jina.
"Jina-ku sangat cantik.."
Berkali-kali rungu Jina mendengar kalimat-kalimat memuja yang dilontarkan oleh pria berbadan tegap dengan peluh yang mulai mengaliri tubuh polosnya dan mata sayu yang memandang penuh gairah kearah wanitanya yang tengah memejamkan mata saat mengalami gelombang kenikmatannya.
Jungkook tak membiarkan Jina beristirahat barang sedetik pun. Dengan gerakan pelan dan penuh hati-hati, Jungkook mencoba memposisikan diri diantara kedua kaki Jina yang terbuka seakan-akan sesuatu yang berada diantara kedua kaki itu memanggilnya untuk segera kembali disentuh dan disapa oleh miliknya yang mulai tampak tegang dengan sempurna menantang gravitasi bumi.
Saat Jina belum kembali merasakan lega secara sepenuhnya, wanita itu kembali merasakan sebuah benda tumpul dengan ukuran yang lumayan besar dari Jari sang kekasih, mencoba membelah pusat tubuhnya yang terasa sangat sempit dan licin.
Tubuhnya seakan tertarik kuat untuk segera bangkit dari posisi berbaringnya, terduduk diantara kedua paha sekal Jungkook dengan pusat tubuh mereka yang telah menyatu dengan sempurna.
Kedua netranya pertama kali menangkap gurat wajah tampan Jungkook yang masih berselimut nafsu, memandang tepat kearahnya dengan sebuah senyuman tampan yang begitu memabukkan bagi dirinya.
Tanpa persetujuan dari sang kekasih, Jina langsung menyambar kedua bilah bibir Jungkook yang memerah dan terasa lembab saat menyentuh permukaan bibirnya yang memiliki keadaan sama dengan Jungkook. Menahan tengkuk sang kekasih dan bergerak kekiri dan kekanan untuk memperdalam ciuman panas mereka seolah-olah tak ada lagi hari esok.
Tubuh Jina terhentak kecil saat dengan tiba-tiba bagian bawah tubuhnya merasakan sebuah dorongan yang cukup dalam hingga membuatnya hampir meloloskan desahan yang selalu menjadi melodi indah kesukaan Jungkook saat mereka bergulat panas diatas ranjang.
Pemandangan malam kota Seoul dari luar jendela apartemen Jungkook dan cahaya rembulan yang memantul masuk kedalam apartemen yang hanya bermodalkan cahaya temaram menjadi saksi bisu-dimana sepasang kekasih tengah saling mengejar puncak kenikmatan dari permainan mereka yang sudah berlangsung dari 10 menit yang lalu.
Terpaan nafas Jina di kaca jendela apartemen Jungkook yang membentuk sebuah lingkaran embun malam menjadi bukti bahwa Jina benar-benar merasa hampir gila karena pergerakan seseorang secara acak dari belakang tubuhnya.
Kembali Jina merasakan perih di permukaan kulit bokongnya saat sang kekasih lagi-lagi membubuhkan sebuah tamparan keras yang menghasilkan bekas merah berbentuk cap lima Jari di permukaan kulit putih itu.
Malam ini Jina tak tahu sampai berapa lama durasi permainan mereka yang saling melepas rindu selama satu minggu yang sama-sama mereka pendam.
Jina hanya berharap ia tak akan lumpuh menadadak setelah kegiatan panas mereka ini usai.
•••
"Good morning, baby." Bisik Jungkook di telinga Jina yang baru saja membuka matanya perlahan saat merasakan silau menerpa wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY KOO ✔
Fanfiction[FULL CHAPTER ] [ TERSEDIA DALAM VERSI EBOOK DENGAN ALUR YANG BERBEDA] Jeon Jungkook yang merupakan anak dari pemilik sebuah rumah sakit anak di Seoul, selalu saja menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Jungkook juga pernah menolak untuk m...
