_____
Pertemuan tiba-tiba Jina dengan ibu Jungkook mengharuskan gadis itu untuk menginap dirumah pemuda itu malam ini. Alasannya, tadi saat Jina berjalan nyonya Jeon melihat keponakannya itu terlihat terseok-seok melangkahkan kakinya. Jadi, nyonya Jeon merasa kasihan pada keponakannya itu, dan berencana akan membawa Jina ketukang urut besok untuk mengobati keseleonya itu. Padahal tadi putra bungsunya itu yang berniat ingin memberikan pijatan pada Jina agar tidak sakit lagi—kakinya, tapi malah mendapat lemparan sandal oleh ibunya. Kata nyonya Jeon tak baik menyentuh anggota tubuh wanita, walaupun mereka saudara sekalipun. Sungguh malang nyonya Jeon, tak tahu perangai anaknya.
"Bi, piringnya dimana?" tanya Jina saat ingin membantu bibi Jeon menyiapkan makan malam.
"Itu, tak jauh darimu Ji."
"Ah, aku sudah melihatnya." Ucap Jina lalu mengambil bebrapa piring untuk dibawa ke ruang makan."
Jina melihat Jungkook yang baru saja turun dari kamarnya di lantai 2. Sepertinya pemuda itu baru selesai mandi, karena Jina melihat rambut Jungkook yang basah. Ah, mereka baru sempat membersihkan diri dirumah Jungkook setelah insiden diperpustakaan. Nasib baik nyonya Jeon masih menyimpan baju saat masih muda. Jika tidak Jina mau menggunakan apa? Ia tak membawa baju ganti sama sekali.
"Wah, benar-benar seperti calon menantu yang baik." Puji Jungkook saat melihat Jina menyusun peralatan makan diatas meja. "Noona, ayo menikah."
Seketika Jina menghentikan aktifitas mari merapikan meja makannya dan mendelik tajam kearah Jungkook.
"Dalam mimpimu saja!" ucapnya, lalu meninggalkan Jungkook yang merengut karena merasa di tolak Jina.
"Jual mahal sekali dia." Cicitnya, "Apa aku dan bubu kurang mempesona ya? Sulit sekali menjinakkan noona." Jungkook mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuk sambil berfikir. Sepertinya Jungkook harus berusaha keras lagi—tentu saja si kecil juga turut andil dong.
Saat makan malam berlangsung, akhirnya Jungkook dan tuan Jeon kembali bertemu setelah insiden beberapa waktu yang lalu.
"Ku kira kau sudah menjadi gembel diluar sana?" ucap tuan Jeon santai membuka pembicaraan.
"Sepertinya appa suka ya jika aku menjadi gembel? Jahat sekali." Timpal Jungkook.
"Yeobo, biarkan Jungkook menikmati makan malamnya dulu. Dia baru saja pulang malah kau marahi." Nyonya Jeon mencoba untuk menengahi suami dan anaknya agar tak terjadi perdebatan di meja makan. Tak baik—takut tertelan sendok atau sumpitnya.
"Em, Jina sudah semester berapa sekarang?" tanya tuan Jeon beralih kepada Jina yang duduk disamping putranya.
"Jina sudah disemester akhir paman." Jawab Jina dengan sopan dan ramah. Jungkook yang mendengar nada bicara Jina yang lemah lembut begitu membuatnya melirik tak suka pada gadis itu. Sebab saat berbicara padanya Jina selalu menggunakan urat, paling Jina akan melunak saat dia berubah menjadi kecil. Tak adil sekali memang.
"Jadi mengambil jurusan keperawatan? Kata ibumu dulu kau ingin sekali menjadi seorang perawat."
Jina mengangguk. "Jadi paman, aku dikampus yang sama dengan Jungkook."
"Bagaimana jika nanti setelah tamat Jina bekerja di rumah sakit paman saja,mau?"
Jina reflek menganggukkan kepalanya semangat. "Mau paman." Senang sekali rasanya Jina ditawari bekerja dirumah sakit besar seperti milik keluarga Jungkook.
"Wah, senang sekali jika memiliki anak yang suka menurut." Sindiran keras tuan Jeon kepada putranya.
"Appa, menyindirku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY KOO ✔
Fanfiction[FULL CHAPTER ] [ TERSEDIA DALAM VERSI EBOOK DENGAN ALUR YANG BERBEDA] Jeon Jungkook yang merupakan anak dari pemilik sebuah rumah sakit anak di Seoul, selalu saja menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Jungkook juga pernah menolak untuk m...
