______
Pukul 8 pagi, Jina dan Jungkook baru terbangun dari tidur nyenyak mereka. Setelah tadi malam Jungkook memaksa meniduri Jina, karena kasihan melihat gadisnya itu sudah tampak kelelahan dengan kantung mata hitam persis seperti panda. Efek dari skripsinya yang mengharuskan Jina harus selalu bergadang demi menyelesaikannya. Jadwal sidang dan ujian praktek yang yang semakin dekat membuat Jina mau tak mau harus merelakan waktu bersantainya sejenak hanya untuk bergelut dengan tumpukan kertas revisian yang penuh dengan coretan dari dosen pembimbingnya.
Jungkook yang bangun lebih dulu memilih untuk tetap berbaring dengan posisi menyamping, menikmati pemandangan indah dipagi hari yang menyegarkan mata. Sudut bibir tipisnya terangkat membentuk sebuah senyuman saat melihat Jina yang mulai menunjukkan tanda-tanda ingin membuka mata—bangun dari tidur cantiknya. Lucu sekali, polos dan menggemaskan. Rasanya Jungkook ingin selalu memolosi gadis mungil itu setiap waktu.
Oh iya, sudah hari kedua Jungkook terbangun dalam keadaan masih berwujud seperti lelaki dewasa—tidak mengecil sama sekali dari atas hingga ke "bubu". Jungkook senang bukan main, dengan begitu dia bisa menghabiskan waktu dengan Jina dalam wujud seperti ini.
Seperti rencananya tadi malam jika ia tak berubah menjadi bocah kecil, Jungkook ingin mengajak Jina berkencan. Mengunjungi taman bermain, berbelanja bahan makanan dan terakhir Jungkook ingin membawa Jina ke apartemennya dan menghabiskan waktu disana—ingin cuddle dengan Jina sampai puas. Hitung-hitung membantu gadisnya untuk merefreshingkan diri dan pikiran dan segala tugas-tugas kampusnya. Dan juga memulai misi untuk membuat Jina makin jatuuh cinta padanya. Bukannya apa-apa, Jungkook merasa sepertinya Jina sudah mulai menyukainya. Buktinya saja ia tak berubah menjadi kecil hingga sekarang.
"Selamat pagi noona," sapa Jungkook dengan senyum manisnya saat Jina mulai membuka matanya perlahan. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut halus Jina yang sedikit berantakan.
Jina mengerjapkan matanya, menetralkan bias cahaya yang masuk ke retina matanya. "Kau tak berubah menjadi kecil?" tanya Jina dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Jungkook menggeleng pelan. "Tidak, sepertinya kutukannya sudah hilang."
"Bagaimana bisa?"
"Mungkin karena noona sudah mulai menyukaiku." Ucap Jungkook dengan wajah berseri-seri.
"Jangan membual." Desis Jina, kemudian gadis itu mulai mencoba beranjak dari kasur.
"Mau kemana, hm?" Jungkook menahan pinggang Jina agar gadis itu tak bisa beranjak dari kasur. "Nanti dulu, kau menghilangkan pemandangan indahku noona." Ujarnya seraya mengecup bibir Jina sekilas.
Jina mengerjapkan matanya lucu, masih belum terbiasa dengan serangan tiba-tiba Jungkook.
"Itu morning kiss untukku, noona."
"Kenapa kau suka sekali menciumku tiba-tiba Jungkook?"
"Karena aku ingin,"
"Kalau aku tak ingin bagaimana?"
"Akan kubuat kau menginginkannya."
"Itu egois namanya Jungkook."
"Aku tak peduli." Jungkook menarik Jina agar lebih mendekat, memeluk tubuh mungil itu. "Karena noona milikku, jadi aku bebas melakukan apapun padamu."
"Aku bukan milikmu Jungkook, kau yang memaksaku. Jangan bertingkah seenakmu saja terhadap diriku." Tolak Jina sambil berusaha melepaskan rengkuhan Jungkook ditubuhnya.
"Sstt, jangan berisik sayang." Jungkook menatap intens manik mata Jina.
"I Love You, Jung Jina."
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY KOO ✔
Fanfic[FULL CHAPTER ] [ TERSEDIA DALAM VERSI EBOOK DENGAN ALUR YANG BERBEDA] Jeon Jungkook yang merupakan anak dari pemilik sebuah rumah sakit anak di Seoul, selalu saja menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Jungkook juga pernah menolak untuk m...
