Bu Widya menatap ketiga muridnya dengan emosi yang berusaha ia tahan sebisa mungkin. Mendapati Sherly di hari pertamanya sekolah setelah absen karena sakit selama seminggu tak sadarkan diri dengan wajah dan rambut penuh tepung serta seragam basah tak bisa ditoleransi lagi. Ini sudah keterlaluan, perundungan dan pembully-an dalam bentuk apapun tak bisa dibenarkan.
"Saya cuman mau ngasih penyambutan buat Sherly, Buk. Jadi, jangan lebay sampai masalah sepele kayak gini dibesar-besarkan," kata Zemira santai sementara kedua temannya malah mengangguk membenarkan.
"Lagian kami gak tahu kenapa dia tiba-tiba pingsan," sahut Dania.
Bu Widya meradang. "Sepele? Kalian pernah mikir tidak dampaknya pada teman kalian? Bagaimana kalau mental Sherly down karena kalian?"
"Kalau soal itu mental Sherly emang udah terganggu, Buk." Zemira menghela napas lalu menatap Buk Widya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa ada orang lari-larian sambil bawa kucing mati?"
"Kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa kamu menghukum temanmu hanya karena gosip murahan seperti itu. Jelas-jelas di sini kalian salah, sangat salah," geram Bu Widya. Tak habis pikir jalan pikiran anak didiknya ini.
"Ibu kecewa sama kalian. Untuk itu, Ibu tidak akan tinggal diam da-"
Deheman seseorang yang masuk melalui pintu ruangan Bu Widya menghentikan ucapan wanita itu. Seorang pria paruh baya mendekat.
"Ini biar saya yang urus," kata pria itu tetapi Bu Widya menggeleng.
"Lagi-lagi anda akan membela anak anda," balas Bu Widya.
Orang itu tersenyum tipis. "Silahkan keluar, Bu. Saya tahu pasti anda tahu batasan anda di sekolah ini."
Selalu saja seperti. Bu Widya mengepalkan tangan, merasa sedih karena tak bisa berbuat banyak. Membawa kasus ini ke jalur hukum pernah ia lakukan. Zemira di-skors waktu itudan dimaafkan. Namun, cara itu justru merugikannya dimana anak kandungnya menjadi korban balas dendam.
Pada akhirnya Bu Widya merasa bersalah pada Sherly karena harus angkat tangan karena takut kejadian mengerikan itu terulang. Ia pergi dari ruangan itu dengan emosi tertahan.
"Puas bikin masalah?" tanya pria paruh baya itu pada Zemira yang menatap tajam.
"Dengarkan saya Pak Juna yang terhormat," kata Zemira. "Apa yang saya lakukan pada Sherly tidak sebanding dengan apa yang istri tercinta anda lakukan pada hidup saya."
Dania dan Sekar saling melirik satu sama lain. Mereka bingung akan perubahan nada suara Zemira yang terkesan dingin tetapi tajam.
"Menyedihkan lagi, anda menutup mata dan telinga untuk semua perlakuan buruknya. Jadi, jangan heran kalau saya melakuan apapun yang saya inginkan untuk merusak nama baik anda." Zemira menatap penuh benci lalu menarik kedua temannya pergi meninggalkan Pak Juna yang memijit pangkal hidungnya.
Di luar, Zemira tak bisa menahan keterkejutan mendapati Saga menunggunya sembari menatap seperti akan membunuhnya saat itu juga. Mendadak tangannya gemetar apalagi saat dengan kasar Saga menariknya menjauh dari ruangan itu tanpa peduli ringisan kesakitannya akibat cengraman tangan laki-laki itu.
"Gue udah peringetin sama lo. Kalau sampe 'dia' kenapa-napa lo bakal bayar mahal semuanya."
Saga menyentak tubuh Zemira membentur tembok membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Zemira yang kuat memang akan selalu menjadi lemah jika di depan Saga.
"Ini semua gara-gara kamu. Kamu gak bisa seenaknya keluar masuk ke hidup aku," balasnya lirih.
Tatapan mata Saga benar-benar tajam hingga menusuk tepat ke hatinya. "Lo pikir gue akan pertahanin hubungan sama cewek yang tega nyakitin orang yang gue sayang, gitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TITIK TERENDAH
Teen FictionAku menangis, Kalian tertawa. Aku kesakitan, Kalian masih tetap tertawa. Apa jika aku mati, kalian masih tetap akan mentertawakanku? _____________ Semua orang pasti pernah mengalami TITIK TERENDAH dalam hidupnya. Jika 'belum' maka 'akan'. Note: sta...
