15. Luka tak berdarah

63K 10.3K 2K
                                        

Sudah larut malam, Saga tak juga bisa terpejam. Saat ia mencoba memejamkan mata tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering. Ia menghela kasar dan memilih mengambil ponsel yang ternyata milik Sherly itu. Panggilan tak ia jawab kemudian satu pesan masuk dari nomer dengan nama K⚘ di ponsel Sherly.

"Tuh anak punya pacar?" gumam Saga bertanya-tanya kemudian merasa familliar dengan nomer itu.

"Ketemuan gak mau, VC gak mau, bahkan gue nelpon juga gak pernah mau lo angkat. Shera ... gue kangen seenggaknya bales chat gue."

Saga pikir, anak ini kenalan Sherly di sosmed. Anak nolep tidak jelas yang alay hingga Saga mempunyai rencana untuk mengerjainya. Dengan cekatan Saga memainkan jari di atas layar, membalas pesan itu. "Kangen-kangen pala lo!"

"K-kok kasar? Ada yang marah kah? Tapi, bukannya lo bilang, lo gak punya pacar?"

Saga melupakan kalau ia harus tidur. Laki-laki itu semakin tertarik untuk mengulik siapa pengirim pesan dari ponsel adiknya ini. "Lo punya hubungan apa sama adik gue?"

"Oh Kakaknya. Songong!"

Saga membulatkan mata membaca pesan itu. Mulutnya komat kamit mengumpati si pengirim pesan. Dengan cepat dan tergesa ia membalas, "songong? Bukannya lo yang songong tiba-tiba bilang kangen? Najis!"

"Mana adik lo? Gue mau bicara."

Saga mengepalkan tangan. "Kurang ajar. Lo suka sama adik gue? Gak bakal gue kasih restu."

Dia mengirimnya sembari menunggu pesan itu dibalas. Selang beberapa menit, pesan kembali masuk dari K, emoji bunga.

"Gampang. Tinggal gue bawa kabur tuh adik lo, gue punya banyak duit."

Saga yang berniat mengerjai si pengirim pesan malah dia yang menjadi kesal sendiri. "Di taman GLT besok, kalau lo berani dateng. Adu otot sama gue. Lo menang, gue bakal bodo amat dengan hubungan lo sama adik gue tapi kalau gue yang menang, stop gangguin adik gue."

"Oke."

"Eh kadal songong, sekarang gue bisa kan bicara sama adik lo?"

Sungguh, tangan Saga gatal sekali ingin memberi bogeman mentah untuk si pengirim pesan. Tidak peduli sudah larut malam, ia bangkit dengan kesal dari ranjang menuju kamar Sherly yang mungkin sudah terlelap.

Sesampainya di kamar sang adik, Saga mengetuk pintu kuat. "Sherly!"

Dia memanggil beberapa kali. Kepalang kesal karena laki-laki yang mungkin punya hubungan special dengan sang adik. Saga akan memarahi Sherly, bagaimana bisa anak itu berhubungan dengan laki-laki kurang ajar seperti itu?

Saga terus memutar knop pintu di depannya. "Lo gak buka pintu dalam hitungan ketiga, gue dobrak. Sumpah!"

"Satu," kata Saga.

Sherly tak juga membuka pintu.

"Dua," lanjut Saga dan melayangkan kaki hendak menendang pintu di depannya tetapi pintu itu lebih dulu terbuka oleh Sherly yang merosot jatuh ke bawah. Saga tentu langsung terkejut melihatnya.

"Lo kenapa?" tanya Saga memapah tubuh adiknya yang sibuk menghirup udara rakus dengan air mata berlinang di pipi.

Sherly duduk di tepi ranjang lalu menoleh ke arah jendela kamarnya yang terbuka menyebabkan gorden berwarna putih berterbangan karena angin malam yang masuk.

"M-mimpi bu-ruk."

Sherly menjawab terbata sementara Saga berjalan menutup jendela yang terbuka. Laki-laki itu kemudian menghampiri Sherly yang wajahnya pucat pasi dan tak berhenti menghirup udara.

TITIK TERENDAH Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang