24. Ter-ungkap (b)

72.4K 11.1K 2.7K
                                        

Sherly tak ingin merepotkan sang Kakak, meski Samuel sudah memarahinya dan meminta untuk menggendongnya, tetap saja ia menolak. Gadis itu hanya memilih gelendotan di lengan sang Kakak yang kini pakaiannya telah berganti dengan hoodie hitam.

Mereka menginap satu malam di rumah sakit, berbohong pada orang tua mereka dengan alasan Sherly menginap di apartement Samuel. Samuel tak bisa menolak jika itu Sherly yang meminta.

"Kamu lihat hasil didikan kamu?"

Suara berat Dion terdengar saat Samuel akan mengantarkan Sherly ke kamar. Dion berjalan lalu menyentuh perban yang masih menempel di kepala putri satu-satunya. Tangannya langsung ditepis oleh Sherly.

"Apa ini hah? SAM JAWAB!" bentak Dion. Sherly meremat kuat lengan Kakak sulungnya membuat Samuel bergerak menyembunyikan tubuh rapuhnya dibalik tubuh tinggi laki-laki itu.

Dion mengepalkan tangan melihat putra sulungnya hanya bungkam. Ia mendorong kuat kepala Samuel yang menunduk.

"Sudah berapa kali Papa bilang, BERAPA KALI PAPA BILANG, KESALAHAN KECIL KAMU BISA MENJADI KESALAHAN BESAR YANG AKAN DITIRU ADIK-ADIK KAMU!" teriak Dion kehilangan rasa sabar.

Pria itu menunjuk Sherly lalu menunjuk ke lantai atas, kamar Saga. "Semenjak kamu pergi dari rumah. Dua adik kamu jarang di rumah. Saga sering pulang malam dan Sherly selalu pergi tanpa pamit. ITU SEMUA GARA-GARA KAMU, SAM!"

Samuel hanya bisa mengepalkan tangan. Ini yang ia benci jika di rumah. Hanya karena ia anak pertama, ia dituntut menjadi sempurna. Kesalahan kecil, sering dibesar-besarkan kedua orang tuanya.

"Kamu Kakak yang buruk, Sam," kata Dion mengatur napasnya yang memburu. "Benar-benar buruk."

"Kalian lah orang tua yang buruk!" balas Samuel tak dapat menahan gejolak di hatinya. Kendati demikian, luapan hatinya itu mendapat satu tamparan melayang di pipi kanannya.

"AKU BUKAN ROBOT KALIAN!" teriak Samuel melampiaskan emosinya. Sherly memeluk pinggangnya dari belakang dengan tubuh gemetar.

"Kak Sam udah," cicit gadis itu membuat Samuel mencoba meredam emosi. Ia tersadar kalau ada adiknya yang tak seharusnya menyaksikan pertengkaran yang biasa terjadi antara ia dengan sang Papa di sana. Samuel bergerak menuntun Sherly ke kamar. Namun, suara ayahnya menghentikan langkahnya.

"Hari ini kalau kamu pergi dari rumah ini, jangan pernah lagi berharap Papa akan nerima kamu kembali ke sini," dingin Dion tajam membuat Sherly mematung. Gadis itu menatap Kakak sulungnya yang justru malah tersenyum miring.

"Papa pikir, aku sudi tinggal di rumah yang pantas disebut neraka ini? Aku gak bakal sudi menginjakkan kaki lagi di sini. Camkan itu," balas Samuel membuat air mata Sherly bercucuran.

"Kakak bercanda 'kan?" tanya gadis itu pelan dan Samuel malah menggendongnya untuk membawanya ke kamar. Sherly memberontak dengan tangisnya.

Saga yang menyaksikan semuanya di atas tangga menunduk. Yang ia tangkap, sebenarnya Papanya ingin melihat Samuel kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya seperti dulu tetapi penyampaian pria itu yang salah hingga terjadi pertengkaran yang sebenarnya tak diinginkan karena tersulut emosi.

Saga berjalan mengikuti langkah Samuel ke kamar Sherly. Ia melihat adik bungsunya terus memohon supaya Samuel tak mendengarkan perkataan Papa mereka. Tetapi Samuel hanya terdiam dengan pandangan kosongnya.

"Kak," panggil Saga ikut duduk di pinggir ranjang Sherly. "Jangan terlalu dimasukin ke hati."

Saga berbaring di ranjang Sherly dengan helaan napas kasar. "Papa mungkin lagi ada masalah sama kerjaannya."

Sherly mengangguk menyutujui ucapan Saga sembari terus menggenggam tangan besar Kakaknya sampai Samuel tiba-tiba bangkit berdiri melepaskan genggamannya.

TITIK TERENDAH Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang