Deru motor itu terdengar sampai dalam rumah. Wanita yang usianya tidak muda namun tetap cantik itu langsung menghampiri anaknya. Sedari tadi, dirinya menunggu kepulangan anaknya. Papinya juga dari tadi sudah menanyakan kepulangan sang anak.
"Dari mana kamu?! Jam segini baru pulang?! Jangan bilang kamu lagi jalan sama cewek itu ya?!" Cecar mami Dikta yang sudah kelewat kesal.
"Mi, aku baru pulang. Kenapa udah ditanya-tanya sih?" Dikta mengelus dadanya. Berharap agar tidak kebablasan untuk berbicara terlalu kasar. Walau begitu, maminya itu juga ibunya Dikta.
"Sekarang kamu temuin papi kamu diruang kerja, dia dari tadi nunggu kamu pulang. Mami begini karena sayang sama kamu, apa salah?" Dikta menggeleng. Lalu melangkah mendekat kearah maminya. Ia memeluk maminya dengan penuh cinta. "Mami gak salah, tapi aku yang salah. Kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau pemikiran mami untuk menjauhi Kala itu salah, Mi. Aku cinta sama dia."
Ingin berkata yang sejujurnya, tapi mami Dikta tidak bisa. Kebahagiaan anaknya sedang ia pertaruhkan, sebenarnya ia tidak terlalu memaksakan untuk ikut campur tentang kekasih anaknya. "Maafin mami ya, Dikta. Mami terlalu takut. Takut kalau kamu udah gak sayang sama mami lagi, udah gak peduli dan udah gak punya waktu buat keluarga karena cewek itu."
Perlahan Dikta menghembuskan nafas lega. Walau sedikit, masih ada keyakinan kalau dirinya akan bisa mendapat restu orang tua. "Dengar Dikta ya, Mi. Aku tetap sayang sama mami karena mami itu ibuku sendiri, dan kalau takut waktuku tersita sama Kala, itu gak akan mungkin karena aku juga tau waktu. Gak setiap saat juga kan aku selalu bersama Kala. Jadi mami gak perlu takut lagi. Kalau gitu Dikta keatas dulu mau temuin papi, ya."
Langkahnya sudah berhenti tepat didepan ruang kerja papinya. Sebenarnya dirinya itu jarang bertemu sama papinya, mungkin saking sibuknya. Kalaupun ngobrol pun hanya dimeja makan. Pokoknya jarang deh. Perlahan Dikta mengetuk pintunya sebelum masuk. Setelah mendengar suara mempersilahkannya untuk masuk.
Dikta menyembulkan kepalanya dibalik pintu. "Pi, boleh aku masuk?"
Laki laki yang sudah berumur itu mengangguk. Melihat papinya yang duduk dikursi kebesarannya membuat pandanganya langsung teralihkan. Memang sih, Dikta akui kalau papinya itu laki-laki pekerja keras. Tapi sayangnya, waktunya itu sudah tersita sama pekerjaannya. "Duduk," perintah papi Dikta.
Ia memilih duduk di sofa, lebih leluasa aja. Dari pada duduk dibangku kayu. Papinya pun ikut duduk di sofa single. "Kemana saja kamu? Kok baru pulang jam segini?" Melihat jam dinding yang terlihat jelas menunjukan pukul tujuh malam. "Habis makan ayam bakar," jujur Dikta.
Dahinya mengerut. Untuk apa anaknya jelaskan kalau dia habis makan ayam bakar?
"Yakin kamu makan ayam bakar aja? Gak mampir ketempat lain?" Dikta memainkan jarinya untuk mengurangi rasa gugup yang berlebih. "Kamu gak usah bohong sama papi deh, walaupun papi jarang punya waktu, bukan berarti kamu gak dalam pengawasan papi."
Wadaw, berarti papinya mengetahui semuanya? Termasuk kekasihnya yang cantik itu? Kenapa dirinya tidak terpikiran untuk kesana?
"Papi tau? Kok gak ngasih tau?" Pertanyaan itu terucap begitu tiba-tiba. "Ya kalau dikasih tau, namanya bukan penyelidikan. Siapa nama pacarmu itu?"
"Namanya Kala, pi. Dia yang kerja waktu di cafe milik papi. Disana dia bekerja sebagai pengisi musik dengan keahliannya bermain biola." Laki-laki itu kembali mengerutkan dahinya saat mendegarkan penjelasan dari sang anak. "Oke, papi gak akan maksa kamu untuk putus sama pacarmu itu. Papi sama mami itu cuma mau kasih yang terbaik. Kamu mencintainya dengan sepenuh hati, kan?"
Tanpa mau menunggu lama-lama lagi, ia langsung mengangguk. "Aku mencintainya dengan sepenuh hati. Jadi papi memberiku izin untuk berpacaran dengan dia? Walaupun tidak sama dengan kita?" Diakhir ucapannya, ia mengecilkan volume suaranya. Sebenarnya dia tidak mau membahas perihal materi, tapi mau bagaimana lagi.
Papinya mengangguk, "oke papi dan mami izinkan kamu untuk pacaran sama Kala." Membuat Dikta kegirangan. Kali ini, semesta memberikan kejutan tanpa ia duga-duga. "Makasih pi," Dikta memeluk sang papi dengan rasa yang bahagia. Benarkah ini nyata?
Buru-buru Dikta keluar dari ruang kerja sang papi. Hatinya sangat gembira. Ia melangkah masuk kedalam kamar, menaruh tas sekolahnya diatas kasur lalu memilih untuk mandi agar badannya kembali segar.
******
"Eh---bentar dulu," seketika Kala langsung diam ditempat. Saat Riri mengintruksi untuk berhenti, ia mulai menoleh kearah sahabatnya.
Riri melihat kearah gerombolan yang sedang menujuk kearah salah satu laki-laki yang berjalan menuju arahnya. Kedua gadis itu mutar balik badannya, mengurungkan niatnya yang mau ke perpustakaan sekolah. Selesai ulangan harian, mereka berdua memang sudah janjian untuk mencari buku novel atau buku pelajaran. Baru juga melangkah untuk berjalan, seketika Riri langsung terkejut melihat sosok laki-laki yang ingin ia jauhi.
"Ri, tunggu dulu," laki-laki yang berhasil mencegah kepergian Riri itu adalah Fikri, salah satu sahabat Dikta.
Gadis itu menepis tangan laki-laki itu. Untuk saat ini ia malas berdebat. Apalagi sama laki-laki yang seminggu belakangan ini mendekati dirinya. Kenapa bukan Dimas yang melakukan apa yang harus dilakukan Fikri? Tapi kenapa malah Fikri yang mendekati dirinya?
Kala yang masih setia disamping sahabatnya itu hanya bisa melongo. Berusaha mencerna perkataan Fikri pada sahabatnya yang bernama Riri. "Ri, ada apa sih?" Tanya Kala dengan sangat pelan. Mungkin bisa dibilang bisikan, tapi masih bisa didengar jelas oleh Riri.
"Nanti gue ceritain, Kal. Sekarang kita jadi ke perpustakaan." Saat ia balik lagi untuk kearah perpustakaan, tiba-tiba Fikri menarik tangan Riri. Dengan sekali hentakan, gadis itu terbentur dengan dada bidang milik Fikri. Tubuh laki-laki itu cukup tinggi, hingga gadis itu terbentur keningnya.
Gadis itu meringis. Keningnya sedikit nyeri. Lalu ia mendongak, menatap mata yang berwarna kecoklatan kalau terkena sinar matahari. "Mau sampai kapan kamu menghindar dariku?!" Tukas Fikri dengan napas yang tersengal-sengal.
"Lepasin gue. Lo gak berhak sentuh tangan gue!" Hardik Riri. Kini napasnya sama-sama memburu. Jarak mereka sangat dekat, tangan kiri Riri menjadi penghalang mereka berdua.
Lalu pandangan laki-laki itu mengarah pada Kala. "Gue boleh minjem Riri, Kal? Ada hal penting yang mau gue omongin sama dia." Kala bingung mau jawab apa, saat ia ingin menjawab, ia melihat Riri yang menggelengkan kepalanya seperti orang yang tidak setuju kalau dirinya dibawa sama Fikri. Saat itu Kala berpikir untuk menjawab pertanyaan Fikri. "Bo-boleh kok,"
Wajah Riri seperti memohon pada Kala. Gadis itu hanya menganggukan kepala. Ia yakin kalau jawabannya ini tepat. Kala pikir, sepertinya Fikri dan Riri sedang ada masalah yang memang harus diselesaikan.
Kala melanjutkan rencananya untuk mengarah ke perpustakaan sekolah. Sebelum dia benar-benar pergi, ia sempat menengok kearah belakang. Disana masih ada Riri yang sedang berusaha melepaskan cengkraman dari Fikri.
"Semoga masalah kalian cepat selesai. Pasti lo sama Fikri lagi ada kepentingan yang harus diungkapkan. Maafin gue ya, Ri. Bukannya gue gak mau tolongin lo, sekali lagi maaf." Gumam Kala.
******
Tolong hargai dengan memberikan vote dan comment.
Happy reading♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit & Bintang [END]
Teen Fiction"Kita yang berbeda." untuk yang pertama kalinya, dia menyukai perempuan yang bisa membuat hatinya terpikat. dia bukan seperti perempuan pada umumnya, dia hanyalah dia yang hanya bisa menjadi dirinya sendiri, dan untuk yang pertama kalinya seorang an...
![Langit & Bintang [END]](https://img.wattpad.com/cover/182181414-64-k521272.jpg)