Ternyata Bu Ani sudah melaporkan mereka ke ruang BK. Disinilah ke sepuluh gadis itu sedang menunduk dan diam tanpa suara. Lala, Aghnia, dan Yayas pun mulai waspada dan berkeringat dingin. Wajar saja jika mereka begitu, karena mereka bertiga adalah anak kebanggaan guru-guru. Bu Sari menatap mereka dengan tajam. Tak lama matanya terarah kepada ketiga gadis tersebut.
"Kalian bertiga kenapa ikut-ikutan?" tanya Bu Sari lelah.
Sebenarnya dia cukup kagum dengan ketiga anak tersebut, tetapi mereka masih saja mau bergaul dengan anak yang suka bolos. Sebelumnya Bu Sari udh meminta mereka untuk masuk kelas IPA 3 dimana semua anak pintar berkumpul jadi satu.
"Maaf Bu" ujar Lala.
"Kamu itu pintar La kenapa masih bergaul sama mereka?" tanya Bu Sari masih sabar.
"Harus banget dijawab Bu? Terserah dia lah Bu mau berteman sama siapa aja, lagipula ibu juga ga perlu atur dia kan?" ucap Cahaya angkat bicara dan menatap Bu Sari menantang.
Memang diantara sepuluh orang itu yang berani hanyalah Cahaya, Alika, dan Mutiara, tetapi kedua orang itu hanya diam membisu. Mata tajam tak suka Bu Sari tersorot ke Cahaya.
"DIAM KAMU!!!"
"Benar Bu kata Cahaya. Ibu ga perlu tau saya dari kehidupan dan ibu cukup tau saya sebagai ini saja" ucap Lala meninggalkan ruang BK.
Semua hanya bisa melongo dengan penuturan kata Lala. Euis dan Stevi juga ikut keluar menyusul Lala. Benar dugaan Euis ternyata dia pergi ke rooftop sekolah. Mereka berdua menghampiri nya dan duduk disebelah nya. Keadaan cukup hening beberapa menit karena tak lama suara pintu rooftop terbuka.
Cahaya melempar tiga botol fanta kepada Stevi, Lala, dan Euis. Mereka duduk di sofa bekas dengan tatapan kosong. Alika berjalan mendekat kearah Lala dan duduk di samping nya.
"La kalo lu mau keluar dari Saturnus dan lanjut sekolah seperti yang Bu sari bilang gpp ko" ujar Alika menepuk pundak Lala.
Dia menoleh kearah Alika sambil tersenyum. "Penghianat namanya Lik kalo gue bohong sama hati. Selagi berteman sama kalian itu senang dan tak terbebani,kenapa harus di putuskan?"
"Setuju gue juga Lik sama Lala" ucap Mutiara.
"Udh sih Yailah udh biasa ini Bu Sari begitu gausah di bawa ke hati. Lu tau dia cuma mau bubarin geng yang ada disekolah ini jadinya ngomongnya begitu" ujar Angel.
Ya benar yang dikatakan oleh Angel. Bu sari hanya ingin sekolah GRESTAL tidak mempunyai geng sama sekali makanya dia bersikap seperti itu. Seharusnya mereka tidak memasukkan nya ke hati karena itu kesenangan bagi Bu sari.
"Udh sih melow nya mending kita cuci mata ke kantin bntr lagi kan jam istirahat" ucap Euis melihat jam yang berada ditangan kirinya.
"Cowok mulu anying" ujar Mutiara menoyor kepala Euis.
Kali ini Euis tidak membalas dan hanya ketawa saja. Mereka menuruni tangga dan menelusuri lorong yang sangat ramai karena bel baru saja berbunyi. Di setiap lorong banyak tatapan kagum dari cowok-cowok lainnya. Mereka hanya diam sambil berjalan,kecuali Cahaya dan Euis. Mereka berdua membalas sapaan cowok-cowok dengan senyum khas nya.
Sesampai kantin mata mereka melotot karena tempat geng nya berkumpul sudah ditempatin oleh orang lain. Cahaya melangkah dan mengebrak meja dengan keras. Semua mata di kantin tertuju pada pojok belakang.
"Apaan lu datang-datang langsung gebrak meja gini?" Tanya Alfia
Ya mereka adalah geng VIKTORIA. Meja Saturnus ditempati oleh Alfia, Dhea, Mawar, dan masih banyak lagi. Mereka tersenyum puas saat melihat emosi geng Saturnus sudah terpancing.
"PERGI LU TOLOL INI KAN TEMPAT GUE SAMA TEMAN-TEMAN YANG LAIN" Gertak Alika.
"Lah terserah kita dong mau makan dimana" Ujar Mawar sewot.
"Lah anjim ini kan tempat tongkrongan gue tolol" ucap Angel.
"TEMPAT UM..."
Ucapan Dhea berhenti ketika sebuah tangan mengenai pipi mulusnya. Dia memegang pipinya dengan kesakitan dan sesekali dia meringis. Tanpa disadari seorang cowok sedang menatapnya dengan tanda tanya. Dhea yang ditatap itu seketika salah tingkah.
"Bisa ga sih sama cewek gausah main tangan?" Tanya Galang.
"Gue ga mulai kalo dia ga mancing" ucap Lala santai.
Ya benar orang barusan yang menampar Dhea adalah Lala si otak jenius di angkatan IPA. Sementara cowok yang memerhatikan Dhea adalah Galang. Seketika suasana kantin jadi panas dan heboh karena ketiga geng besar sekolah sudah terlibat satu masalah.
"Ternyata anak kutu buku bisa juga ke gini ya?" tanya Galang dengan muka meremehkan.
"Gue ga se kutu buku yang satu sekolah ini kira. Jadi lu gausah tau tentang kehidupan gue" ucapnya tajam.
"Apaan sih lu, Galang! ikut campur aja." ucap Cahaya mendorong tubuh Galang menjauh.
Galang pergi tanpa mengatakan kata-kata apapun. Sementara Dhea sudah salting karena dibela oleh most wanted sekolah nya. Mutiara menatap tajam dan menyuruh mereka untuk pergi.
"Persahabatan lu kurang asik ya" ucap Mawar menurunkan jempolnya ke bawah.
"Lu ga kenal kita jadi jangan sok tau" ucap Stevi.
"Cih emng pertemanan lu itu menjijikkan"
"Dengerin baik baik yah jamet. Lu ga ngerasain jadi kita,lu ga tau seasik apa persahabatan kita,lu gatau betapa bahagianya kita,karena apa?karena lu itu bukan kita" ucap Rara menyingkirkan bahu Alfia dengan tangannya.
"Siapa juga yang ingin jadi kalian yg kampungan ga level itu?" tanya mawar.
"MENDING PERGI LU TOLOL GAK GUNA NGEBACOT DISINI. KALO BERANI PULANG SEKOLAH LAH" Ujar Cahaya.
Mereka pergi dengan mangkok bakso yang sengaja di tinggal. Alika menatap kearah Lala. Cewek itu aneh tidak seperti biasanya yang kalem dan cuek.
"Dih ga berani kan lu gue ajak ribut"
"Udhlah cay mending makan aja" ucap Yayas menarik Cahaya untuk duduk.
"Pertemanan memang tidak diukur dari seberapa lamanya mereka kenal,tapi pertemanan itu diukur dari rasa nyaman dan seberapa solid nya mereka disaat senang maupun susah"
***
Haiii,jangan lupa vote+komen ya
Makasiii
KAMU SEDANG MEMBACA
REPUBLIK SATURNUS
Ficção Adolescente#ANTICOPASBRO!!! *** CINTA DAN SAHABAT!! Tiga kata penuh makna, berbeda bentuk, juga perincian. Jika seseorang bertanya dengan satu orang lain, mereka ingin memilih apa diantara cinta dan sahabat? tentu sulit, kecuali untuk orang yang main-main deng...
