[2] Biang Onar

67 16 4
                                    

Pintu kelas IPA 1 terbuka dan disana terdapat 5 orang anak tertawa cengengesan sambil menatap guru yang sedang mengajar. Mutiara menahan tawa ketika kacamata pak Tarno melorot kebawah.

"kowe nang endi?" tanya pak Tarno dengan logat Jawa nya.

"Hah bapak ngomong apa? Maaf pak, saya angel sebelah kanan ada Alika dan sebelah kiri ada Rara nah disebelah Alika ada Mutiara dan sebelah Rara ada Cahaya. Kenapa bapak malah nyari Endi?" ucap Angel polos.

"Kumaha sih bapa mereka teh teu ngarti bahasana," ujar Euis dengan logat Sunda nya

"KAMU NGOMONG APA EUIS?" tanya pak Tarno curiga.

"Lah bapak ga ngerti?itu yang dirasakan teman saya kalo bapak ngomong Jawa,"

"HAHAHAHAHA"

Seisi kelas tiba-tiba tertawa dengan sangat kencang ketika kacamata milik pak Tarno jatuh dan tangannya sedang menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Makanya pak kalo ngomong itu bahasa persatuan aja bahasa Indonesia. Dibales kan sekarang sama orang Sunda dan kasihan teman saya yang blasteran bulepotan kaya dia pak ga ngerti," ucap mutiara menunjuk angel dan yayas.

"Kalo pakai kacamata juga yang benar pak. Itu kan kacamata jadul masih aja di pakai terus kopiah khas Jawa nya juga dipakai. Pakai topi kek pak biar keren sama gaul gitu," celetuk Cahaya.

"Kurang ajar kamu Cahaya sama saya!!!"

"Boleh dong pak ajarin aku," ledek Rara.

Mereka kabur ke tempat duduk sebelum pak Tarno marah besar. Alika duduk berdua dengan Mutiara, Raras dengan Cahaya, Euis dengan Stevi, Rara dengan yayas, dan Aghnia dengan Angel. Mereka duduk di kursi paling belakang dan berurutan.

Pelajaran yang sungguh membosankan bagi kesepuluh orang itu, kecuali Aghnia, Yayas, dan Raras yang sangat fokus ke papan tulis. Ide jail terlintas di otak Rara. Dia menoel lengan Alika dan Mutiara.

"Eh kita balas dendam gimana?" tanya Rara.

"Maksudnya Ra?" tanya mutiara balik dengan kebingungan.

"Galang kan kmrn jadi penyelamat untuk si jamet kuproy itu loh. Nnti jam istirahat kita acak-acak mobil mereka dengan tepung ini," ujar Rara menunjukkan tepung terigu bekas kemarin praktik disekolah.

"Setuju gue," ucap Alika tersenyum sinis.

Jam istirahat....

Ya benar kini ke sepuluh gadis itu sedang berdiri di parkiran dengan membawa tepung terigu,telur,dan kecap. Alika melempar telur itu tepat diatas nya. Kemudian dilanjut dengan Mutiara yang kasih kecap ke mobilnya. Dilanjut dengan Cahaya dan Angel yang menabur tepung dengan asal. Sementara Rara, Stevi, Euis, Lala, Aghnia, dan Yayas hanya memperhatikan aksi gila temannya.

Selesai itu mereka pergi ke kantin untuk memberi makan kepada cacing-cacing yang ada di perut mereka. Senyum sinis yang diberikan sepuluh gadis itu ketika masuk kantin. Aura kecantikan geng Saturnus tidak ada yang bisa di tandingkan. Sedangkan Cahaya dan Euis seperti biasanya membalas rayuan cowok-cowok.

"Ikas emas ikan cupang hidupnya di air tawar,"

"CAKEP!"

"Eh ada kamu sayang hati aku makin berdebar," ucap Kinos pacar dari Cahaya.

"Uwu makin sayang kamu deh," ucap Cahaya memeluk lengan Kinos.

"Baru tau ikan emas hidup di air tawar," ujar Mutiara.

"PANTUN INI YAILAH RA. MAKANYA CARI COWOK YANG ROMANTIS," ucap Cahaya.

"Dih Mutiara lu suruh cari pacar?yang ada tuh cowok nyerah kali liat sifat dingin dia," ledek Yayas.

"Songong banget lu Yas. Emangnya lu pernah punya cowok?hidup lu tuh kurang warna jadi sepi terus. Padahal pengen punya pacar tapi gengsi gede," balas Mutiara.

"HAHAHAA"

Tawa mereka terhenti ketika seseorang menatapnya dengan tajam. Siapa lagi kalo bukan geng ALAZKAR. Galang sang ketua menatapnya penuh dengan kebencian.

"MAKSUD LU APAAN BANGSAT NGOTORIN MOBIL GUE?" tanya Sandi kasar karena emosinya sedang di uji.

"Lu ngomong sama kita?" tanya Rara pura-pura tak mengerti.

"Bukan tapi sama tembok. Ya iyalah tolol sama lu semua," ujar Samuel dengan geram.

"Oh, begitu," respon Rara cuek.

"Benar kan lu semua yang ngelakuin?" tanya Revano.

"Kalo iya kenapa? kalo ngga kenapa?" tanya Stevi angkat bicara.

"Ribet banget ya hidup kalian. Gue sih kasihan banget sama hidup kek kalian pada," ucap Galang.

"Lu ga terima?Ini balas dendam gue sama lu Lang!" ujar Lala.

"Anak cupu berani bicara?wah keren sekali anda" tanya Galang.

"La jangan kepancing" nasihat Mutiara.

Alika menahan Lala yg ingin sekali menerkam mangsa didepan nya. Dia menatap lelaki didepannya dengan tatapan tajam. Inilah Alika sebenernya yang paling males ngobrol sama lelaki.

"Iya ini kita semua yang lakuin" ucapnya pergi meninggalkan kantin.

ALAZKAR hanya mendesis pelan melihat biang onar sekolahnya sudah beraksi. Selain banyak masalah Saturnus juga kadang disebut biang onar. Mereka tanpa segan menjatuhkan lawan yang ingin bermacam-macam kepadanya.

Mata kesepuluh anak itu terkejut saat melihat orang tua salah satu dari mereka berada di ruang guru. Alika, Cahaya, dan Mutiara mendesah pelan. Mereka tak ada harapan, karena orang tua mereka lah yang pasti akan dipanggil.

"Tenang bro aman gausah ambil pusing. mungkin ini cuma masalah yang tadi telat" ucap Rara menenangkan ketiga sahabatnya.

Mereka kembali berjalan menuju kelas, tetapi langkahnya terhenti ketika seseorang menarik tangan salah satu diantaranya. Ya benar dugaannya ternyata itu mama nya Mutiara.

"Ara mama ga pernah ngajarin kamu nakal seperti ini ya"ucapnya.

"Maaf ma!"

"Mama bolehin kamu pilih pergaulan sesukamu tetapi jangan disekolah"

"Iya ma"

"Ywdh kamu belajar yang rajin dan jangan badung di sekolah" ucapnya meninggalkan Mutiara dengan perasaan lega.

"Sabar bro" ucap mereka bersama.

"Sekolah tanpa biang onar itu sepi. Percayalah karena setiap biang onar tidak membawa kerugian saja, tetapi membawa keuntungan agar sekolah itu terasa lebih hidup dan berwarna"

***

Jangan lupa vote+komen

Makasiii

REPUBLIK SATURNUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang