The Proposition (21)

113 10 0
                                    

Bab 21

Suara mobil di jalanan masuk rumah menyebabkan Beau melompat dari sofa dan mulai menggonggong dengan liar ke jendela. "Ada apa boy?" Tanya Jungkook, meletakkan bukunya. Beau merengek-rengek dan berlari ke pintu depan. Bangkit dari sofa, Jungkook melihat ke jendela. Pasti berhubungan dengan keponakan Taehyung, mudah-mudahan Megan tidak berubah pikiran tentang Jungkook mengasuh bayinya dan dia datang kembali untuk mengambil putranya Mason yang berusia empat bulan. Megan langsung bersahabat dengannya ketika Jungkook bertemu dengannya saat makan siang pada hari Minggu di rumah Daehyun.

Meskipun Taehyung sedang keluar kota, Daehyun bersikeras ia dan cucu masa depannya untuk datang bergabung dengan mereka. Rasanya agak luar biasa bersama semua saudara perempuan Taehyung dan keluarga mereka, tapi secara keseluruhan, dia memiliki waktu yang indah karena menjadi bagian dari keluarganya. Sejak itu Megan senang dengan prospek Jungkook mengasuh bayi, dia tidak bisa membayangkan kalau Megan berubah pikiran.

Ketika Jungkook mengintip melalui tirai, jantungnya melompat ke dalam tenggorokannya. Itu Taehyung. Apa yang dia lakukan di sini? Ketika semalam ia berbicara dengannya, Taehyung mengatakan ia akan pulang seminggu lagi.

Melirik ke bawah ke piyama Scooby Doo yang sudah memudar dan tank top usang, dia menggelengkan kepalanya. Tidak ada waktu untuk mencoba dan membuat dirinya lebih rapi. Tentu saja, bagian menjelaskan mengenai kehadiran Mason akan menjadi sedikit lebih sulit.

Jungkook membuka pintu depan. Beau bergegas keluar di kegelapan malam, menyalak dan mengibas-ngibaskan ekornya. Dia menyeberangi rumput ke arah Taehyung dan hampir menjatuhkannya. Jungkook segera keluar ke teras. "Hei! Apa yang kau lakukan di sini?"

Taehyung menggaruk Beau yang sedang menggeliat. "Pertemuan terakhirku dijadwal ulang untuk minggu depan. Aku pulang naik pesawat pertama, jadi aku bisa mengejutkanmu."

Bergerak-gerak di atas kakinya, Jungkook berjuang untuk mengatur napasnya. Secara spontan Taehyung benar-benar telah melakukan sesuatu yang romantis? "Ah, itu manis. Ini kejutan yang sangat menyenangkan."

Melepaskan Beau, Taehyung menutup kesenjangan diantara mereka. "Aku datang langsung kemari karena juga ingin melihat apakah kau akan memberi jawaban tentang berpikir lagi mengenai sesuatu yang 'lebih' bagi kita."

"Aku sudah."

Alis Taehyung berkerut. "Dan?"

"Jawabannya adalah ya," jawab Jungkook sambil tersenyum.

Ekspresi Taehyung beralih seperti switch dari ketakutan menuju kebahagiaan. "Aku sangat senang mendengarnya. Aku sudah berpikir tentang hal itu sepanjang waktu saat aku pergi."

"Aku juga."

"Yang paling penting, aku menginginkan hal ini diselesaikan sebelum harus kembali ke DC."

"Kapan kau akan berangkat lagi?"

"Selasa." Dada Jungkook sesak melihat prospek itu.

Tatapan liar Taehyung menjelajah di atas tubuh Jungkook, dan dia menyeringai. "Bertelanjang kaki dan hamil, ya? Sekarang yang kubutuhkan adalah kau pergi ke dapur dan menyediakan aku makan malam."

Jungkook memutar matanya. "Aku akan memasakkan sesuatu jika tahu kau akan datang. Hal terbaik yang aku miliki adalah sisa pizza yang tadi kupesan."

Taehyung menarik Jungkook kepelukannya, lengannya menjelajah di pinggang Jungkook. "Aku akan melupakan semua tentang makan malam jika kau mau masuk kedalam dan memberiku sambutan selamat datang yang sebenarnya," godanya, lalu ia menjilati dengan meninggalkan jejak basah sampai ke lehernya.

Jungkook menggigil karena kebutuhannya mulai terbangun, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Um, aku berpikir sepertinya tidak mungkin."

"Mengapa tidak?"

The Proposition SeriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang