"Saya kan sudah bilang sama anda. Jangan pernah masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu." Tegas pria itu.
Pria itu mengatakan dengan raut wajah datar yang membuat siapapun gemetar bahkan tanpa melihat kearahnya sekalipun.
"Ma-maaf, pak. Ta-tapi diluar nyonya mencari anda." Ucap perempuan itu dari raut wajahnya bisa dilihat ia amat sangat ketakutan.
Sang pria menaikkan salah satu aliasnya menatap kearah perempuan yang masih berdiri didepan ruangannya dengan gemetar.
"Suruh dia masuk. Dan untuk anda-"
Perempuan itu menahan napas tanpa sadar. Bahkan sejak tadi ia merasa tidak bisa menghirup udara dengan tenang.
"Anda dipecat."
Perempuan itu tidak dapat menahan tangisnya dengan terbata ia mencoba memberanikan diri bertanya kepada pria yang menjadi atasannya selama empat bulan ini.
"Apakah ada kesalahan saya yang lain sehingga anda memecat saya?"
Pria itu masih tetap dengan ekspresi datarnya. Ia menjawab dengan tenang seolah tanpa emosi.
"Membocorkan beberapa arsip penting perusahaan, korupsi, membully karyawan divisi pemasaran, memasukkan beberapa orang dalam yang tidak berkompeten melalui HRD. Apakah itu belum cukup untuk disebut kesalahan?"
Perempuan itu tercekat. Ia tidak menyangka kelakuannya dapat diketahui oleh sang atasan. Ia pikir selama ini ia melakukan dengan rapi. Ternyata ia salah besar.
"Tenang saja, saya tidak akan membunuh anda."
"Tapi saya mempunyai hadiah untuk anda. Karena anda bermain dengan bersih, maka saya juga akan bermain dengan bersih."
Perempuan itu gemetar lebih hebat daripada tadi, ia tercekat untuk kesekian kalinya.
"Sekarang, anda panggilkan ibu saya untuk segera masuk. Dan saya persilahkan anda untuk berkemas."
Perempuan itu tak bergeming. Ia masih diam ditempat karena terkejut.
"Saya tidak suka mengulang perkataan saya."
"B-Baik."
Dengan segera ia membalik badan dan menutup pintu ruangan sang atasan. Menuju ruangannya dimana Nyonya Besar sudah menunggu.
"Nyonya, anda dipersilahkan masuk."
Perempuan yang dipanggil Nyonya hanya mengangguk kecil. Ia tidak suka berbasa basi dengan orang yang membuatnya tidak nyaman. Intuisinya yang mengatakan perempuan ini tidak baik. Lalu berjalan dengan angkuh menuju ruangan pemilik perusahaan. Lebih tepatnya, milik anak bungsunya.
"Kamu membuat mama menunggu lama."
"Maafkan saya mama."
Perempuan itu atau kita bisa menyebutnya nyonya Jeon memutar bola mata dengan malas. Nyonya Jeon duduk di sofa single yang ada di ruangan itu.
"Mama tidak mau berbasa basi. Segeralah cari pendamping, Jeongguk."
Jeongguk- pria itu menghela napas kasar. Ia paling benci jika menyangkut pendamping.
"Ma!" Protesnya
"Apa?! Kamu sudah 38 Jeon Jeongguk! Bahkan saat abangmu menikah ia masih berusia 30 tahun."
"Itu karena abang dinikahi, ma. Mama tahu sendiri kalau saya dengan abang berbeda posisi."
Nyonya Jeon mendecih, ia mencibir dengan keras. "Berbeda posisi toh kalian sama sama laki laki."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAINSTREAM ; KOOKV
FanfictionCuma kisah mainstream antara Taehyung dan Bapak Jeongguk. "Pak Jeongguk itu udah terverifikasi bucin." "Sama siapa?" "YA SAMA LO LAH SIAPA LAGI?!" KOOKV LOKAL AU WARN! JAVANESSE BXB Masih Newbie :)
