Sejak kepergok oleh Agnes tadi pagi, pikiran Claudya melantur ke mana-mana. Hatinya pun ikut bertanya-tanya. Apakah ini langkah awal untuk mengekspos dirinya ke publik? Namun, Claudya masih ragu. Ia takut ketenangannya terusik. Tetapi ia juga ingin mendapat perhatian dari yang lain. Setidaknya ia dikenal sebagai orang yang memiliki bakat bukan sebagai Claudya yang pendiam. Sudah pasti ia akan dipuji. Bukankah itu bagus? Ibunya sering menyuruh Claudya untuk tampil sempurna agar ia dipuji.
Hanya saja pujian ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Bagaimana pun ia tahu ayahnya tak pernah menyukai Claudya melukis. Kalau berita tentang Claudya sering mengirimkan lukisannya di mading sampai di telinga ayahnya, sudah dipastikan Claudya tak akan selamat. Ia pasti dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.
"Arrgghhhh ...." Claudya mengerang sambil menjambak rambutnya.
Mendengar suara Claudya, Magenta langsung menoleh dan bertanya,"Lo kenapa?"
Magenta khawatir karena ini kali pertama ia melihat wajah Claudya sekusut itu. Matanya memerah entah karena menahan tangis atau menahan kantuk.
Claudya tak menggubris pertanyaan Magenta, ia semakin menarik rambutnya hingga beberapa ada yang rontok. Dengan sigap Magenta menghentikan gerakannya.
"Claudya, are you okay?" Tangan Magenta mencoba menguraikan kepalan tangan Claudya agar terlepas dari rambutnya. Namun, susah sekali. "Bisa lepas, Clau? Rambut lo ntar ketarik semua."
Setelah percobaan yang entah keberapa, akhirnya Claudya menguraikan kepalan tangannya. Cewek itu mengembuskan napas kasar.
"Bumi, telan gue!" Ia bergumam, tetapi Magenta masih bisa mendengarnya. Cowok itu tadinya khawatir, kini malah menahan tawa karena tingkah Claudya yang menurutnya lucu. Sekarang Claudya membenamkan wajahnya di lipatan tangan. Tertidur.
Magenta memerhatikan Claudya lama sekali. Dari mulai posisi tidur kepalanya tersembunyi oleh kedua tangannya, sampai posisi tidur Claudya kini menyamping ke arahnya. Napas Claudya teratur dan sama sekali tidak terganggu oleh kebisingan kelas.
Lagi-lagi Magenta menyunggingkan senyum. Entah mengapa melihat wajah tenang Claudya bisa sebahagia ini. Degup jantungnya semakin menggema. Magenta menyukai ritmenya yang cepat dan konsisten.
Ah, jatuh cinta memang menyenangkan. Apalagi jika orang yang dicintai Magenta balik mencintainya. Mungkin dunianya akan jauh lebih indah. Sayangnya, Magenta masih perlu merobohkan benteng bernama keangkuhan yang menjadi tameng Claudya.
***
"Lo udah lihat profil pelukis Dya itu?" tanya Dion tiba-tiba.
"Udah ketahuan?" Magenta malah balik bertanya. Ia masih menikmati nasi goreng kesukaannya. Dion biarkan saja mengoceh, toh itu memang keahliannya.
"Lo mesti lihat, Ta. Kalau gue yang bilang lo pasti nggak akan percaya."
"Kapan, sih, gue meragukan lo, Yon?"
"Hampir tiap ulangan lo meragukan nilai yang gue dapat," jawab Dion sambil memberengut kesal. Faktanya memang begitu. Jika Dion mendapat nilai bagus, meskipun bukan hasil dari menyontek, Magenta pasti meragukannya. Lalu, ia akan menuduh yang tidak-tidak.
"Gue emang nggak bisa percaya dengan kemampuan otak lo, Yon. Ulangan kemaren aja lo duduk sama Jessica biar nyontek, kan?"
"Iya, matematika emang harus nyontek. Kalau nggak nanti gue malah kejang-kejang di tempat. Puas lo?!"
Magenta tertawa terbahak-bahak melihat Dion merajuk.
"Ta, gue serius lo harus lihat mading sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfeksionis #ODOCTheWWG
Teen FictionJika diibaratkan, hidup Claudya itu seperti pertunjukan sirkus. Kedua orang tuanya adalah penjinak sekaligus pelatih, sedangkan Claudya adalah binatang yang dipaksa membuat penonton terkesima. Semakin ia tunduk pada perintah mereka, maka semakin ia...
