Sudah dua hari seluruh murid kelas sebelas dan duabelas bebas dari guru-guru killer. Kini saatnya mereka mempersiapkan kuping agar tak kena jewer, menjaga lisan agar penghapus tak melayang pada mereka, juga mempersiapkan hati dan pikiran untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Kegiatan belajar-mengajar akan efektif mulai hari ini. Begitu juga dengan kegiatan ekstrakulikuler. Seluruh ketua ekstrakulikuler saat ini sibuk mempromosikan kegiatan mereka pada siswa baru yang telah resmi menjadi bagian dari SMA Taruna Bangsa.
"Lo enak banget tiap promosi nggak pernah capek. Tinggal nempel-nempel kertas aja," celetuk Robert pada Agnes yang kini tengah sibuk memasang beberapa pengumuman di mading sekolah.
"Terus masalahnya di lo apa, Rob?" Agnes bertanya tanpa menoleh ke arah Robert.
"Nggak ada. Gue cuma mau usul aja, coba lo keliling ke tiap kelas kayak yang lain bikin yel-yel sama temen-temen mading biar banyak yang mau gabung ke redaksi sekolah."
"Nggak perlu. Gue punya cara jitu buat ngumpulin mereka biar langsung memenuhi area ini."
Dua siswi menghampiri Agnes dan Robert yang sudah selesai menempelkan beberapa pengumuman. Pengumuman hari ini didominasi oleh beberapa persyaratan masuk organisasi; OSIS, paskibra, PMR, pramuka. Juga beberapa jadwal latihan ekstrakulikuler; basket, voli, bulu tangkis, sepak bola, tenis meja, catur, cheerleader, dan lain-lain.
See, para ketua ekstrakulikuler lain saja selain promosi di lapangan juga menitipkan pengumumannya di mading. Jadi, mengapa Agnes perlu turun langsung?
Mading selalu dikunjungi oleh para penghuni sekolah. Saat mereka lewat saja, mereka pasti sekilas meliriknya. Sedikit saja Agnes menaruh satu gambar menarik atau satu tajuk berita yang bikin heboh, pasti mading tak pernah sepi.
"Nes, nyisa satu," ucap salah satu anak buah Agnes.
Cewek itu menyerahkan satu kanvas berukuran 30x30 cm yang telah dilukis. Lukisan bunga dandelion dengan background senja yang hangat. Di sudut kanan lukisan tersebut terdapat inisial Dya.
"Kira-kira ini orang bakal ngirim lukisan lagi nggak tahun ini?" tanya Agnes.
"Gue bukan cenayang, Nes," celetuk Robert. "Gue nggak tahu orang misterius ini mau ngirim lukisan lagi apa nggak. Gue juga nggak tahu ini orang udah lulus apa belum. Kan lo tahu sendiri semua redaktur mading nggak kenal sama dia. Lukisan aja ditaruh sembarangan depan pintu."
Agnes manggut-manggut mendengar penjelasan Robert yang sepenuhnya benar. Agnes juga tidak tahu pemilik inisial Dya ini.
"Nanti sore ada kumpulan nggak?" tanya cewek yang tadi mengantarkan lukisan.
"Ada. Bawa alat tulis, spidol, dan perlengkapan lain. Kita bakal dekor ulang mading sebelah perpustakaan, tampilannya jelek banget pas tadi gue lihat."
"Gue izin, ya, Nes. Bokap mau pergi ke Kalimantan, gue mau ikut nganter ke bandara." Cewek satunya menanggapi ucapan Agnes dengan permintaan.
"Oke."
Agnes memerhatikan lukisan dandelion tadi cukup lama. Lalu, memajangnya di area mading yang masih kosong.
"Ini, Nes, berita baru tinggal lo revisi."
Agnes membaca judul berita itu.
Peserta Ospek Paling Diincar Ketos.
"Tajuknya gini amat," komentarnya.
"Ya, biar yang kepo makin kepo. Isinya nama-nama murid beasiswa. Mereka pasti diincar Ketos, dong, secara Ketos kita yang ganteng itu juga kan anak beasiswa. Pasti ada satulah yang jadi kandidat buat masa depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfeksionis #ODOCTheWWG
Teen FictionJika diibaratkan, hidup Claudya itu seperti pertunjukan sirkus. Kedua orang tuanya adalah penjinak sekaligus pelatih, sedangkan Claudya adalah binatang yang dipaksa membuat penonton terkesima. Semakin ia tunduk pada perintah mereka, maka semakin ia...
