F.i.f.t.e.e.n

33 10 0
                                        

Hari-hari Claudya semakin memburuk sejak kepergok menyontek oleh Magenta. Cowok itu selalu menemukan cara untuk menggagalkan rencananya. Saat pelajaran matematika, Magenta menendang kakinya hingga kertas berisi rumus di bawah kakinya itu hilang entah ke mana. Saat pelajaran sejarah, Magenta juga menyembunyikan buku yang sudah Claudya taruh di kolong meja. Saat pelajaran bahasa Indonesia, cowok itu juga mengambil ponsel yang Claudya sembunyikan di tempat pensilnya. Claudya geram. Kali ini cewek itu mengeluarkan semua emosinya. Ia memaki Magenta tanpa ampun.

"Lo nggak mau bilang ke guru kalau gue nyontek. Sekarang lo malah gagalin semua rencana gue. Lo maunya apa, sih, Magenta?"

Mereka sedang berada di ruang musik. Claudya perlu tempat yang kedap suara untuk memarahi Magenta. Karena kalau ia mengamuk di tempat yang ramai, bisa-bisa ia menjadi sorotan satu sekolah. Namanya sudah mulai bagus di kalangan murid, ia tidak mau gara-gara Magenta reputasinya akan jelek lagi.

"Gue udah ngingetin lo buat belajar, Claudya."

Sebenarnya Magenta tak tega bila harus membuat cewek itu kesusahan, tetapi Magenta ingin bersaing secara sportif. Ia juga ingin Claudya berubah. Bagaimana pun menyontek adalah tindakan yang salah.

"Gue bukan lo, stop menyamaratakan kemampuan orang."

"Gue tahu kalau lo berusaha sedikit aja, lo bisa dapetin apa yang lo mau."

Claudya tertawa sinis. "Tau apa lo tentang hidup gue? Gausah sok tahulah, lo nggak bisa ngerti kalau lo belum pernah ada di posisi gue."

Magenta diam. Membantah amukan Claudya mungkin akan berakibat fatal. Jadi, cowok itu membiarkan Claudya mengeluarkan semua unek-uneknya.

"Lo nggak bisa ngatur orang sesuai kehendak lo. Lo mau gue belajar kayak lo, padahal gue beda sama lo. Lo memiliki orang yang bisa dukung lo, sedangkan gue nggak. Berhenti bersikap peduli. Biarkan gue ngejalanin hidup gue tanpa gangguan lo. Karena setiap orang punya masalahnya masing-masing dan lo seharusnya nggak mencampuri itu."

Selanjutnya Claudya meninggalkan Magenta yang masih terpaku karena kalimat penuh penekanan Claudya yang terasa menyakitkan. Bukan, bukan menyakitkan hati Magenta, tetapi kalimat itu seolah menjelaskan bahwa Claudya memang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Cewek itu sedang menahan lukanya. Dan Magenta tak tahu alasan cewek itu terluka.

***

UTS telah berakhir dan hasilnya sudah diumumkan. Claudya menerima semua rekapan nilai dari seluruh pelajaran dan emosinya langsung mendidih. Dari seluruh pelajaran, nilai yang ia dapat semuanya di bawah tujuh.

Claudya menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Menangis tanpa suara.

Tidak ada alasan untuk membela diri di depan ayahnya. Claudya juga tidak bisa mengatakan sejujurnya bahwa nilai-nilainya semester lalu adalah hasil menyontek. Claudya terlalu takut pada amukan ayahnya.

Perasaan Claudya sudah tak keruan. Ia malas untuk pulang ke rumah dan menerima amarah kedua orang tuanya. Namun, tidak pulang juga sama saja nyari mati. Claudya merasa serba salah.

Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi Claudya tetap dalam posisi yang sama. Ia tak memiliki tenaga, bahkan untuk sekadar berdiri.

Magenta memerhatikan Claudya sejak tadi, sejak kertas berisi nilai itu dibagikannya. Ia merasa bersalah. Kalau keadaannya akan sekacau ini mungkin Magenta takkan menggagalkan rencana Claudya.

"Lo mau gue anterin pulang?" tanya Magenta hati-hati. Sudah beberapa hari ini cowok itu tak mengajak Claudya berbicara. Ia takut menyakiti perasaan Claudya. Sejak pembicaraan di ruang musik hari itu, Magenta sadar bahwa Claudya bukan sengaja menyontek. Namun, keadaan yang memaksanya. Magenta belum mengetahui alasan itu, tetapi cowok itu mencoba mengerti.

Perfeksionis #ODOCTheWWGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang