T.w.e.n.t.y-s.i.x

29 8 4
                                        

Natasya sudah tak mau lagi memedulikan Claudya. Ia sudah memberi Claudya pilihan, hanya tinggal memerhatikan keputusan apa yang akan Claudya ambil.

Beberapa minggu ini, ia juga mendapat laporan dari guru les Claudya. Ternyata Claudya sudah jarang masuk les. Natasya tak mempermasalahkan lagi. Ia tinggal menunggu berita itu sampai kepada suaminya. Biar suaminya saja yang mengurus. Percuma ia memarahi Claudya hingga mulutnya berbusa, Claudya tetap tak takut dengannya. Berbeda dengan Herlambang, lelaki itu punya ketegasan yang sangat-sangat ditakuti Claudya. Natasya yakin satu gertakan dari Herlambang akan membuat Claudya kembali menuruti semua perintah mereka.

"Mas, kamu juga mendiamkan Claudya?" tanya Natasya. Mereka baru saja menghadiri acara arisan rutin. Tiba-tiba Natasya teringat dengan kejadian saat ia tak ada di rumah. Ketika suaminya marah besar sampai menghancurkan alat lukis Claudya.

"Hm. Kenapa? Dia makin menjadi?"

Ini mungkin kesempatannya untuk membuat suaminya lebih memerhatikan Claudya. Ia menunjukkan obrolannya dengan guru les Claudya. Ia berharap suaminya akan menegur Claudya supaya anaknya kembali menurut lagi dan tidak berpikir untuk benar-benar pergi dari rumah.

"Anak itu maunya apa, sih?"

"Menurut Jessica, dia pacaran sama cowok di sekolahnya. Mungkin tiap sore mereka jalan-jalan bareng makanya Claudya nggak les."

Untuk masalah ini, sebenarnya Herlambang sudah mengetahuinya melalui CCTV rumahnya. Bahkan bukan sekali ia melihat cowok itu mengantar Claudya. Herlambang diam karena ia ingin memastikan dulu siapa dia. Begitu Natasya memberitahu dia pacar Claudya, emosi Herlambang langsung naik.

"Harus diberi pelajaran itu anak supaya nurut."

Mereka telah sampai di rumah. Herlambang langsung menuju kamar Claudya. Lelaki itu tak mengetuk pintu lagi. Ia langsung menerobos masuk dan mendapati Claudya sedang mengerjakan sesuatu di meja belajarnya.

"Papa?" Claudya langsung menyembunyikan kertas yang sedang dikerjakannya di bawah buku biologi.

"Selama nggak les kamu ke mana?"

Mampus! Claudya langsung memasang wajah takut. Padahal ia sudah mencari berbagai alasan untuk membolos les. Guru lesnya mengizinkan karena ia membawa nama ibunya. Namun, sepertinya guru lesnya itu hanya mengiyakan di depannya, di belakang ia melaporkannya sehingga kabar ini akhirnya sampai di telinga kedua orang tuanya.

"Aku udah bilang ke Papa kalau di sekolah juga ada jadwal belajar tambahan."

"Papa juga udah bilang ke kamu kalau lebih baik kamu bolos pelajaran tambahan. Papa nggak yakin di sekolah kamu bakal dapetin materi yang bagus sama kayak di tempat les."

"Aku lebih nyaman belajar di kelas, Pa. Di tempat les nggak ada teman diskusi."

"Nggak ada teman diskusi atau karena nggak ada pacarmu menemani?"

"Pasti Mama ngadu ke Papa kalau aku pacaran sama Magenta, kan?" Claudya memutar bola mata. Bisa-bisanya ayahnya juga percaya pada berita bohong macam itu. "Pa, Jessica itu cuma menghasut Mama biar marahin aku. Karena dia nggak suka sama aku. Dia iri ke aku."

"Jangan mengada-ngada. Menurut Mamamu Jessica lebih baik dari kamu."

Jleb! Sepertinya dada Claudya ditusuk ribuan sembilu hingga rasanya amat sakit. Bagaimana bisa seorang ibu lebih memercayai perkataan orang lain daripada anaknya?

"Aku berani sumpah aku nggak pacaran sama Magenta."

"Lalu, kenapa dia pernah nganter kamu pulang?"

Mata Claudya semakin membulat. "Papa tahu dari mana?"

"Kamu lupa CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah ini? Kenapa dia masuk ke kamar kamu? Apa yang kalian lakukan?"

Perfeksionis #ODOCTheWWGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang