"Non, kita udah sampe," ucap Pak Tarno. Lelaki tua itu menoleh ke belakang, mendapati Claudya masih tertidur pulas. Ia tak tega membangunkan Claudya. Jadi, Pak Tarno memilih untuk menunggu gadis itu bangun.
Sekarang masih pukul 14.00. Seharusnya Pak Tarno menjemputnya satu jam lagi. Namun, karena insiden tak terduga, lelaki tua itu harus bergegas ke sekolah menjemput Claudya yang ternyata terbaring lemah di UKS. Beliau sempat menanyakan keadaan Claudya pada dokter yang bertugas di UKS, tetapi dokter tersebut tidak mau memberitahu keadaan Claudya sebenarnya. Dokter itu malah menyuruh Pak Tarno agar memerhatikan Claudya. Dokter bilang akan lebih baik jika Claudya selalu memiliki teman untuk berbagi cerita.
Pak Tarno sangat hapal tabiat Claudya. Majikannya itu tak terlalu suka berteman. Karena memiliki teman atau tidak, ia tetap merasa kesepian. Ia tak bisa bermain bersama temannya karena waktu miliknya sudah diatur sedemikian rupa oleh kedua orang tuanya. Cewek itu terlalu dikekang, sampai tak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri. Kejadian ini bukan pertama kalinya. Saat SMP, Claudya sering pingsan karena kelelahan. Namun, anehnya Claudya selalu melarang Pak Tarno mengadu pada kedua orang tuanya.
Waktu berjalan cepat. Tak terasa sudah pukul 16.00. Claudya terbangun dan langsung memerhatikan sekelilingnya.
"Udah sampe?" tanya Claudya.
Pak Tarno yang sedang memainkan ponsel langsung menoleh ke arah Claudya. Lelaki tua itu tersenyum karena sepertinya keadaan Claudya sekarang sudah membaik.
"Udah, Non."
Claudya melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Seketika matanya membulat. "Pak Tarno kok nggak bangunin aku?" Claudya sadar telah tertidur cukup lama. Ia merasa bersalah karena harus membiarkan Pak Tarno menunggunya.
"Nggak apa-apa. Non mau masuk sekarang?"
Claudya mengangguk.
"Laper," ucap Claudya. Ia memegangi perutnya yang berbunyi dan baru sadar kalau tadi siang ia belum sempat makan siang.
"Mau makan di rumah atau Bapak anter nyari makanan enak?" tanya Pak Tarno.
"Di rumah aja. Aku mau nyuruh Bibi masakin ramen."
"Jangan makan mie." Pak Tarno mengingatkan, tetapi Claudya malah menggelengkan kepala. Kalau sudah begini pasti Claudya kekeh mau makan mie.
"Sekali aja, Pak. Mumpung nggak ada siapa-siapa di rumah."
Akhirnya Pak Tarno menyerah. Ia keluar mobil, lalu membukakan pintu untuk Claudya. Ia berniat memberikan bantuan barangkali Claudya masih lemas untuk sekadar berjalan. Namun, ternyata cewek itu sudah berjalan memimpin. Dari langkahnya yang cepat, Pak Tarno yakin Claudya sudah kembali seperti sediakala.
Begitu masuk rumah, Claudya langsung duduk di meja makan dan meminta asisten rumah tangganya membuatkan ramen untuknya dan Pak Tarno.
"Makan sama aku, Pak."
Kalau sudah diminta menemani Claudya makan, Pak Tarno tidak bisa menolak. Jujur saja, lelaki tua itu juga menahan lapar sejak tadi siang.
"Non, kenapa udah pulang?" Asisten rumah tangganya mengantarkan ramen yang sudah dimasak.
"Iya, kangen ramen buatan bibi."
Claudya langsung menyantap ramennya dengan lahap. Asisten rumah tangganya tersenyum. Selain Pak Tarno, wanita ini juga hapal tabiat Claudya yang sering menyembunyikan masalah. Ia tahu keadaan Claudya pasti memburuk akibat semalam mengonsumsi obat tidur. Dirinya serba salah. Di satu sisi ingin memberi tahu kedua orang tua Claudya agar mereka bisa menghentikan kebiasaan Claudya itu. Di sisi lain, ia kasihan karena orang tuanya pasti akan menghukum Claudya jika tahu anaknya sering mengonsumsi obat-obatan. Bagaimana pun Claudya memiliki alasan mengonsumsi obat itu. Ia pasti butuh mengistirahatkan pikiranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfeksionis #ODOCTheWWG
Teen FictionJika diibaratkan, hidup Claudya itu seperti pertunjukan sirkus. Kedua orang tuanya adalah penjinak sekaligus pelatih, sedangkan Claudya adalah binatang yang dipaksa membuat penonton terkesima. Semakin ia tunduk pada perintah mereka, maka semakin ia...
