Tidak ada seorang ibu yang rela kehilangan anaknya. Semua orang tua ingin buah hati mereka yang dikandung selama sembilan bulan, dilahirkan dengan susah payah, dan dibesarkan penuh kasih sayang menjadi anak yang akan sukses di masa mendatang. Natasya menginginkan kebahagiaan untuk Claudya. Bagaimana pun kondisi keluarganya ia benar-benar ingin Claudya hidup layak dan dicintai semua orang. Hanya saja mungkin caranya mendidik Claudya salah, sehingga putrinya harus menanggung segala beban sendirian.
Natasya sungguh menyesal. Ia menyesal telah mengekang Claudya hanya untuk kepentingan pribadinya. Ia pikir kesempurnaan akan membuat hidup seseorang lebih baik. Nyatanya ia sadar, tidak ada orang yang benar-benar bisa sempurna secara fisik dan hal lainnya. Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan. Seharusnya ia tahu itu sejak awal.
Dalam beberapa saat, Natasya menatap wajah putrinya sembari bersusah payah menahan air matanya agar tak lagi tumpah. Ia menggenggam tangan Claudya yang dingin, memberikan kehangatan. Memorinya tiba-tiba membawa Natasya ke waktu di mana ia baru saja bertaruh nyawa untuk membantu Claudya melihat dunia. Rasa sakit yang dirasanya tak pernah sebanding dengan sukacita saat melihat wajah Claudya untuk pertama kali. Ketika ia mendengar suara Claudya yang menangis, betapa ia bersyukur karena Tuhan telah memberi keluarga mereka anugerah yang tak terkira. Ia bahagia, sangat bahagia.
Di hari-hari berikutnya dunianya tak lagi terasa hampa. Gelak tawa Claudya selalu menghiasi harinya. Sampai pada suatu waktu segalanya harus berhenti di situ. Ketika ambisi mengalahkan kebahagiaan yang selama ini menghiasi hidupnya. Andai waktu bisa diulang, Natasya ingin menemani Claudya setiap hari, bercerita tentang banyak hal, dan tidur sambil membelai wajah putrinya. Namun, tentu saja tidak ada waktu yang bergerak mundur. Hanya tinggal penyesalan yang tersisa dari segala tindakan yang salah.
"Mama minta maaf, Sayang," lirih Natasya sembari menciumi tangan Claudya. "Mama menyesal. Mama sayang sama Claudya. Kamu harus bangun."
Natasya sungguh berharap putrinya dapat membuka mata agar ia bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Ia ingin memulai semuanya dari awal. Persetan dengan segala harapan keluarga suaminya yang menginginkan Claudya menjadi sempurna seperti yang mereka harapkan. Natasya sudah tak akan memaksakan Claudya menjadi seperti itu. Untuk saat ini Natasya ingin Claudya menjalani hidupnya sesuai dengan yang putrinya inginkan.
"Bangun, Sayang."
Natasnya hampir putus asa. Ia menunduk, membiarkan air matanya menetes di tangan Claudya.
"Ma ..."
Di sela isakannya, sayup-sayup Natasya mendengar gumaman lirih Claudya. Secepat kilat ia menatap wajah putrinya. Mata yang semula menutup, kini terbuka dan menatap manik miliknya.
"Ma-ma ..."
"Sayang." Natasya membelai kepala Claudya lembut. "Terima kasih sudah mau bertahan."
Ia menekan bel di samping tempat tidur Claudya. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa.
"Ma, aku bermimpi," ucap Claudya dengan suara yang amat pelan. Natasya sampai mendekatkan telinganya ke wajah Claudya.
"Kamu bilang apa?"
Tangan Claudya bergerak melepas alat bantu pernapasan yang terpasang menutupi mulut dan hidungnya.
"Aku bermimpi. Aku melihat Mama, Papa, dan aku pergi ke suatu taman yang banyak sekali bunga. Aku melihat kita bahagia di sana."
Natasya menangis mendengar mimpi Claudya. Ia langsung memeluk tubuh putrinya erat.
"Setelah ini kita akan bahagia."
Dokter tiba didampingi dua perawat. Lalu, Natasya diminta untuk sedikit menjauh karena dokter harus memeriksanya. Herlambang pun datang tak lama kemudian dan langsung merengkuh Natasya ke dalam pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfeksionis #ODOCTheWWG
Novela JuvenilJika diibaratkan, hidup Claudya itu seperti pertunjukan sirkus. Kedua orang tuanya adalah penjinak sekaligus pelatih, sedangkan Claudya adalah binatang yang dipaksa membuat penonton terkesima. Semakin ia tunduk pada perintah mereka, maka semakin ia...
