Gak sadar banget udah sampai di bagian ke dua puluh. Wo iya, kok aku gak perasan ya, huhu. Gak tau mau ngomong gimana, intinya jangan bosan mampir di cerita ini ya, WKWK.
Selamat membaca kisah ini!
Jangan lupa vote dan komen.***
Hampir di penghujung bulan September, 3A5 merayakan sebuah hari yang terbilang spesial. Mungkin bagi beberapa orang.
"Jadi?" tanya Lia pada teman-temannya.
"Jadi, pasti bisa kok. Nanti nitip sama yang cowok aja," saran Yena. Mereka telah menyepakati sebuah rencana.
"Percaya nih sama yang cowok? Ntar kalo rusak gimana? Tau sendiri cowok gak bisa dipercaya." Anti membuka suara setelah sejak tadi sibuk memainkankan ponselnya.
"Anti bener, Gaes. Kalian gak ada yang mau pulang gitu?" tanya Fika.
"Gue deh. Gue rencana mau pulang," potong Sasa lalu duduk menuju lingkaran perkumpulan temannya.
"Beneran, Sa? Lo ngapain pulang?" Ila memicingkan mata dengan tajam.
"Mata lo ya, La. Pengen gue tusuk pake garpu," geram Sasa. "Gue tuh pengen BAB makanya pengen pulang. Gue gak bisa di toilet sekolah," sambungnya.
"Anak sultan, emang gitu," Lilis mencibir dengan tangan yang masih fokus menulis sebuah tulisan-seperti catatan kelas.
"Emang bakal lolos dari gerbang penjara?" tanya Viona memastikan.
"Jangan sebut nama gue kalo gue gak bisa lolos." Dia memiliki mata yang tajam ketika melihat sesuatu. Entah itu tatapan bersahabat atau bukan, sepertinya hanya dia yang mengetahui.
"Kalian kayaknya lupa sesuatu. Si Sasa itu ratu drama. Keluar gerbang penjara tuh hal mudah bagi dia," potong Rania yang sekali-kali menanggapi perbincangan mereka.
"Setuju gue. Dari tadi kek, Ran." Viona berujar dengan tangan yang berada di bawah dagunya. Lalu menunjuk dengan telunjuk jari kanannya.
"Hapal banget lo sama gue ya, Ran," kekeh sinis Sasa sembari berkacak pinggang.
"Gue cuman berpendapat kali. Kalo lo bilang kayak gitu, berarti emang beneran," Rania menyanggah dengan mengangkat kedua bahu tanda tidak peduli.
"Ih kesel banget gue sama lo!" ujarnya dengan tangan yang mengepal di udara, layaknya ingin melemparkan bogeman.
"Berarti lo aja yang pulang, Sa?" tanya Fika memastikan.
"Iya, gue aja. Gue bisa kok."
"Udah, 'kan? Berarti selesai. Semoga nanti berjalan lancar ya, Gaes." Mereka serempak mengangguk tanda menyetujui.
Harapan mereka sama. Semoga kali ini, rencana mereka berhasil. Tanpa terhalang rintangan yang menggagalkan harapan.
"Ham!" panggil Ila sesaat sebelum Ilham keluar dari ruang kelas.
"Apa?" tanyanya santai dengan tas yang melekat pada bahu kanannya.
"Nanti ajak yang lain ke sekolah lagi, jangan cabut. Soalnya bakalan ada kejutan," papar Ila.
"Dih, siapa lo ngatur-ngatur gue," sindirnya dengan melangkah mundur dari tempat semula.
Ila hanya mampu menghela napas, "Diajakin juga malah gini jawabannya. Suka hati lo deh." Lalu dia bergerak menuju bangkunya. Melanjutkan mencari uang untuk membeli makanan di kantin sekolah.
***
Jam tepat menunjukkan pukul 14.00 WIB di mana 3A5 memulai mata pelajaran Akuntansi, walau mereka berada di jurusan MIPA. Guru mata pelajaran secara tidak langsung merupakan wali kelas mereka. Sedikit banyaknya mereka gemar mencari waktu senggang agar tidak belajar.

KAMU SEDANG MEMBACA
My (Idiot) Classroom
HumorRuangan persegi yang sering disebut dengan 3A5 selalu memiliki kisah. Tiap tahun akan berganti generasi yang didatangi oleh siswa-siswi. Di sana, di dalamnya terdapat banyak spesies manusia yang selalu terlihat kompak. Bahkan orang-orang yang meliha...