Hyewon baru saja selesai mengganti baju ketika ponselnya berdering.
Bebek dower calling...
Hyewon mendiamkannya dan membiarkan dering ponsel terus berbunyi. Namun di panggilan ketiga barulah Hyewon mengangkatnya.
"YA! Dari tadi kutelpon tidak kau angkat."
"Ada apa?"
"Buka pintunya. Aku terkunci di luar."
"Dasar manja. Buka sendiri."
"Tidak bisa. Kau mengganti passwordnya?"
Password?
Mengganti?
Ah tunggu sebentar.
Hyewon teringat pesan Yujin sebelum pergi tadi.
'Maaf password apartemenmu kuganti dengan tanggal lahir Wony. Waktu itu mendesak sekali. Jadi aku tidak punya pilihan lain.'
"Hello! Kau mendengarku tidak? Cepat buka pintunya."
"Aish tunggu sebentar."
"Dasar bebek. Sudah tidak pulang semalam, datang-datang malah bikin repot" omel Hyewon.
"Siapa yang menyuruhmu mengganti password?" Yena merebahkan dirinya disebelah Hyewon yang duduk selonjor di sofa.
"Awas sana. Sempit."
"Sempit bagaimana? Badanmu itu sebesar lidi. Tidak pantas kau mengatakan sofanya sempit."
"Badanmu seperti tidak sebesar lidi juga. Dasar kerempeng" cibir Hyewon. "Mandi sana. Kau bau."
"Wangi begini dibilang bau. Aku sudah mandi tadi di rumah Yuri."
"Sudah mandi? Jangan-jangan kalian-"
"Apa?"
"Kau tanam benih?"
"Enak saja. Aku tidak mau dan tidak akan pernah melakukannya sebelum hubungan kami sudah sah secara agama. Aku selalu ingat jika aku punya saudara perempuan. Bagaimana jika saudaraku juga diperlakukan seperti itu akibat dosaku pada perempuan lain?"
"Seumur-umur baru kali ini kau bicara manis padaku."
"Jangan mengada-ada ya."
"Meskipun begitu aku tetap sayang padamu."
"Aku juga sayang padamu."
Kalian berharap itu yang mereka katakan? Sayangnya sama sekali tidak.
S A L A H B E S A R
Tolong abaikan dua dialog diatas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Teacher
Ficción GeneralKang Hyewon tak pernah merasa nyaman dan dekat jika dihadapkan pada anak-anak meskipun profesinya adalah seorang guru. Tapi itu tak berlaku ketika ia mengenal Wonyoung, gadis kecil si pemilik senyum cerah dengan gigi kelincinya. Tanpa disadari, beni...
