Naruto selalu terlibat dengan perjodohan yang direncanakan ibunya. Membuatnya begitu lelah harus menghadapi masalah yang sama. Entah apa yang membuat ibunya begitu memaksa dirinya agar menikah. Itu merupakan suatu hal yang menyebalkan baginya.
Naru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yakatabune Hamadaya, Adachi.
Tidak dapat disembunyikan begitu saja rasa khawatir itu. Naruto terperangah ketika melihat kakeknya duduk di meja yang sama dengan ibunya dan Hinata. Rasa kesal di dalam dirinya pun semakin menjadi, belum lagi dia berpikir kalau ini memang rencana ibunya. Ah, sungguh sesuatu yang benar-benar menyebalkan, semakin hari orang-orang di sekitarnya ikut campur mengenai hidupnya.
"Sial! Seharusnya aku berada di sana." geramnya kesal. Sasuke melirik dari ujung matanya, sembari berdecak lidah. Pemuda itu juga tidak kalah kesal karena harus mengikuti kemauan Naruto untuk ikut bersama.
"Kau bisa saja masuk di antara mereka. Lalu menghancurkan acara seperti biasanya," Naruto terlihat acuh tak acuh padanya. Sudah pasti kalau temannya itu lebih mengkhawatirkan gadis yang tengah duduk santai di sana. "Aku yakin mereka tidak berbicara dengan serius. Coba kau perhatikan ekspresi tidak nyaman ibumu, sepertinya dia juga tidak ingin kakekmu berada di sana."
"Mari kita tunggu, aku bisa menebak satu jam lagi mereka akan selesai. Kau ingin tetap di sini? Bagaimana jika ibumu atau mungkin kakekmu menyadari kau berada di sini?" Sasuke menatap datar ke depan. Naruto menghela napas, dia juga tidak ingin menambah masalah yang merepotkan.
Dia memilih berbalik, sembari menggerutu kesal. Namun Sasuke tidak mempermasalahkan sifat pemuda itu. Jelas sekali kalau temannya itu begitu takut kalau tiba-tiba Hyuuga Hinata menceritakan semuanya, belum lagi di sana ada Jiraiya. Entah bagaimana murkanya pria tua itu nanti, sifat Naruto yang terkadang menyebalkan dan kelewat batas. Mungkin bisa saja dia membuat keributan atau mungkin menenggelamkan kapal sekarang ini.
Hampir satu jam lebih mereka ternyata menunggu. Tebakan Sasuke meleset, ternyata mereka harus menunggu selama dua jam. Beruntung Naruto tidak mengomel, meskipun dia tahu kalau pemuda itu sedang menahan rasa kesalnya.
Mereka berada dibagian awak kapal. Tempat yang paling bagus untuk melihat siapa saja yang baru keluar dari sana. Kapal berhenti berlabuh ke awal. Seingat Naruto, Hamadaya biasanya memiliki rute persiar Sungai Sumidagawa dan Odaiba. Namun sepertinya kali ini rute tersebut hanya berada di sekitar tempat kapal biasa berlabuh.
Mungkin ini ulah kakeknya, pikir Naruto. Memungkinkan baginya berbicara dengan Nakhoda kapal. Ya, pria itu memiliki segalanya. Bahkan bisa membungkam mulut para pejabat hanya dengan uang.
"Itu mereka." Sasuke bersuara agak pelan, beruntung masih di dengar olehnya. Keluar dari kapal, Jiraiya disambut oleh dua pengawal setianya. Ibunya bahkan ikut pulang bersama dengan kakeknya lalu meninggalkan Hinata yang berada di dekat pintu kapal.
"Aku hanya bisa menemanimu sampai di sini, karena aku masih memiliki urusan. Jadi, sampai jumpa." Sasuke menepuk bahunya, buru-buru loncat dari kapal yang menghubungkan langsung dengan jembatan kecil. Dia tahu, pasti temannya itu akan menarik dirinya kembali.
Naruto menghela napas, memandang kepergian temannya itu. Sekarang yang perlu dilakukannya adalah menghampiri gadis itu. "Hei," gadis itu menoleh ke arahnya. Hinata tersentak karena kehadiran pemuda itu. "Kau baik-baik saja?" tanya Naruto.