Renjun menyiapkan makan malam dengan canggung saat melihat Jeno dan Jaemin duduk di meja makan bersamaan. Kedua Lee bersaudara itu berhasil membuat Renjun sedikit banyak terguncang karena ciuman tiba-tiba yanh mereka berikan. Dengan sedikit kaku, Renjun menata makanan di atas meja dan kegugupannya bertambah saat menyadari Jaemin menatapnya sembari tersenyum lebar.
"Selamat makan" ucap Renjun menunduk singkat dan mulai mendudukan dirinya di sebelah Haechan.
Mereka makan dengan tenang tanpa kehadiran Tuan Lee. Namun, ketenangan tersebut tidak bersangsung lama sebab secara Haechan mulai merengek.
"Renjun-ie, ini terlalu pedas"
Renjun menatap pada sup tahu dengan kacang kedelai kemudian mencicipinya sebentar.
"Ah, maaf Haechan. Aku terlalu banyak memasukkan cabai" ujar Renjun begitu merasakan pedas menyapa lidahnya.
"Mau aku buatkan makanan lain?" tawar Renjun
"Tidak perlu, aku masih bisa memakannya" jawab Haechan sembari menampilkan senyum.
Mereka melanjutkan acara makan malam tersebut, lantas Renjun segera bangkit untuk membersihkan piring kotor bekas mereka makan. Ia tidak menyadari tatapan menusuk yang Mark lontarkan kepada Jaemin sepanjang mereka makan.
"Ada apa?" tanya Jeno setelah Renjun sudah sibuk dengan piring kotornya, menyadari perubahan raut wajah Mark.
"Tidak ada" bohong Mark
"Hyung menyukai Renjun juga?" pertanyaan Jaemin tentu membuat Haechan dan Jeno terkejut.
"Apa maksudmu?" Jeno bertanya pada Jaemin sebelum mendengar jawaban Mark.
"Aku menyukai Renjun– tidak, aku mencintainya." ucap Jaemin tegas.
Matanya menatap tajam pada Mark yang tengah mengeraskan rahang miliknya.
"Sejak kapan?" Jeno kembali bertanya
"Tidak tahu kapan tepatnya, tapi setiap melihat dirinya, aku merasa bahagia dan aku tidak suka saat dia jauh dariku atau tertawa bersama oranglain" jelas Jaemin
Jeno mendengarkan dengan seksama penuturan Jaemin. Sementara Mark menautkan dua alis entah memikirkan apa. Dan Haechan hanya diam mendengarkan obrolan saudaranya.
"Mau bersaing dengan sehat?" celetuk Jeno yang langsung mendapat atensi dari ketiga pria lainnya yang ada di meja tersebut.
"Tentu, siapa saja berjak mendekati Renjun dan mendapatkan atensinya" jawab Haechan yang sedari tadi hanya diam.
"Kalian tidak punya tugas kuliah?" suara Renjun mencairkan ketegangan yang terjadi di meja tersebut.
"Ada, Renjun bantu aku mengerjakan tugas Prof. Park, ya?" ucap Haechan yang langsung dibalas anggukkan oleh pria mungil tersebut.
"Jeno, Jaemin, jangan keluar atau begadang karena kalian besok kuliah pukul tujuh. Mark hyung jangan fokus pada organisasi saja, kau sudah tingkat akhir, segera selesaikan proposal untuk tugas akhirmu." ucap Renjun sambil berkacak pinggang yang justru terlihat lucu di mata para pria tersebut.
Haechan menarik pelan lengan Renjun menuju kamarnya. Renjun segera menyamankan posisi duduk di karpet bulu yang ada di kamar tersebut, sementara Haechan mencari buku miliknya.
Setelah menemukan buku miliknya, Haechan segera duduk di samping Renjun sambil membuka laptopnya. Keduanya segera larut dalam tugas milik Haechan. Dengan sabar Renjun menjelaskan bagian yang tidak Haechan pahami dan membantu menemukan referensi yang tepat untuk pria disampingnya tersebut.
Renjun menyandarkan kepalanya pada tempat tidur sambil menunggu Haechan menyelesaikan tugasnya. Sayangnya, semakin lama matanya menjadi berat, dan hanya hitungan menit hingga Renjun terlelap.
Haechan yang sadar tidak ada suara Renjun, segera menoleh dan tersenyum menatap wajah menggemaskan pria mungil itu. Jemari Haechan terulur mengusap pelan kepala Renjun dan detik selanjutnya ia mengecup kening pria di depannya tersebut.
"Renjun, kamu berhasil mencuri hati kami, jadi kamu harus bertanggung jawab" monolog Haechan sembari mengusap pelan wajah Renjun.
"Tadinya, aku pikir hanya aku yang bisa terus menempel kepadamu dan tidak ada yang bisa mencuri atensi darimu sebanyak aku. Namun aku salah menduga, bahwa saudaraku juga menginginkan hal yang sama." Haechan kembali bersuara meski Renjun masih memejamkan mata.
Tidak banyak yang tahu, bahkan Renjun sendiri tidak mengetahui bahwa Haechan yang sering manja di hadapannya adalah seseorang yang memiliki mata tajam saat berbicara dengan serius. Lee bersaudara bahkan tidak tahu bahwa Haechan seserius itu bersama Renjun.
Haechan menghentikan usapan di rambut Renjun saat pria itu menggeliat pelan dan mengerjapkan mata, menatap Haechan dengan raut bingungnya.
"Kau sudah selesai?" tanya Renjun yang hanya dibalas anggukkan oleh Haechan.
Renjun kembali memejamkan mata dan menyamankan diri bersandar pada sisi tempat tidur Haechan.
"Sudah mau tidur?" tanya Renjun dengan mata yang masih terpejam.
Haechan terkekeh kecil, tangannya terulur mencubit pelan pipi Renjun yang membuat pria mungil itu mengerucutkan bibirnya lucu. Dan tanpa komando, Haechan mengecup bibir tersebut yang langsung membuat Renjun membuka mata.
"Jangan begitu, kamu menggemaskan sekali, aku jadi ingin terus menciummu" ucap Haechan santai, membuat Renjun menahan napas tegang di temoatnya meski warna merah mulai menjalar di pipinya.
"Renjun, beri aku izin menyukaimu, ya?" ucap Haechan
Renjun masih diam mencoba memproses apa yang baru saja ia dengar. Otaknya mendadak beku sedang tubuhnya bagai patung, tidak bergerak.
"Renjun lihat aku" Haechan menarik pelan tubuh Renjun agar menatap ke arahnya.
"Aku menyukaimu— ah, tidak, aku mencintaimu, Huang Renjun. Jadi, beri aku izin untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku juga." ucap Haechan dengan tatapan serius membuat Renjun tidak berani menatap mata Tuan Mudanya tersebut.
Renjun baru kali ini melihat Haechan dengan pandangan serius dan hal itu cukup mengejutkan mengingat Haechan selama ini lebih banyak menunjukkan sisi manjanya.
"Jawab aku, Renjun"
"A-aku" Gugup Renjun
"Kalaupun kau tidak meminta izin, aku akan tetap menyukaimu dan tidak ada yang bisa menghentikannya" tutur Haechan.
"Tapi kenapa" gumam Renjun yang masih mampu didengar Haechan.
"Karena kamu bahkan sudah mencuri perhatianku saat pertamakali menginjakkan kaki di rumah ini. Renjun, bukankah tidak ada alasan kenapa seseorang jatuh cinta? Aku menyukaimu. Aku menyukai bagaimana kerja keras, ketulusan, dan apapun yang ada di kamu. Aku menyukainya" jelas Haechan.
"Kamu adalah cinta pertama bagiku. Aku tidak pernah merasa begitu mencintai seseorang sebelum ini." ucap Haechan
Semntara Renjun hanya diam dengan wajah menunduk. Ia terkejut dengan pernyataan Haechan yang tiba-tiba. Meskipun tidak bohong jika hatinya berteriak bahagia, tapi di lain sisi ia juga merasa khawatir. Haechan memang yang paling dekat dengannya dibanding Lee bersaudara yang lain. Karenanya Renjun takut apabila pernyataan cinta Haechan justru mencipta jarak antar keduanya.
Renjun juga cukup tahu diri untuk tidak mencintai majikannya, sebab bagaimanapun juga statusnya hanya asisten keluarga Lee. Mendapatkan cinta dari Tuan Lee saja sudah membuatnya begitu bersyukur, dan sekarang ia mendengar seseorang yang paling dekat dengannya menyatakan cinta. Renjun bahkan tidak pernah bermimpi sebelumnya. Ia hanya fokus bekerja keras supaya tidak mengecewakan Tuan Lee.
Dan sekarang Renjun tidak tahu harus menjawab atau menghadapi Haechan seperti apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVED
FanfictionHanya tentang Renjun yang menjadi semesta bagi sekitarnya. warn! bxb
