Batas Kesabaran

4.8K 488 67
                                        

"Apa lagi ini?" tanya Gerald pada Bram.

"Dia kembali meminta uang, Tuan," ucap Bram merujuk pada Ezra yang kembali meminta uang setelah semua uang yang sudah Ezra dapatkan setelah mendapatkan uang dalam nominal besar terakhir kali.

Gerald memicingkan matanya. "Kita kesampingkan dulu masalah ini, apa Evelin sudah memberikan kabar?" tanya Gerald.

"Kabarnya, lusa Evelin akan datang ke mansion sembari membawa hasil tesnya, Tuan," jawab Bram membuat Gerald mengangguk.

Sebenarnya, saat ini Gerald sudah sangat tidak sabar mendengar kabar dari Evelin, tetapi Gerald berusaha untuk ebih bersabar. Toh, pada akhirnya ia sendiri akan mengetahuinya. Sekarang, Gerald harus memikirkan masalah pekerjannya. "Apa ada pesanan dalam jumlah besar yang kita terima?" tanya Gerald.

"Benar, Tuan. Salah satu klan dari Kanada memesan dua ratus senjata api, tetapi dengan spesifikasi dan model yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hari ini, mereka meminta untuk bertemu untuk mendiskusikan model dan harganya," jawab Bram.

"Hari ini? Apa mereka meminta untuk melakukan pertemuan sembari melakukan makan malam?" tanya Gerald lagi.

"Benar, Tuan. Sepertinya, mereka ingin menjalin hubungan pekerjaan yang lebih jauh daripada ini. Tapi, ada sesuatu yang rasanya akan membuat situasi menjadi kurang nyaman dalam pertemuan nanti, jika Tuan berniat untuk membawa Nyonya turut serta dalam acara makan malam tersebut," ucap Bram membuat Gerald menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Apa yang kau ketehaui?" tanya Gerald.

"Saya mendengar jika pihak mereka berusaha untuk mencari informasi mengani wanita seperti apa yang disukai oleh Tuan. Sepertinya, mereka telah mendapatkan informasi bahwa wanita bisa menjadi barang untuk membuat kesepakatan dengan Tuan. Meskipun sudah tahu jika Tuan sudah memiliki istrinya, mereka tetap akan menawarkan seorang wanita nanti malam sebagai bentuk kesepakatan," jawab Bram dengan hati-hati.

Apa yang dilakukan oleh Bram ini bukannya tanpa alasan. Kini, Bram sadar jika Gerald sangat sensitif jika itu berkaitan dengan Viola. Rasanya, Bram mencurahkan semua perhatian dan pemikirannya terkait dengan Viola. Karena itulah, masalah seperti ini sangat riskan memicu kemarahan Gerald yang tentu saja tidak pernah berakhir dengan baik. Gerald yang mendengar penjelasan Bram pun menelengkan kepalanya. "Kalau begitu, aku harus membawa istriku itu untuk makan malam bersama dengan mereka. Mari kita lihat, apakah mereka memang sebodoh itu," ucap Gerald sembari menyeringai.

Sudah lama Gerald tidak bermain dengan nyawa orang lain, dan tidak membasahi tangannya dengan darah. Sepertinya, ini sudah waktunya Gerald bemain-main dengan hal itu setelah sekian lama. Melihat aura yang tidak mengenakkan menguar dari sang tuan, Bram pun merasa cemas. Bram yakin, jika aka nada hal buruk yang terjadi nanti malam. Rasanya, Bram ingin melarang Viola untuk turut serta dalam pertemuan makan malam yang bisa jadi berbahaya itu. Namun, Bram tidak bisa melawan apa yang sudah ditetapkan oleh Gerald. Sebagai seorang bawahan yang setia, hal yang bisa dilakukan oleh Bram adalah patuh.






***





"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Gerald pada Viola yang memang terlihat tidak nyaman saat duduk di kursi yang sudah disediakan.

Kini, Gerald dan Viola memang sudah berada di sebuah restoran mewah di mana mereka akan malam bersama dengan rekan bisnis baru Gerald dari Kanada. Tentu saja, rekan bisnis Gerald sudah berada di meja yang sama dan mengamati interaksi Gerald dan Viola. Setelah memastikan jika Viola duduk dengan nyaman, Gerald pun mengangkat pandangannya dan bertemu tatap dengan Hans—rekan bisnis Gerald—yang masih saja mengamati Viola. "Aku tau, jika istriku ini memang cantik. Tapi, aku tidak senang jika kau terus memandanginya seperti itu," ucap Gerald dengan nada tajam menusuk.

Gerald's ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang