"Apa Nyonya tidak enak badan?" tanya seorang pelayan pada Viola yang memang terlihat agak pucat.
Viola menatap dirinya di pantulan cermin dan menggeleng. Ia pun meminta pelayan untuk meriasnya agak tidak terlihat terlalu pucat. Sebenarnya, tubuh Viola memang terasa tidak nyaman. Namun, sebisa mungkin Viola tidak boleh membuat Gerald terganggu. Viola tidak mau sampai Gerald berpikir jika dirinya merepotkan dan pada akhirnya melakukan sesuatu yang tentu saja tidak bisa ditebak oleh Viola. Kali terakhir, Viola sudah bisa membuat Gerald senang dengan reaksinya terhadap rekan bisnisnya yang berusaha melakukan sesuatu yang menjijikan. Setidaknya, Viola harus tetap membuat suasana hati Gerald baik, dan itu bisa membuat Viola terhindar dari kemarahan Gerald dan semua aksi gilanya. "Tidak, aku hanya merasa lelah saja," jawab Viola lalu segera turun menuju ruang makan di mana Gerald sudah menunggu di sana.
Seperti biasa Viola dan Gerald sarapan bersama. Entah mengapa, Viola merasa jika makin hari, Gerald memperlakukannya dengan sangat lembut. Seakan-akan, Gerald tengah memerankan peran seorang suami idaman yang memperlakukan istrinya dengan penuh kasih. Tentu saja, secara alami, Viola berpikir jika dirinya harus mengimbangi apa yang dilakukan oleh Gerald. Viola berperan sebagai seorang istri manis yang penurut dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Gerald dengan sangat patuh. Viola sadar, bahwa tipe wanita seperti ini yang sangat disukai oleh Gerald. Pada dasarnya, Viola memang tidak terlalu suka melawan. Jadi, Viola hanya bersikap seperti dirinya sendiri, walaupun harus menekan nuraninya yang terluka mengingat masa lalu yang pernah terjadi. Di mana Gerald melukai hatinya dengan bertindak kejam.
"Hari ini, aku akan pulang larut malam. Tidak perlu menungguku pulang. Tidurlah lebih awal, dan nikmati harimu dengan cara yang kau sukai," ucap Gerald setelah menyelesaikan sarapannya dan beranjak untuk meninggalkan istrinya setelah mengecup keningnya dengan lembut.
Setelah itu, Viola yang ditinggal sendiri memilih untuk meninggalkan sarapannya yang hampir tidak tersentuh. Hari ini, Viola akan menjelajah mansion luas Gerald ini. Meskipun sudah tinggal cukup lama di sini, Viola belum pernah berjalan-jalan menyusuri mansion keluarga Dalton. Sebelumnya, Viola masih berpikir jika ini bukan tempatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Viola pun sadar akan satu hal. Status yang menempel pada dirinya sudah lebih dari cukup menunjukkan jika ini adalah tempatnya, rumahnya. Viola harus menerima hal itu, suka atau tidak. Benar, Viola harus menerima fakta ini sekalipun dirinya sama sekali tidak menginginkannya.
"Nyonya, Anda tidak bisa memasuki area itu," ucap seorang pelayan saat Viola akan memasuki salah satu sudut taman belakang.
Viola pun menoleh pada pelayan yang memang bertugas untuk mengikutinya. "Kenapa?" tanya Viola.
"Hanya pelayan dan pengawal yang ditugaskan, yang diperbolehkan memasuki arena tersebut, Nyonya," jawab pelayan itu sembari tersenyum tipis.
Viola lalu menatap jalan setapak yang menuju area taman yang memang agak temaram. Berbeda dengan area taman yang lainnya. Viola mengernyitkan keningnya sebelum bertanya, "Memangnya ada apa di sana? Kenapa aku tidak bisa masuk ke area itu?"
Pelayan itu kembali tersenyum, senyumannya lebih lebar daripada sebelumnya. Senyuman yang membuat kedua matanya menyipit lembut. Ia pun menjawab, "Itu hanya area taman biasa, Nyonya. Tapi, ada beberapa hewan peliharaan Tuan yang dikurung di sana. Hewan peliharaan itu agak sulit dijinakkan, hingga Tuan memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Sebaiknya, Nyonya tidak berusaha untuk mengetahuinya lebih jauh daripada ini. Karena mungkin saja, Tuan akan marah besar."
**
Viola menyingkap selimut yang sebelumnya ia kenakan dan turun dari ranjang luas yang ia tiduri. Malam ini, ia sama sekali tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang sebelumnya ia dengar dari pelayan. Secara alami, Viola pun melangkah mendekat pada jendela dan sedikit membuka gorden yang menutupi jendela yang mengarah tepat pada area taman belakang yang tadi siang ia singgahi. Area taman yang tidak bisa dimasuki Viola tadi, terlihat gelap. Viola pun mengingat apa yang dikatakan oleh pelayan, bahwa area taman tersebut hanyalah area taman biasanya hanya saja tempat tersebut digunakan untuk mengurung hewan peliharaan Gerald. Entah mengapa, Viola merasa jika ada hal yang disembunyikan oleh pelayan tersebut.
Viola menghela napas. Ia berniat untuk kembali berbaring, setidaknya itu bisa membuatnya mengantuk nantinya. Namun, saat itu Viola melihat Gerald dan Bram yang memasuki area taman yang tidak boleh Viola masuki. Viola mengernyitkan keningnya. Padahal, Viola masih ingat dengan jelas bahwa Gerald mengatakan jika dirinya akan pulang larut malam. Lalu kenapa Gerald pulang di jam ini, dan malah memasuki area taman itu? Viola pun tanpa sadar segera mencari jubah tidur untuk melapisi gaun tidur yang ia kenakan dan segera turun dari kamarnya.
Viola benar-benar bersyukur karena dirinya sama sekali tidak bertemu dengan pelayan atau pengawal satu pun. Saat tiba di bagian taman yang gelap, Viola menghentikan langkahnya. Jujur saja, Viola merasa ragu. Namun, pada akhirnya Viola kembali melangkah menyusuri jalan setapak yang membawanya ke dalam area taman yang cukup tersembunyi tersebut. Viola pikir jika dirinya akan menemukan beberapa pengawal di sana, tetapi Viola tidak melihat siapa pun selain hamparan tanah dengan rumput yang dipangkas dengan rapi. Viola mengernyitkan keningnya dan melangkah untuk melihat area tersebut dengan lebih jelas. Saat dilihat, ternyata ada sebuah lubang dengan tangga menurun di sana. Sepertinya, seseorang yang sebelumnya sudah masuk ke sana, lupa untuk menutup kembali lubang yang difungsikan untuk memasuki area tersebut. Karena Viola melihat sebuah bagian pintu yang ternyata memiliki rumput yang tumbuh di permukaannya. Jika pintu itu terpasang, sudah dipastikan jika pintu tersebut akan menyaru dengan taman.
Viola menatap lubang tersebut, ukurannya cukup besar. Tiga sampai empat orang pria dewasa bisa masuk secara bersamaan. Dengan ragu, Viola pun turun. Viola sendiri tidak mengerti. Apa sebenarnya yang saat ini ia lakukan. Pada dasarnya, Viola tidak memiliki alan melakukan hal ini, selain merasa penasaran dengan hewan peliharaan seperti apa yang dipelihara oleh Gerald, hingga membutuhkan perlakuan khusus, hingga mengurungnya dengan ruangan yang sangat aneh seperti ini. Saat menapakkan kaki di area yang datar. Viola merasakan hawa lembab dan dingin yang membuatnya teringat dengan masa lalu yang cukup mengerikan, di mana dirinya dikurung oleh Gerald di sebuah ruangan yang membuatnya terisolasi dari dunia luar.
Viola pun melangkah mengikuti nalurinya, dan pada akhirnya melihat sebuah pintu yang terbuka. Karena area tersebut gelap, Viola tidak bisa melihat apa yang ada di balik pintu tersebut. Viola pun melangkah mendekati ruangan tersebut, dan merasakan dadanya yang sesak bukan main saat melihat sebuah lorong panjang dengan pintu-pintu besi yang berada di kedua sisi lorong. Dengan tangan bergetar, Viola mendekat pada salah satu pintu dan membuka sebuah celah yang bisa dibuka dari pintu besi tersebut. Hal yang Viola lihat amatlah mengejutkan. Viola melihat seorang wanita yang tergolek tidak berdaya dengan kaki terikat lantai dan leher yang terikat belenggu. Ia benar-benar terlihat seperti hewan peliharaan.
"Argh!"
Viola berjengit dan menoleh ke ujung lorong di mana suara erangan seorang pria terdengar olehnya. Alam bawah sadar Viola tahu jika ini bukan hal yang baik. Namun, kedua kakinya melangkah dengan cepat menuju sumbr suara, seakan-akan memaksa Viola untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin Viola ketahui. Lalu Viola tiba di sebuah pintu yang agak terbuka, dan menunjukkan sebuah ruangan yang anehnya lebih terang daripada ruangan yang sebelumnya Viola lihat. Viola mengintip, dan bisa melihat siluet Gerald dan Bram yang tampaknya tengah melakukan sesuatu di dalam ruangan tersebut.
"Kenapa kau menjerit? Apa kau merasa kesakitan?"
Lalu Viola kembali mendengar suara jeritan penuh kesakitan saat Gerald mengayunkan sebuah palu besi yang segera membuat kedua kaki Viola bergetar. Secara kasar, saat ini Viola tentu saja sudah bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi. Gerald tengah menyiksa seseorang. Viola tidak bisa tetap di sana lebih lama lagi. Namun, Viola sama sekali tidak bisa bergerak. Kedua kakinya terasa seperti di paku, dan kedua matanya tertuju pada ruangan tersebut. Gerald berkata, "Baik, sekarang aku akan memotong kedua tanganmu yang sudah sangat berdosa ini." Disaat Gerald sedikit bergerak, saat itulah Viola bisa melihat sosok pria yang sudah babak belur dan berlumuran darah. Namun, Viola masih mengenal siapa pria itu. Seketika Viola menjerit histeris dan pandangannya menggelap saat dirinya kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
.
.
.
Tinggalkan jejak dan jangan lupa follow ig DIFIMI_ akan ada info penting yaw ehe
KAMU SEDANG MEMBACA
Gerald's Obsession
Romance[Karena mengandung unsur DEWASA maka SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE. FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Biar nyaman bacanya😄] Viola adalah opium yang membuat Gerald kecanduan. Viola adalah vodka yang membuat Gerald mabuk. Viola adalah gadis yang membuat Gerald t...
