"Itu kontraksi palsu. Sepertinya, kelahiran penerusmu akan lebih cepat dari prediksi awalku," ucap Evelin pada Gerald yang tengah mengamati Viola yang tampak tidur dengan tenang.
Karena cemas dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Viola, pada akhirnya dengan bantuan Bram, Evelin membawa Viola ke rumah sakit. Setelah memeriksa keadaannya secara saksama dengan peralatan medis lengkap, dan Evelin bisa bernapas lega saat dirinya tidak menemukan hal yang salam pada kandungan Viola. Hanya saja memang, jika sudah ada tanda kontraksi palsu seperti tadi, maka proses persalinan sudah dipastikan akan datang tidak lama lagi. Begitu Evelin selesai memeriksa, tak lama Gerald pun datang setelah meninggalkan pekerjaannya. Evelin yang melihat kedatangan itu tentu saja mengulum senyumnya. Rasanya sangat asing melihat Gerald yang memiliki seseorang yang menjadi prioritas dalam hidupnya. Viola benar-benar membawa dampak yang begitu besar bagi kehidupan Gerald.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Gerald.
Evelin melirik pada Gerald sebelum membenarkan letak selimut yang dikenakan oleh Viola. "Tentu saja kau harus bersiaga. Jika masih ada pekerjaan yang penting, aku pikir kau harus segera menyelesaikannya dalam beberapa hari ini, agar fokusmu nantinya tidak terpecah saat menemani Viola menuju proses persalinannya. Untuk Viola sendiri, lebih baik tetap tinggal di rumah sakit hingga masa persalinannya. Karena aku sudah tidak bisa lagi memperkirakan kapan ia akan melahirkan," ucap Evelin.
Gerald pun mengangguk mengerti. "Kalau begitu, aku akan menyebar bawahanku untuk menjaga lorong. Selain itu, pastikan jika kau menjaga istri dan calon anakku dengan baik saat aku masih mengurus pekerjaanku," ucap Gerald lagi-lagi membuat Evelin menahan diri untuk tersenyum.
Evelin tentu saja mengangguk. "Aku akan menjaganya sendiri. Tidak perlu cemas. Pastikan saja jika pekerjaanmu selesai, dan tidak akan mengganggumu saat menemani Viola nantinya," ucap Evelin.
Setelah bertukar beberapa patah kata lagi, Gerald pun berbalik pergi dengan diikuti oleh Bram yang ditatap dengan penuh permusuhan oleh Evelin. Bram juga memberikan tatapan tajam, sangat jengkel dengan tingkah Evelin yang selalu saja membuatnya kesal. Memang benar, terkadang Bram yang tergoda untuk mengejek Evelin. Namun, Evelin bukan lawan yang mudah baginya. Bram menghela napas dan memilih untuk fokus membantu sang tuan untuk mengurus semua pekerjaannya. Baik itu pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan normalnya sebagai seorang pengusaha, atau sebagai seorang bos dalam jaringan penjualan senjata illegal.
**
"Makan dulu," ucap Evelin sembari meletakkan nampan berisi makan malam untuk Viola.
Viola yang melihat makanan sehat pada nampan itu hanya bisa menghela napas. Tentu saja hal itu mengundang Evelin untuk bertanya, "Ada apa?"
"Aku tidak berselera. Rasanya ingin makan telur orak-arik sayuran buatan Gerald saja," ucap Viola.
"Ei, mana mungkin Gerald mau masuk ke dapur dan memasaknya," keluh Evelin yang mulai berpikir bagaimana caranya ia meminta Gerald nanti untuk memenuhi keinginan istriya ini.
Viola yang mendengarnya menatap Evelin dengan bingung dan berkata, "Tapi saat aku memintanya, Gerald tidak pernah menolak. Ia bahkan selalu memasak makanan yang aku inginkan."
Mendengar hal itu Evelin pun membulatkan matanya dan tersedak ludahnya sendiri. "Apa? Gerald memasakan? Wah, sungguh gila," ucap Evelin masih tampak tidak percaya.
Viola mengangguk. "Masakannya sangat lezat!" seru Viola merasa sangat senang saat teringat rasa lezat yang membasuh lidahnya.
Evelin pun terkekeh. Rasanya, baru saja kemarin ia melihat Viola yang menangis histeris meminta untuk dilepaskan dari Gerald, lalu melihat Gerald yang memperlakukan Viola seenaknya. Namun kini semuanya sudah berubah. Baik Viola dan Gerald sama-sama sudah memiliki ruang di hati mereka. Ruang untuk saling menerima dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk satu sama lain. Terutama Gerald, Evelin merasakan perbadaan yang begitu signifikan darinya. Setidaknya, kini Gerald lebih terasa seperti manusia dan bisa memperlakukan istrinya dengan semestinya. "Ya, ya, aku percaya. Tapi untuk sekarang, makan yang ada dulu. Gerald dan Bram masih mengurus pekerjaan yang harus mereka kerjakan. Setelah kembali nanti, kamu bisa memerintahkan apa pun pada Gerald," ucap Evelin.
"Bolehkah?" tanya Viola sembari tersenyum.
Evelin mengangguk dan tertawa. "Tentu saja. Jika perlu, buat dia kesulitan," ucap Evelin membuat Viola pun ikut tertawa.
"Ah, sekarang makan dulu. Aku tinggal sebentar ya. Aku harus memeriksa pasien lain dulu," ucap Evelin dan dijawab oleh anggukan oleh Viola.
Evelin pun beranjak pergi untuk turun beberapa lantai dari lantai sepuluh yang difungsikan sebagai lantai di mana pasien VIP dirawat. Sepanjang perjalanan di lorong lantai sepuluh, Evelin bisa melihat pengawal yang ditempatkan oleh Gerald di setiap sudut lantai. Tentu saja itu untuk menjaga dan memastikan jika keberadaan Viola di rumah sakit tersebut sangat aman. Evelin dengan tenang menjalankan tugasnya sebagai dokter dan memeriksa data-data terbaru para pasien umum. Setelah memeriksanya, Evelin sedikit berdiskusi dengan rekan sesama dokternya yang akan menangani sebuah operasi sulit. Hanya butuh waktu dua puluh menit, dan Evelin pun sudah selesai dengan tugasnya. Ia memutuskan untuk memeriksa kondisi Viola.
Namun begitu ke luar dan menginjak kakinya di lantai sepuluh, Evelin dikejutkan dengan para pengawal yang tergeletak tak sadaran diri dengan kepala yang berlumuran darah. Tentu saja dengan panik Evelin segera berlari menuju ruang rawat mewah di mana Viola berada. Ia membuka pintu kamar Viola dengan panik, dan berlari untuk melihat Viola yang berbaring di atas ranjang dengan tenang. Evelin melangkah tanpa berpikir, dan saat menjauh dari pintu, Evelin baru merasakan ada orang lain di dalam ruangan tersebut. Ketika Evelin berbalik, kepalanya sudah lebih dulu dihantam oleh sesuatu yang keras hingga jatuh tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur deras dari luka bekas hantaman pada kepalanya.
**
"Sialan!" seru Gerald saat melihat semua bawahannya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri, dan beberapa sudah tidak bernyawa akibat kehabisan darah di lorong rumah sakit.
Gerald tentu saja segera mendekat menuju ruang rawat Viola dengan perasaan yang campur aduk. Bram mengikutinya dengan perasaan yang sama tidak enaknya. Begitu tiba di sana, hal yang mereka lihat adalah darah yang tercecer di atas lantai, dan seseorang yang berbaring di atas ranjang rawat dengan diselimuti selimut yang dirembesi darah. Dengan cemas, Gerald menyingkap selimut dan melihat jika orang yang diselimuti itu adalah Evelin dengan kepalanya yang masih mengucurkan darah. Gerald berbalik dan segera menghubungi orang-orangnya untuk mencari keberadaan Viola. Sementara itu, Bram segera mendekat pada Evelin yang tampak begitu pucat.
Ia menahan pendaharan padan kepala dokter cantik itu dan menekan tombol untuk memanggil tim medis. Tentu saja Evelin harus segera ditanangani sebelum terlambat. Saat Bram masih berusaha untuk memanggil tim medis, Evelin pun tersadar dan menangis pelan. Tubuh mungilnya bahkan bergetar hebat. Bram menenangkan Evelin dengan memeluknya dengan erat. Pandangan Bram tampak menajam dan menggelap. Dalam hatinya Bram bersumpah akan memburu orang yang sudah melakukan hal ini pada Evelin. Ia akan membalas apa yang sudah mereka lakukan pada Evelin berkali-kali lipat. Ya, Bram bersumpah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gerald's Obsession
Cinta[Karena mengandung unsur DEWASA maka SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE. FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Biar nyaman bacanya😄] Viola adalah opium yang membuat Gerald kecanduan. Viola adalah vodka yang membuat Gerald mabuk. Viola adalah gadis yang membuat Gerald t...
